
Ilustrasi | Pemprov Jateng
Disadari atau tidak, wilayah di pantai utara alias Pantura Pulau Jawa sebetulnya sedikit demi sedikit berkurang karena terendam air. Wilayah yang dulunya daratan dan menjadi tempat beraktivitas masyarakat, kini hanya berwujud hamparan air sejauh mata memandang.
Apa yang sedang terjadi di Pantura itu merupakan slow onset alias bencana yang terjadi secara lambat, bertahap, dan akumulatif dalam jangka panjang. Di sana, daratan secara berangsur-angsur terendam air laut karena dua faktor pemicu utama, yaitu turunnya muka tanah (land subsidence) dan naiknya permukaan air laut (sea level rise).
Saking lambatnya, slow onset bahkan kerap tidak terasa. Kendati demikian, dampaknya nyata, begitu pula dengan kerugiannya. Perlu diketahui juga ada 8 kejadian yang dikategorikan sebagai slow onset oleh United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di mana 6 di antaranya jelas terjadi di Indonesia, yakni kenaikan muka air laut, degradasi lahan dan hutan, kenaikan suhu, peningkatan kadar garam dalam air alias salinisasi, pengasaman laut, hingga hilangnya keanekaragaman hayati.
Sudah tentu, slow onset di Pantura tidak boleh dianggap remeh. Kepada GNFI, National Advocacy Support sekaligus peneliti di Zurich Climate Resilience Alliance (ZCRA) Prosper Global Indonesia, Nala Hutasoit menjelaskan jika saat ada wilayah pesisir yang tergenang karena slow onset, maka banyak pula hal yang hilang karenanya, mulai dari tanah dan aset milik masyarakat, hingga keanekaragaman hayati di pesisir. Bahkan, karena hilangnya tanah, penduduk setempat pun terpaksa pindah tempat tinggal.
“Sudah mulai terjadi yang namanya people displacement. Jadi, sudah ada beberapa warga atau komunitas atau masyarakat yang sebenarnya sudah berpindah dari kawasan pesisir yang sudah mulai tergenang ke daerah-daerah lain,” ujarnya kepada awak media termasuk GNFI di Jakarta pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Di Pantura, muka air laut naik rata-rata 7,2 mm per tahun. Pada 2025 nanti, total kenaikannya diproyeksikan mencapai 40 cm. Pada saat yang sama, muka tanah turun 0–34,5 cm per tahun. Kerugiannya ditaksir mencapai Rp1,55 triliun per tahun dan diproyeksikan mencapai Rp31,28 triliun per tahun pada 2035.
Salah satu daerah di Pantura yang merasakan betul dampak slow onset adalah Pekalongan. Tak heran apabila banyak pihak yang menaruh perhatian kepada slow onset di Pekalongan. Salah satunya adalah Prosper Global selaku organisasi kemanusiaan internasional nirlaba yang aktif membantu masyarakat termasuk dalam menghadapi perubahan iklim melalui program ZCRA. Organisasi yang sebelumnya dikenal dengan nama Mercy Corps itu memberi dukungan untuk dilakukannya berbagai kajian dan pengalaman lapangan mengenai isu slow onset ini.
“Pekalongan itu mulai kehilangan wilayah sejak tahun 2017. Lalu ada wilayah yang akhirnya direlokasi secara permanen, sepenuhnya itu diproses dimulai tahun 2022 dan baru selesai di tahun 2024,” papar Program Manager ZCRA, Denia Syam.
Di Jawa Tengah khususnya Pekalongan, ZCRA berfokus kepada isu flood resilience alias ketahanan terhadap banjir. Hal itu jadi penting mengingat Pekalongan sudah kehilangan wilayahnya sedikit demi sedikit sejak bertahun-tahun lalu. Di beberapa desa seperti Semut dan Wonokerto Kulon, sejumlah rumah dan fasilitas umum telah terendam permanen. Penduduk pun sudah dipindahkan dengan meninggalkan kenangan terhadap kampung mereka.
Bagi masyarakat yang masih bertahan, hidup pun semakin sulit. Untuk sekadar menjalani hidup sehari-hari saja, banyak hambatan yang datang akibat genangan air.
“Dampaknya adalah aksesibilitas masyarakat terganggu tentunya karena biasanya jalan akan tergenang, orang susah bekerja. Aktivitas masyarakat terganggu. Kemudian tentunya layanan-layanan dasar masyarakat juga terganggu, seperti persampahan, air, limbah, dan sebagainya,” tutur Nala.
Dari ZCRA diketahui menangani slow onset di Pekalongan bukan perkara mudah. Denia sendiri telah mengalami bagaimana pekerjaan tersebut begitu menantang. Misalnya saja, ZCRA sempat menemukan bahwa slow onset belum dianggap sebagai bencana. Akibatnya, penanganannya pun tidak sesuai dengan sebagaimana mestinya penanganan kebencanaan dilakukan.
“Dan belum ada kerangka kebijakan yang secara sepenuhnya itu membicarakan atau mengatur secara komprehensif terkait penanganan genangan pesisir permanen ini,” lanjut Denia.
Membantu Masyarakat Terdampak Slow Onset Bertahan
Sesulit apa pun menghadapi slow onset di Pantura, ZCRA tetap tidak tinggal diam untuk membantu masyarakat yang terdampak. Denia menjelaskan jika pihaknya saat ini sedang fokus ke rehabilitasi sosial ekonomi masyarakat yang sudah direlokasi.
Masyarakat memang telah menempati hunian baru di tempat yang aman dari genangan. Meski demikian, tantangan tetap ada. Sebab, relokasi bukan hanya soal urusan pindah rumah. Lebih dari itu, ada urusan sosial ekonomi yang menyangkut hajat hidup banyak orang di sana.
“Biasanya kan proses relokasi itu fokusnya kepada relokasi fisik, sementara rehabilitasi sosial ekonomi itu sering menjadi yang dinomorduakan, sementara ketika kita memindahkan masyarakat, mereka kan tercerabut dari wilayah aslinya,” terang Denia.
Di level akar rumput, ZCRA punya berbagai inisiatif sebagai respons dari tantangan yang ada. Selain asesmen ketahanan komunitas dan penentuan prioritas aksi, ZCRA menyentuh ranah pendidikan lewat upaya peningkatan literasi iklim. Lalu di ranah ekonomi, dilakukan upaya pengembangan sistem dan jejaring pasar, juga unit usaha berbasis komunitas. Tak ketinggalan, masyarakat diajak menerapkan praktik pertanian yang adaptif terhadap iklim dan prinsip konservasi.
“Itu harus menjadi sesuatu yang kita dorong bersama, bahwa sebagai negara kepulauan Indonesia menghadapi fenomena ini,” pungkas Denia.
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.
Tim Editor