1. News
  2. Berita
  3. Keindahan Tabebuya dan Urgensi Penghijauan di DKI Jakarta

Keindahan Tabebuya dan Urgensi Penghijauan di DKI Jakarta

keindahan-tabebuya-dan-urgensi-penghijauan-di-dki-jakarta
Keindahan Tabebuya dan Urgensi Penghijauan di DKI Jakarta

tirto.id – Mekarnya bunga tabebuya di Jalan Cikini Raya menjadi gambaran potensi penghijauan di tengah padatnya bangunan dan keterbatasan ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta. Dengan capaian RTH yang baru mencapai 5,59 persen, perluasan penanaman pohon peneduh di sepanjang jalan dan ruang publik dapat menjadi alternatif untuk menghadirkan lingkungan yang lebih hijau dan mengurangi paparan panas.

Namun, upaya tersebut perlu dibarengi pemilihan jenis pohon yang sesuai, pemeliharaan berkelanjutan, serta penataan trotoar agar tidak mengganggu kenyamanan dan keselamatan pejalan kaki.

Nurhati (61), seorang ibu asal Jakarta Barat, mengaku takjub dengan pepohonan tabebuya di kawasan Cikini, Jakarta. Semula, dari tempat makannya, ia melihat deretan bunga tabebuya yang sedang bermekaran di sepanjang jalan. Nurhati kemudian mengajak anak-anaknya melihat bunga yang menghiasi kawasan tersebut.

“Cantik banget bunganya kalau dilihat berjajar kayak ini. Tadinya cuma mau makan siang sama anak-anak, malah jadi tertarik melihat bunga di sini,” ucapnya saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta, Jumat (9/10/2026) siang.

Nurhati menilai keberadaan bunga itu membuat suasana jalanan terlihat lebih berwarna. Pemandangan itu juga dinilai menjadi hiburan tersendiri di tengah rutinitas warga yang sehari-hari akrab dengan kemacetan dan bangunan perkotaan.

Ia menganggap bunga tabebuya bisa menjadi daya tarik bagi warga yang melintas di Cikini. Ruang publik yang dihiasi tanaman berbunga juga dinilai membuat perjalanan sehari-hari terasa berbeda.

“Kalau bisa, pohon-pohon seperti ini diperbanyak di jalan Jakarta yang lain. Jadi, bukan cuma enak dilihat, tetapi orang juga punya tempat yang lebih teduh saat berjalan,” sebutnya.

Meski demikian, kata Nurhati, penanaman pohon tetap perlu memperhatikan kondisi trotoar. Keberadaan pohon-pohon itu diharapkan tidak membuat jalur pejalan kaki menjadi sempit atau sulit dilalui bersama anak-anak.

“Kalau jalanan lebih hijau dan banyak bunganya, pasti lebih menyenangkan buat warga. Apalagi kalau pohonnya juga bikin teduh, jadi manfaatnya bukan cuma untuk foto-foto,” tutur Nurhati.

pohon tabebuya di Cikini Raya

Suasana pohon tabebuya di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026) siang. tirto.id/Muhammad Naufal

Sementara itu, Inestasya (25), perempuan asal Jakarta Timur, sengaja mendatangi Jalan Cikini Raya setelah melihat video viral mengenai tabebuya. Ia mengaku ingin melihat langsung pemandangan tabebuya, sekaligus mengambil foto dengan latar bunga tersebut.

“Bunga-bunga di sini cantik banget, apa lagi kalau difoto dari sudut yang pas. Warnanya bikin suasana jalan yang biasanya ramai kendaraan jadi kelihatan lebih menarik,” sebutnya, ditemui di Cikini, Jumat siang.

Ia berharap, Pemprov DKI Jakarta dapat menanam pohon selain tabebuya di Cikini. Dengan adanya keberadaan pohon lain, Cikini disebut akan semakin meriah.

Kata Ines, dengan adanya latar belakang bunga yang beragam, turis maupun masyarakat lokal bakal semakin tertarik mengunjungi Cikini.

“Kan ini dekat sama [Taman] Ismail Marzuki, ada itu aja sudah ramai, apa lagi kalau ada tabebuya sama pohon-pohon lain. Kalau gitu, nanti turis, masyarakat, makin senang, ke sini makin ramai,” tuturnya.

Ines mengaku, dengan adanya bunga tersebut, ia tidak merasa trotoar untuk pejalan kaki semakin sempit. Di satu sisi, ia memahami banyak tersedia lokasi parkir yang berada di bibir jalan sepanjang Cikini.

“Kalau yang ini [parkir] kan emang legal, mengganggu si enggak terlalu ya, tapi jadi kayak berpolusi, jadi saya mending pakai masker kalau ke sini [Cikini],” sebut Ines.

Desakan perluas lahan hijau

Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Bun Joi Phiau, mendesak Pemprov DKI Jakarta memperluas penghijauan di sepanjang jalan dan ruang publik untuk mengatasi keterbatasan RTH di Ibu Kota.

Menurut dia, penambahan pohon peneduh perlu menjadi bagian dari strategi penghijauan yang lebih beragam di tengah sulitnya pembebasan lahan untuk pembangunan taman dan hutan kota.

Sementara itu, Bun Joi mengakui, belum tercapainya target minimal 30 persen RTH di Jakarta berkaitan dengan keterbatasan lahan dan tingginya harga tanah.

Sebagian besar lahan di kota yang padat penduduk telah terbangun bangunan dan berstatus milik pribadi sehingga pembebasan lahan dinilai kerap terkendala harga maupun sengketa.

“Target 30 persen tetap harus menjadi arah kebijakan sesuai amanat undang-undang, tetapi pencapaiannya tidak bisa hanya mengandalkan pembelian lahan baru. Perlu strategi yang lebih beragam, mulai dari optimalisasi aset milik Pemprov, kewajiban fasilitas sosial dan fasilitas umum dari pengembang, hingga kolaborasi dengan sektor swasta,” sebutnya melalui pesan singkat, Jumat (9/10/2026).

Ia menilai, penghijauan di koridor jalan, jalur pedestrian, dan bantaran sungai dapat menjadi pelengkap upaya penambahan RTH.

Meski tidak serta-merta menambah angka RTH secara formal, penanaman pohon di kawasan tersebut dinilai dapat memberikan manfaat langsung bagi warga.

pohon tabebuya di Cikini Raya

Suasana pohon tabebuya di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026) siang. tirto.id/Muhammad Naufal

Politikus PSI itu lantas mendesak agar penanaman dan pemeliharaan pohon peneduh di luar kawasan RTH mendapatkan alokasi anggaran yang jelas dalam APBD DKI Jakarta.

Anggaran pemeliharaan disebut juga perlu menjadi perhatian khusus agar pohon yang sudah ditanam dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

“Pohon peneduh di sepanjang jalan, jalur pedestrian, dan bantaran sungai memang tidak serta-merta menambah angka RTH secara formal. Namun manfaatnya nyata bagi warga, yaitu menurunkan suhu, menyerap polusi, meningkatkan kenyamanan pejalan kaki, dan membantu penyerapan air,” ujarnya.

“Pemeliharaan harus dianggarkan sama seriusnya dengan penanamannya, sebab pohon yang tidak dirawat akan mati dan anggarannya sia-sia,” sambung dia.

Bun Joi turut menilai, viralnya bunga tabebuya yang bermekaran di Jalan Cikini Raya menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap ruang kota yang hijau. Perhatian warga terhadap kawasan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperluas penghijauan di lokasi lain.

“Ketika satu ruas jalan yang tertata baik bisa menarik perhatian sebesar itu, artinya penghijauan bukan sekadar urusan estetika, tetapi kebutuhan nyata warga,” ujarnya.

Meski demikian, Bun Joi mengingatkan agar perluasan penghijauan tidak hanya berfokus pada penanaman tabebuya.

Pemilihan pohon dinilai perlu mempertimbangkan fungsi peneduh, kemampuan menyerap polusi, kesesuaian dengan kondisi tanah dan lebar trotoar, serta keamanan bagi pejalan kaki dan utilitas di bawah tanah.

“Sebaiknya Pemprov menggunakan keragaman jenis pohon, termasuk jenis lokal yang tangguh, agar kota tidak rentan terhadap hama dan lebih bermanfaat bagi ekosistem,” tutur dia.

Dalam kesempatan itu, Bun Joi meminta Pemprov DKI Jakarta untuk menyusun peta lokasi prioritas penanaman berdasarkan data, terutama di ruas jalan yang minim peneduh dan padat pejalan kaki. Perencanaan tersebut dinilai perlu dilengkapi dengan standar pemeliharaan dan anggaran agar program penghijauan berjalan berkelanjutan.

“Kami meminta Dinas terkait menyusun peta lokasi prioritas penanaman berbasis data, misalnya ruas jalan yang minim peneduh dan padat pejalan kaki, lengkap dengan rencana anggaran perawatannya. Komisi D siap mengawal agar penghijauan di Jakarta berjalan konsisten, terukur, dan manfaatnya dirasakan merata di seluruh wilayah, bukan hanya di titik yang sedang viral,” urai dia.

Desakan Koalisi Pejalan Kaki

Ketua Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus, mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperluas penghijauan di sepanjang jalan untuk menciptakan ruang publik yang lebih teduh dan nyaman bagi pejalan kaki.

Menurut dia, keberadaan pohon sekatinya tak cuma memperindah kota, melainkan juga memberikan perlindungan bagi pejalan kaki dari terik matahari dan risiko kendaraan yang kehilangan kendali.

“Sebenarnya ini ada muncul hal yang baru sebenarnya. Dengan munculnya ada pohon-pohon ini, tabebuya, sebenarnya tidak menjadi satu halangan apa pun bagi para pejalan,” sebutnya melalui sambungan telepon, Jumat.

Alfred menilai, penghijauan seperti di Jalan Cikini Raya dapat direplikasi ke ruas jalan lain yang memiliki karakteristik serupa. Namun, ia menekankan perlunya penataan jalan terlebih dahulu agar ruang bagi pejalan kaki lebih memadai.

Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah road diet, yakni mengurangi ruang untuk kendaraan bermotor untuk memperluas trotoar dan menyediakan ruang yang lebih nyaman bagi pejalan kaki.

Kata dia, pendekatan tersebut perlu dibarengi dengan peningkatan frekuensi angkutan umum agar masyarakat terdorong beralih dari kendaraan pribadi.

Alfred mencontohkan, Jalan Kebon Sirih di Jakarta Pusat disebut berpotensi menjadi salah satu lokasi yang dipertimbangkan untuk menerapkan pendekatan tersebut.

“Ketika kawasan-kawasan jalanan ini diinventarisasi oleh Pemprov DKI Jakarta, ya kondisi yang sekarang seperti yang ada di Cikini, itu bisa direplikasi di ruas-ruas jalan di Jakarta. Jadi, ini sangat baik sebenarnya dan Jakarta harus memperbanyak ini karena klaimnya Jakarta kan masuk ke dalam The Global Cities,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Alfred turut menyoroti kebiasaan penebangan pohon ketika ada proyek pembangunan atau revitalisasi trotoar. Pohon yang telah tumbuh selama puluhan tahun disebut seharusnya dipertahankan, apalagi pohon-pohon tersebut memiliki fungsi ekologis sekaligus menjadi pelindung bagi pejalan kaki.

Ia menilai, Pemprov DKI perlu mengubah pendekatan dalam pembangunan infrastruktur agar keberadaan pohon tidak selalu dianggap sebagai hambatan. Pemilihan pohon dan perencanaan konstruksi trotoar disebut perlu dilakukan sejak awal untuk menghindari kerusakan struktur akibat pertumbuhan akar.

“Namun, yang perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah, terutama seperti Pemprov DKI Jakarta, yang dipilih itu adalah pohon yang seperti apa akarnya. Jadi jangan sampai nanti pohon yang diambil itu adalah pohon yang akarnya akar serabut, yang bisa merusak strukturnya trotoar,” tutur Alfred.

Selain pemilihan jenis pohon, ia menekankan pentingnya pemeliharaan secara berkala agar pohon tidak mudah ditebang dengan alasan membahayakan pengguna jalan. Pemerintah perlu memiliki sistem pendataan kondisi pohon, termasuk untuk mengidentifikasi kerusakan, penyakit, serangan hama, dan potensi kerapuhan batang.

Ia juga meminta Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, untuk mempertimbangkan penggunaan teknologi pemindahan pohon secara utuh. Teknologi itu disebut dapat menjadi alternatif untuk mempertahankan pohon yang masih layak dipelihara ketimbang langsung menebangnya.

“Saya sedikit mengingatkan kepada Pak Gubernur, Mas Pram dengan Bang Doel [Rano], tolong dong hadirkan teknologi memindahkan pohon. Selama ini, beberapa kali gubernur, kami merekomendasikan alat memindahkan pohon seperti di banyak kota-kota besar di Asia, enggak perlu ngomongin di Eropa ya, itu sudah memiliki alat kendaraan yang bisa memindahkan pohon walaupun pohonnya pohon-pohon raksasa,” urai Alfred.

pohon tabebuya di Cikini Raya

Suasana pohon tabebuya di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2026) siang. tirto.id/Muhammad Naufal

Ia menambahkan, perluasan penghijauan juga perlu memperhatikan pemerataan lokasi agar manfaatnya tidak hanya dirasakan di kawasan tertentu.

Pasalnya, pohon yang tumbuh di kawasan perkotaan diyakini dapat membantu mengurangi paparan panas sekaligus memberikan kenyamanan bagi warga yang berjalan kaki.

“Bentuk kebahagiaan itu untuk warga kota itu sebenarnya cukup sederhana ya, ya tidak kepanasan [saat berjalan kaki],” tutur Alfred.

Ruang Terbuka Hijau Baru 5 Persen

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengatakan, luas RTH di ibu kota saat ini mencapai 3.703,56 hektare atau 5,59 persen. Angka itu disebut meningkat dibandingkan 2024, yakni 3.446 hektare atau 5,3 persen.

“Peningkatan persentase ruang terbuka hijau melalui pembangunan 15 lokasi RTH taman, satu lokasi RTH jalur hijau, tiga lokasi RTH hutan, dan satu lokasi RTH makam dengan 7.627 potensi petak makam baru,” ujar Rano di Gedung DPRD DKI Jakarta, 20 April 2026.

Menurut dia, peningkatan itu menjadi bagian capaian DKI Jakarta terkait urusan lingkungan hidup dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur DKI Jakarta Tahun Anggaran 2025.

Ia menyampaikan, pihaknya telah berupaya meningkatkan fungsi taman kota. Salah satunya, yakni melalui program taman 24 jam dan integrasi tiga taman, yaitu Taman Ayodya, Taman Leuser, dan Taman Langsat menjadi Taman Bendera Pusaka.

“Sejumlah taman yang buka selama 24 jam telah menjadi tempat aktivitas publik yang mendorong budaya interaksi sosial masyarakat,” tutur Rano.

Sementara itu, diakses melalui situs resminya, Pemprov DKI tidak memublikasikan data RTH per 2026 atau 2025. Berdasar laporan yang mereka publikasikan pada 3 September 2026, hanya ada data RTH per 2024.

Tercatat terdapat 2.545 RTH yang tersebar di lima kota administrasi per 2024. Data tersebut mencakup berbagai jenis RTH, seperti taman hingga jalur hijau, beserta lokasi kecamatan dan kelurahannya.

Jakarta Selatan menjadi wilayah dengan jumlah RTH terbanyak, yakni 866 lokasi. Di posisi berikutnya terdapat Jakarta Barat dengan 493 RTH, disusul Jakarta Timur sebanyak 461 RTH. Sementara itu, Jakarta Pusat memiliki 372 RTH.

Berdasarkan data yang diperoleh, wilayah dengan jumlah RTH paling sedikit adalah Jakarta Utara, yakni 353 lokasi.

Pramono di Pendopo Balai Kota

(Kiri ke kanan) Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, di Pendopo Balaikota, Rabu (25/3/2026). tirto.id/Ayu Mumpuni

tirto.id – News Plus

Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Andrian Pratama Taher

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Keindahan Tabebuya dan Urgensi Penghijauan di DKI Jakarta
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us