1. News
  2. Adventure
  3. Wanala Universitas Airlangga Angkat Potensi Wisata Desa Jampit Melalui Publikasi Ekspedisi Gunung Suket

Wanala Universitas Airlangga Angkat Potensi Wisata Desa Jampit Melalui Publikasi Ekspedisi Gunung Suket

wanala-universitas-airlangga-angkat-potensi-wisata-desa-jampit-melalui-publikasi-ekspedisi-gunung-suket
Wanala Universitas Airlangga Angkat Potensi Wisata Desa Jampit Melalui Publikasi Ekspedisi Gunung Suket

Oleh : Cholis Akbar
Wanala Universitas Airlangga

Wartapalaindonesia.com, FEATURE – Pada 23–26 Agustus 2026, Mahasiswa Pencinta Alam Wanala Universitas Airlangga memberangkatkan sembilan anggotanya untuk merealisasikan kegiatan Ekspedisi Suket Berdaya Adhirajasa.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gunung Suket, Desa Jampit, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Ekspedisi kali ini memiliki output berupa implementasi materi yang telah dipelajari oleh tim ekspedisi, meliputi manajemen perjalanan, navigasi darat, teknik membaca peta, hingga orientasi medan di jalur non-konvensional.

Hal tersebut juga disampaikan oleh Ketua Operasional kegiatan, Fikri Maulana, dalam pemberitaan Unair News. Ia menjelaskan bahwa pendakian ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan uji kompetensi teknik kepencintaalaman di lapangan nyata.  

Gunung Suket dipilih sebagai lokasi ekspedisi karena kondisinya yang masih relatif belum banyak terjamah oleh pendaki. Situasi ini sejalan dengan pemberitaan Universitas Padjadjaran yang menyebut bahwa Gunung Suket belum populer di kalangan pegiat alam dan belum memiliki jalur pendakian resmi.

Minimnya informasi mengenai jalur pendakian dan data pendukung lainnya juga menjadi salah satu alasan gunung tersebut dipilih dalam kegiatan ekspedisi Kembara Palawa Unpad pada 2020.

Dalam wawancara dengan salah satu anggota Wanala Universitas Airlangga yang mengikuti Ekspedisi Suket Berdaya Adhirajasa, Nur Alif, menjelaskan bahwa Gunung Suket dipilih karena masih belum terkomersialkan dan relatif jarang didaki.

Kondisi geografisnya yang dikelilingi beberapa gunung juga menjadi daya tarik tersendiri, karena dari puncak Gunung Suket pendaki dapat melihat sejumlah gunung lain di sekitarnya. 

Gunung Suket berada di kawasan Desa Jampit, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, yang memiliki karakter lanskap yang menarik.

Berdasarkan artikel IDN Times tentang Desa Jampit, Desa Jampit memiliki hamparan padang rumput hijau yang dikelilingi perbukitan dan pegunungan.

Kawasan ini berada pada ketinggian sekitar 1.100–1.600 meter di atas permukaan laut sehingga memiliki udara yang sejuk.

Padang rumput di sana juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menggembalakan ternak, menambah karakter lanskap pedesaan yang menjadi daya tarik tersendiri.

Gambaran itu memperlihatkan bahwa daya tarik Desa Jampit tidak hanya terdapat pada Gunung Suket, tetapi juga pada lanskap dan kehidupan kawasan pedesaannya. 

Kegiatan Ekspedisi Suket Berdaya Adhirajasa yang dilakukan Wanala Universitas Airlangga tidak berhenti pada pelaksanaan ekspedisi saja. Kegiatan itu juga dipublikasikan melalui media sosial Instagram @wanalaunair dan pemberitaan Unair News, sehingga pengalaman dan kondisi Gunung Suket maupun Desa Jampit dapat diketahui oleh masyarakat yang sebelumnya mungkin belum mengenal wilayah tersebut.

Publikasi juga dilakukan secara personal oleh anggota tim melalui media sosial masing-masing dengan membagikan dokumentasi selama kegiatan.

Dengan adanya publikasi dari berbagai pihak, informasi mengenai Gunung Suket dan Desa Jampit memiliki peluang untuk menjangkau lebih banyak orang dan secara tidak langsung dapat mengangkat potensi wilayah tersebut untuk lebih diperhatikan sebagai kawasan yang memiliki daya tarik wisata. 

Upaya untuk memperkenalkan wilayah ini juga tidak berhenti pada publikasi Ekspedisi Suket Berdaya Adhirajasa. Anggota Wanala Universitas Airlangga berencana untuk tetap menjalin hubungan baik dengan masyarakat Desa Jampit serta melakukan eksplorasi lebih lanjut terhadap Desa Jampit, Gunung Suket, dan kawasan pegunungan di sekitarnya.

Rencana di atas dapat membuka kesempatan untuk memperoleh informasi dan pengalaman baru mengenai wilayah tersebut, yang kemudian dapat kembali didokumentasikan dan dipublikasikan.

Dengan demikian, publikasi mengenai Desa Jampit dan Gunung Suket tidak hanya bergantung pada satu kegiatan ekspedisi, tetapi berpeluang untuk terus berkembang seiring dengan adanya kegiatan dan eksplorasi berikutnya. 

Lantas, mengapa Gunung Suket hingga saat ini belum terkomersialisasikan sebagai kawasan wisata?

Salah satu warga Desa Jampit bernama Tejo mengungkapkan bahwa masyarakat setempat belum terpikir untuk mengembangkan Gunung Suket karena sebagian besar warga masih disibukkan dengan aktivitas bertani dan beternak.

Ia juga menjelaskan bahwa pendakian ke Gunung Suket selama ini lebih sering dilakukan oleh kelompok mahasiswa pencinta alam, itu pun dalam jumlah yang sangat jarang.

Bahkan, warga Desa Jampit sendiri masih jarang mendaki Gunung Suket karena kondisi gunung yang masih asri dan rimbun sehingga medan pendakiannya cukup sulit.

Di sisi lain, kondisi demikian justru menjadi salah satu hal yang menarik perhatian tim Ekspedisi Suket Berdaya Adhirajasa. Nur Alif, salah satu anggota tim ekspedisi, menilai bahwa Gunung Suket memiliki potensi untuk dijadikan wisata karena pemandangan yang dapat dinikmati dari kawasan tersebut. 

Selain Gunung Suket, Desa Jampit juga memiliki berbagai potensi lain yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.

Selama kegiatan ekspedisi berlangsung, tim Wanala merasakan keterbukaan masyarakat Desa Jampit terhadap pendatang. Tim beberapa kali ditawari untuk berkunjung ke rumah warga, bahkan disuguhi makanan yang bahan-bahannya diperoleh langsung dari kebun masyarakat.

Pada malam hari, tim juga menghabiskan waktu dengan menghangatkan tubuh di depan api unggun di dalam rumah warga sambil berbincang dan bercengkrama dengan masyarakat sekitar.

Pengalaman ini semakin memperlihatkan bahwa kehidupan masyarakat dan keseharian warga Desa Jampit dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Tim juga sempat diajak oleh anak-anak setempat untuk memetik stroberi, memberikan pengalaman sederhana yang memperlihatkan aktivitas masyarakat dan hasil alam yang dapat dinikmati secara langsung oleh pengunjung.

Selain itu, Desa Jampit juga memiliki kopi khas Jampit yang menjadi salah satu potensi lokal yang dapat diperkenalkan kepada wisatawan. 

Meskipun Desa Jampit telah memiliki beberapa daya tarik wisata seperti Kawah Wurung dan Guest House yang merupakan rumah peninggalan Belanda, kawasan Desa Jampit masih terbilang sepi pengunjung jika dibandingkan dengan beragam potensi alam dan kehidupan masyarakat yang dimilikinya.

Kondisi itu membuka peluang untuk mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat, dengan menjadikan aktivitas keseharian warga dan keindahan alam sebagai bagian dari atraksi wisata.

Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga dapat merasakan pengalaman seperti mengenal perkebunan, memetik hasil kebun, menikmati kopi khas Jampit, maupun berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Selain itu, kondisi alam Desa Jampit juga berpotensi mendukung pengembangan campground dan cafe yang mengusung konsep alam, selama pengembangannya tetap memperhatikan kondisi lingkungan serta kehidupan masyarakat setempat. 

Potensi tersebut juga disampaikan oleh Nur Alif, salah satu anggota tim Ekspedisi Suket Berdaya Adhirajasa.

Menurutnya, “Desa Jampit memiliki potensi untuk dijadikan desa wisata, karena di Desa Jampit sendiri banyak bukit – bukit kecil selain Gunung Suket.”

Bukit-bukit itu, menurutnya, dapat menjadi potensi yang dikembangkan sebagai daya tarik wisata.

Selain itu, keberadaan rumah peninggalan Belanda yang telah lebih dahulu dikembangkan sebagai objek wisata, serta Kawah Wurung yang sudah dikenal sebagai destinasi wisata, menunjukkan bahwa Desa Jampit sebenarnya telah memiliki beberapa daya tarik yang dapat menjadi bagian dari pengembangan wisata di kawasan tersebut.

Namun, kembali pada kondisi yang disampaikan Tejo sebelumnya, pengembangan pariwisata di Desa Jampit tetap berkaitan dengan bagaimana masyarakat setempat memandang dan menentukan arah pemanfaatan potensi yang mereka miliki.

Tetapi di balik berbagai potensi yang dimiliki Desa Jampit dan Gunung Suket, pengembangan pariwisata juga perlu mempertimbangkan dampak yang mungkin muncul bagi masyarakat dan lingkungan.

Meningkatnya jumlah pengunjung tanpa pengelolaan yang baik dapat memberikan tekanan terhadap kondisi alam, seperti munculnya sampah, kerusakan vegetasi, hingga perubahan pada kawasan yang sebelumnya masih alami.

Di sisi lain, perkembangan pariwisata juga dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat apabila tidak melibatkan mereka dalam proses pengelolaannya.

Karena itu, potensi wisata yang ada tidak harus langsung dikembangkan secara besar-besaran, tetapi dapat dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan kehidupan masyarakat Desa Jampit.

Dengan begitu, publikasi mengenai Gunung Suket dan Desa Jampit tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan potensi yang ada, tetapi juga menjadi langkah awal untuk membuka pembicaraan mengenai bagaimana potensi tersebut dapat diperkenalkan dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab. 

Pada akhirnya, Ekspedisi Suket Berdaya Adhirajasa bukan hanya menjadi perjalanan bagi Wanala Universitas Airlangga, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengenal lebih jauh Gunung Suket dan Desa Jampit beserta potensi yang dimilikinya.

Melalui dokumentasi dan publikasi yang dilakukan selama kegiatan, informasi mengenai wilayah tersebut dapat menjangkau masyarakat yang sebelumnya mungkin belum mengenalnya.

Publikasi memang bukan satu-satunya cara untuk mengembangkan pariwisata, tetapi dapat menjadi langkah awal untuk memperkenalkan suatu wilayah dan membuka perhatian terhadap potensi yang selama ini belum banyak diketahui.

Selanjutnya, bagaimana potensi tersebut dikembangkan tetap perlu mempertimbangkan masyarakat setempat, kondisi alam, dan keberlanjutan kawasan Desa Jampit dan Gunung Suket. (*)

Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Foto || Wanala Unair


Daftar Referensi
1. IDN Times. (2022, 11 Maret). 9 potret Desa Jampit di Bondowoso, pesonanya mirip Eropa!. IDN Times.
2. Universitas Airlangga. (2026, 31 Agustus). Wanala UNAIR sukseskan pendakian jalur non-konvensional Gunung Suket dan pengmas di Ijen. UNAIR News.
3. Universitas Padjadjaran. (2020, 10 Maret). Kembara Palawa Unpad rintis jalur pendakian Gunung Suket, Bondowoso. Universitas Padjadjaran.

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Wanala Universitas Airlangga Angkat Potensi Wisata Desa Jampit Melalui Publikasi Ekspedisi Gunung Suket
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us