Kisah Kera dan Bangau dalam Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara, Ajarkan Dampak Buruk dari Perilaku Sombong | Magnific AI
Kisah kera dan bangau menjadi salah satu cerita rakyat yang berkembang di daerah Sulawesi Tenggara. Legenda ini mengajarkan tentang bahaya dari perilaku sombong dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana kisah dari legenda kera dan bangau tersebut? Simak ulasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Kisah Kera dan Bangau dalam Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara, Ajarkan Dampak Buruk dari Perilaku Sombong
Dikutip dari buku Cerita Rakyat Buton dan Muna di Sulawesi Selatan, alkisah pada zaman dahulu di sebuah hutan, hiduplah seekor kera dan anak bangau. Kedua hewan ini sudah bersahabat sejak lama.
Pada suatu hari, kera mengajak bangau untuk pergi ke pantai. Dia mengajak sahabatnya itu untuk mencari ikan.
Awalnya bangau menolak ajakan itu. Dia takut jika bertemu manusia dan akan menangkapnya nanti.
Namun kera menenangkan sahabatnya itu. Dia berkata akan menggigit manusia yang mencoba mengganggu bangau nanti.
Mendengar perkataan itu, anak bangau ini akhirnya bersedia ikut. Berangkatlah kedua sahabat itu menuju pantai untuk mencari ikan.
Sesampainya di sana, bangau dan kera langsung turun ke pantai. Keduanya sibuk mencari ikan untuk dibawa pulang nanti.
Dalam sekejap, bangau berhasil mengumpulkan banyak ikan. Wajar saja sebab bangau memang dikenal sebagai keturunan hewan yang handal dalam menangkap ikan.
Lain halnya dengan kera yang tidak berhasil mendapatkan satu ekorpun ikan. Wajar saja, begitu dia masuk ke air, ikan-ikan langsung kabur menjauhinya.
Lama kelamaan muncul rasa iri dalam diri kera. Dia pun langsung menerkam bangau dari belakang.
Kera kemudian mencabut semua bulu bangau. Alhasil anak bangau tersebut tidak bisa bergerak dan kembali pulang.
Setelah itu, kera mengambil semua ikan tangkapan bangau. Dia pun pulang ke rumah tanpa perasaan bersalah.
Sesampainya di rumah, kera langsung memasak semua ikan itu. Hari pun mulai gelap dan beranjak malam.
Tidak lama kemudian, datang ibu bangau ke rumah kera. Dia menanyakan keberadaan anak bangau yang tidak kunjung pulang.
Kera berkata jika dia sudah mengajak anak bangau pulang. Namun dia masih asyik bermain di pantai.
Ibu bangau pun terbang menuju pantai. Namun dia terkejut begitu melihat anak bangau yang meringkuk kedinginan.
Anak bangau pun menceritakan apa yang terjadi padanya. Amarah ibu bangau pun memuncak mendengarkan hal itu.
Dia pun bertekad untuk membalas kejahatan kera. Namun sang ibu membawa anak bangau pulang terlebih dahulu dan merawatnya hingga pulih kembali.
Begitu sembuh, anak bangau pun merencanakan balasan untuk kera. Dia mengajak semua bangau untuk ikut bersamanya.
Setelah tidak lama bersua, anak bangau pergi menemui kera. Dia bertingkah seperti tidak ada kejadian sebelumnya.
Anak bangau ini mengajak kera untuk kembali mencari ikan. Namun kali ini dia mengajak kera pergi ke tengah laut, dengan demikian mereka bisa mendapatkan lebih banyak ikan.
Kera yang tidak curiga setuju saja dengan ajakan itu. Berangkatlah kedua sahabat itu ke tengah laut menggunakan kapal.
Setelah berlayar cukup jauh, sampailah mereka di tengah lautan. Ketika hendak menebar jala, tiba-tiba datang rombongan bangau dari udara.
Para bangau ini kemudian mematuk setiap sisi kapal. Anak bangau pun melakukan hal yang sama.
Alhasil air pun mulai masuk ke dalam kapal. Anak bangau bersama teman-temannya kemudian terbang tinggi ke udara.
Di sisi lain, kera terjebak sendirian di kapal. Akhirnya kera yang sombong itu tenggelam seorang diri sebagai balasan atas perbuatan yang sudah dia lakukan sebelumnya.