1. News
  2. Berita
  3. Menilik Kampung Korod, Wajah Agraris yang Bertahan di Tengah Kawasan Industri Bekasi

Menilik Kampung Korod, Wajah Agraris yang Bertahan di Tengah Kawasan Industri Bekasi

menilik-kampung-korod,-wajah-agraris-yang-bertahan-di-tengah-kawasan-industri-bekasi
Menilik Kampung Korod, Wajah Agraris yang Bertahan di Tengah Kawasan Industri Bekasi

leuit (bangunan lumbung padi tradisonal) yang dipertahankan oleh warga Kampung Korod | Wikimedia Commons | Uzi Herang


Kawan GNFI tentu sudah tidak asing dengan Kabupaten Bekasi yang identik dengan kawasan industrinya, terutama Cikarang yang sudah lama jadi magnet investasi di Jawa Barat. Nilai investasi yang masuk ke daerah ini pun tidak main-main, rata-rata tidak kurang dari Rp50 triliun.

Angka tersebut disampaikan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi, Endin Samsudin, saat menerima kunjungan kerja Panitia Kerja Rancangan Undang-Undang Kawasan Industri Komisi VII DPR RI.

“Kalau melihat nilai investasi di Kabupaten Bekasi yang rata-rata tidak kurang dari Rp50 triliun, mestinya dari APBN juga ada dana bagi hasil kepada daerah,” ujar Endin, sebagaimana dilansir dari Portal Jabar.

Namun di bagian selatan Kabupaten Bekasi, tepatnya di Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, ada Kampung Korod yang menyimpan wajah berbeda dari gambaran industri tersebut. Kampung yang dihuni sekitar 40 kepala keluarga ini masih dikelilingi hamparan persawahan dan menyimpan jejak budaya Sunda yang kental.

Selain itu, sebagian besar warga Kampung Korod menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan mengelola sawah masih menjadi aktivitas keseharian mereka.

Kehidupan Agraris yang Masih Bertahan

Salah satu jejak budaya Sunda yang paling terlihat di Kampung Korod adalah leuit, yaitu lumbung padi tradisional yang hingga kini masih dipertahankan oleh warga Kampung Korod. Bangunan ini jadi penanda kehidupan agraris masyarakat Sunda yang tetap hidup meski Kabupaten Bekasi terus berkembang sebagai kawasan industri.

Karakter khas ini pula yang membuat Kampung Korod dilirik dalam rencana penataan kawasan perdesaan di selatan Kabupaten Bekasi.

Dilansir dari Bekasikab, Rencana tersebut bermula dari gagasan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, soal penataan lima desa di Kecamatan Cibarusah dan Bojongmangu, yang disampaikan saat rapat paripurna Hari Jadi ke-76 Kabupaten Bekasi.

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Kecamatan Cibarusah, Wowo Fadillah, leuit punya nilai sejarah yang perlu dijaga dalam proses penataannya nanti.

“Leuit yang masih ada memiliki nilai historis dan budaya, sehingga dalam penataan nanti keberadaannya jangan sampai hilang, tetapi justru menjadi bagian dari karakter Kampung Korod,” ungkap Wowo.

Selain itu, Hamparan persawahan juga jadi potensi utama yang bisa dikembangkan tanpa menghilangkan fungsi aslinya sebagai lahan pertanian.

Meski begitu, upaya untuk mengembangkan potensi tersebut masih terdapat tantangan dan persoalan yang membutuhkan perhatian. Seperti pada saat musim kemarau panjang, warga Kampung Korod kesulitan mendapatkan air bersih karena sumur kerap mengering. Kondisi ini turut berdampak pada aktivitas pertanian mereka.

“Persoalan air bersih dan infrastruktur dasar menjadi tantangan yang harus diperhatikan, karena penataan bukan hanya soal memperbaiki wajah kampung, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi,” jelas Wowo.

Jalur Wisata sebagai Peluang Baru bagi Warga

Di tengah keterbatasan tersebut, warga Kampung Korod ternyata sudah punya gagasan sendiri untuk mengembangkan kampung mereka. Salah satunya lewat akses jalan yang direncanakan menjadi jalur penghubung sekaligus jalur wisata dan olahraga yang menyusuri kawasan persawahan.

Konsep ini mencontoh Lembur Pakuan, desa wisata budaya Sunda di Kabupaten Subang yang mengembangkan kampungnya tanpa meninggalkan akar agrarisnya.

Jalur ini rencananya akan dipadukan dengan potensi ekonomi warga lewat produk kuliner lokal seperti dodol, kerupuk, dan rengginang.

“Kalau konsep ini berjalan, kuliner khas warga bisa ikut berkembang dan menjadi bagian dari perjalanan wisata, sehingga penataan ini juga dapat membangkitkan sektor perekonomian masyarakat Kampung Korod,” kata Wowo.

Di ujung jalurnya juga sudah terdapat jembatan gantung hasil program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) 2026 yang bisa diajdikan sebagai salah satu titik tujuan wisata. Jalur ini sendiri direncanakan untuk menghubungkan Desa Ridogalih dengan Desa Wibawamulya, sehingga ikut mempermudah mobilitas warga selain mendukung sektor wisata.

Dengan demikian, rencana tersebut dapat membuat pengembangan Kampung Korod bisa berjalan beriringan dengan aktivitas warga yang sudah ada. Dan mereka tetap bisa bertani sembari ikut mengembangkan potensi wisata dan produk lokal.

Bagi Wowo, penataan Kampung Korod pada akhirnya diharapkan tidak menghilangkan karakter lokal yang selama ini jadi kekuatan kampung ini.

“Harapannya, Kampung Korod tetap memiliki jati diri sebagai kampung Sunda, lingkungannya terjaga, potensi wisatanya berkembang, kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, dan penataan ini pada akhirnya memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan warga,” pungkasnya.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Menilik Kampung Korod, Wajah Agraris yang Bertahan di Tengah Kawasan Industri Bekasi
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us