1. News
  2. Kombitainment
  3. Synchronize Fest 2026 Bahas Pentingnya Komunitas bagi Ekosistem Musik Indonesia

Synchronize Fest 2026 Bahas Pentingnya Komunitas bagi Ekosistem Musik Indonesia

synchronize-fest-2026-bahas-pentingnya-komunitas-bagi-ekosistem-musik-indonesia
Synchronize Fest 2026 Bahas Pentingnya Komunitas bagi Ekosistem Musik Indonesia

Synchronize Fest 2026 tak hanya menghadirkan pertunjukan musik selama 16–18 Oktober 2026 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Festival ini juga menyediakan ruang bagi para pelaku musik untuk membicarakan perkembangan industri, komunitas, hingga munculnya inisiatif baru di lingkungan kampus.

Kami menyimak dua sesi yang mengangkat bahasan tersebut. Talkshow “The Future of Music Industry & Community in Indonesia” menghadirkan Indra Lesmana, Barry Likumahuwa, dan M. Rafi di Red White Jazz Lounge. Sementara itu, diskusi “Inisiatif Musik Kampus” menghadirkan Ghana Banyubiru, Rangga Risto, dan Salwa Haura Meisandy dari Dobrak Pager, dengan Felix Dass sebagai moderator, di Jakarta 32°C.

Menjaga Komunitas dan Ekosistem Musik

Dalam talkshow “The Future of Music Industry & Community in Indonesia”, M. Rafi melihat perkembangan musik urban di Indonesia mulai bergerak ke arah yang positif. Musisi yang berkecimpung di ranah jazz, hip-hop, R&B, dan dance music itu menilai, musik-musik yang sebelumnya memiliki pasar terbatas kini semakin mudah menjangkau pendengar yang lebih luas.

Bersama Barry Likumahuwa, Kenny, Batavia Collective, dan sejumlah musisi lain, Rafi mencoba mempertemukan jazz dengan audiens yang lebih muda. Salah satu pendekatan yang ia gunakan adalah “jazz tapi party”, menghadirkan suasana pesta tanpa meninggalkan unsur jazz dalam musiknya.

“Jadi kalau menurut aku secara progres sekarang urban music itu sekarang udah on the right track. Tinggal masalah gimana supaya lebih sustain aja,” ujar Rafi.

Namun, perkembangan tersebut juga membawa tantangan. Barry Likumahuwa menyoroti bagaimana algoritma platform digital memengaruhi cara pendengar menemukan musik. Di satu sisi, orang kini lebih mudah menikmati musik di luar arus utama. Di sisi lain, rekomendasi yang mengikuti selera pengguna berpotensi membuat mereka terus berada di lingkaran yang sama.

“Cross demografiknya in a sense jadi agak lebih tersekatnya justru malah lebih banyak. Karena algoritma tadi,” kata Barry.

Menurutnya, komunitas musik saat ini berkembang dengan baik, begitu pula kemampuan musikal generasi muda. Persoalannya, orang perlu bersedia keluar dari lingkaran masing-masing untuk mengenal musik dan komunitas lain. Karena itu, ruang pertemuan seperti Red White menjadi penting.

Indra Lesmana turut menyoroti peran jam session sebagai ruang bagi musisi untuk belajar dan berkembang. Baginya, bermain bersama musisi lain bukan sekadar kesempatan untuk tampil, melainkan juga proses mengenali kemampuan diri dan meningkatkan keterampilan.

Rafi menambahkan, Red White dahulu memiliki jadwal jam session untuk pemula dan musisi yang lebih berpengalaman. Pembagian tersebut memberi kesempatan bagi musisi untuk belajar sesuai tahap kemampuan mereka sebelum mencoba bermain bersama pemain lain yang lebih mahir.

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa komunitas membutuhkan ruang yang memungkinkan anggotanya berinteraksi, belajar, dan berkembang. Bukan hanya bagi musisi yang sudah dikenal, tetapi juga mereka yang baru memulai perjalanan.

Barry melihat fungsi tersebut sebagai salah satu hal yang membuat Red White berkesan. Musisi bisa datang untuk menyaksikan pertunjukan, membangun koneksi, hingga akhirnya memberanikan diri naik ke panggung. Dari sana, talenta-talenta baru berpeluang ditemukan.

Menurutnya, ruang serupa juga dibutuhkan di luar Jakarta. Setiap daerah memiliki musisi dan figur penting dalam komunitasnya masing-masing. Jika tersedia tempat yang mendukung pertemuan dan pertukaran kemampuan, talenta-talenta tersebut akan lebih mudah terhubung dengan kesempatan di industri musik.

Indra juga menekankan bahwa keberlangsungan komunitas dapat memengaruhi ekosistem musik secara keseluruhan. Ia menceritakan percakapannya dengan David Karto dari demajors mengenai dampak penutupan Red White terhadap penjualan CD jazz.

Dari percakapan tersebut, Indra mengetahui bahwa penjualan CD jazz mengalami penurunan setelah Red White tutup. Pengalaman itu memberinya gambaran bahwa keberadaan ruang pertunjukan ternyata dapat berpengaruh terhadap perputaran karya musisi, termasuk rilisan fisik.

Di tempat seperti Red White, musisi bisa menggelar showcase, memperkenalkan album, dan bertemu pendengar. Aktivitas tersebut turut menghubungkan berbagai bagian ekosistem musik yang mungkin terlihat terpisah, mulai dari panggung hingga distribusi karya.

Mengarsipkan Musik dan Menghargai Pendahulu

Selain membicarakan ruang komunitas, Barry mengingatkan pentingnya pengarsipan karya musik Indonesia. Menurutnya, rekaman lama perlu terus dirawat dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya agar perjalanan musik Indonesia tidak terputus dari sejarahnya.

Ia menyinggung peran demajors dalam mengarsipkan dan menghadirkan kembali rekaman lama, termasuk Djanger Bali. Barry juga menyoroti bagaimana perkembangan musik dari satu generasi ke generasi berikutnya saling berkaitan.

Ia mencontohkan perjalanan musik Indonesia dari Krakatau dan Karimata hingga Humania, The Groove, dan MALIQ & D’Essentials. Bagi Barry, musisi yang muncul hari ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dari para pendahulu yang lebih dulu membuka jalan.

Barry sendiri mencoba merawat hubungan tersebut melalui J-Stroke, album yang ia kerjakan sebagai bentuk apresiasi terhadap musisi dan karya dari generasi sebelumnya.

Upaya mengenalkan kembali karya lama menjadi penting agar pendengar muda tidak hanya mengikuti musik yang sedang berkembang, tetapi juga bisa menelusuri perjalanan yang membentuknya. Dengan begitu, sejarah musik Indonesia tetap menjadi bagian dari percakapan di tengah munculnya musisi dan komunitas baru.

Inisiatif Musik Kampus dan Munculnya Audiens Baru

Pembicaraan mengenai komunitas berlanjut dalam diskusi “Inisiatif Musik Kampus”. Kali ini, sorotannya bergeser ke lingkungan kampus dan bagaimana acara musik dapat menjadi titik awal terbentuknya komunitas baru.

Ghana Banyubiru menjelaskan bahwa keyakinannya terhadap kemampuan musik untuk menyatukan banyak orang menjadi salah satu dorongan awal dalam membangun The Sounds Project.

“Gue percaya musik bisa jadi suatu entitas yang bisa ngumpulin banyak orang dan memberikan impact yang besar, dari situ gua coba mulai The Sounds Project dengan percaya akan nilai itu,” ujarnya.

Sementara itu, Salwa Haura Meisandy menceritakan kekhawatiran yang kerap muncul ketika menjalankan acara bersama Dobrak Pager, terutama soal jumlah audiens yang akan datang. Namun, ia melihat dukungan mahasiswa menjadi salah satu faktor yang membantu kegiatan mereka berjalan.

Dukungan itu datang dari teman-teman musisi yang tampil maupun mahasiswa yang hadir untuk meramaikan acara. Menurut Salwa, ada rasa memiliki terhadap kegiatan yang tumbuh di lingkungan kampus sendiri.

Rangga Risto juga melihat munculnya komunitas-komunitas baru, khususnya di kampus, sebagai perkembangan menarik dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai situasi tersebut berbeda dibandingkan dengan ekosistem musik tiga hingga empat tahun sebelumnya.

Pengalaman bertemu dengan audiens baru membuat Risto melihat komunitas kampus sebagai ruang yang potensial untuk menjangkau lebih banyak pendengar sekaligus pelaku musik.

“Obrolan gua dan anak-anak sekarang itu kita malah ngerasa munculnya komunitas baru khususnya di kampus itu malah lebih seru terutama di tahun-tahun belakangan ini, dan gue rasa ini menarik banget untuk terus bisa ngegait audiens-audiens ataupun pelaku-pelaku baru ini,” kata Risto.

Pengalaman para pembicara memperlihatkan bahwa inisiatif musik kampus bisa tumbuh dari keyakinan terhadap musik, dukungan lingkungan, dan keinginan mempertemukan orang-orang dengan ketertarikan serupa. Dari sana, acara musik tak hanya menjadi tempat untuk menonton pertunjukan, tetapi juga kesempatan untuk mengenal komunitas dan menemukan pelaku musik baru.

Dari Red White hingga acara musik kampus, kedua sesi di Synchronize Fest 2026 memperlihatkan pentingnya ruang bagi komunitas untuk tumbuh dan saling terhubung. Sebab, ekosistem musik tak hanya dibangun melalui karya dan pertunjukan, tetapi juga lewat kesempatan untuk belajar, bertemu, serta menjaga hubungan dengan generasi yang lebih dulu berkarya.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Synchronize Fest 2026 Bahas Pentingnya Komunitas bagi Ekosistem Musik Indonesia
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us