Selama beberapa kali mondar-mandir ke Perpustakaan Cikini di Taman Ismail Marzuki, saya baru menyadari kalau di sekitar kawasan ini ada satu tempat makan yang sudah sangat lama berdiri, namanya Mie Ayam Gondangdia.
Padahal lokasinya cukup dekat dari TIM. Dari perpustakaan, saya hanya perlu berjalan kaki sekitar lima menit untuk sampai ke tempat makan ini. Saya sendiri baru mengetahui keberadaannya setelah cukup sering beraktivitas di kawasan Cikini.
Mie Ayam Gondangdia punya cerita yang cukup panjang. Tempat makan ini sudah berdiri sejak 1968 dan pada masa lalu dikenal dengan nama Bakmi Godila, kependekan dari Bakmi Gondangdia Lama. Usianya yang sudah lebih dari setengah abad membuatnya masuk dalam daftar kuliner legendaris yang masih bertahan di Jakarta.
Perjalanannya juga sempat mengalami kendala. Pada 2014, bangunan Mie Ayam Gondangdia pernah mengalami kebakaran sehingga harus direnovasi.
Selama proses tersebut, operasionalnya sempat dipindahkan ke kawasan Cikini IV. Setelah renovasi selesai, Mie Ayam Gondangdia kembali ke lokasi awalnya di Jalan R.P. Soeroso pada November 2018.
Dengan sejarah sepanjang itu, rasa penasaran saya tentu cukup besar.
Mampir Saat Jam Makan Siang
Suatu hari, tepat ketika jam makan siang, saya akhirnya mencoba mampir ke Mie Ayam Gondangdia.
Ekspektasi saya waktu itu cukup tinggi. Saya termasuk orang yang cukup mudah tergoda dengan mie ayam. Di mana pun tempatnya, selama racikan mie, ayam, dan kuah kaldunya pas, biasanya saya bisa menikmati semangkuk mie ayam dengan lahap.
Apalagi kali ini saya datang ke tempat yang sudah menyandang nama legendaris selama puluhan tahun. Dalam bayangan saya, semangkuk mie ayam di sini seharusnya punya rasa yang langsung membuat saya mengerti kenapa tempat ini bisa bertahan begitu lama.

Sebelum membahas soal rasa, saya ingin cerita sedikit tentang tempatnya.
Mie Ayam Gondangdia berada di lokasi yang cukup strategis, tepat di kawasan Cikini. Dari arah Taman Ismail Marzuki, tempat ini juga relatif mudah dijangkau dengan berjalan kaki.
Bangunannya memang terlihat sederhana. Namun, ada nuansa klasik yang masih dipertahankan sehingga suasana tempatnya terasa berbeda dengan rumah makan modern yang banyak bermunculan sekarang.
Buat saya, salah satu bagian yang cukup menarik justru detail-detail kecil dari bangunannya. Termasuk toiletnya yang terlihat sangat jadul. Meski begitu, berdasarkan pengalaman saya ketika berkunjung, kondisinya cukup bersih dan masih layak digunakan.
Suasana seperti ini justru terasa cocok dengan cerita panjang Mie Ayam Gondangdia. Ada kesan bahwa tempatnya sudah melewati banyak zaman dan beberapa bagian lama masih dipertahankan.
Pesan Mie Ayam Bakso Pangsit

Setelah melihat-lihat menu, pilihan saya jatuh pada Mie Ayam Bakso Pangsit. Untuk minuman, saya hanya memesan air mineral kemasan 500 ml.
Begitu datang, tampilannya sebenarnya cukup menggoda. Di dalam satu mangkuk terdapat mie dengan potongan ayam dan jamur, sawi hijau, kemudian dilengkapi tiga bakso berukuran kecil serta dua pangsit basah.
Sampai di titik ini, ekspektasi saya masih cukup tinggi.
Saya kemudian mulai mencicipi mienya tanpa menambahkan saus, sambal, ataupun bumbu tambahan.
Biasanya kalau makan mie ayam, saya justru lebih suka mencicipinya terlebih dahulu dalam kondisi original. Menurut saya, mie ayam yang enak seharusnya sudah memiliki rasa asin dan gurih dari racikan mie, kuah, maupun topping ayamnya.
Saya juga termasuk orang yang cukup jarang menambahkan saus ke mie ayam. Alasannya sederhana, saya ingin merasakan karakter rasa yang memang dibuat oleh penjualnya tanpa terlalu banyak mengubahnya dengan bumbu tambahan.
Namun, pengalaman saya kali ini ternyata sedikit berbeda. Suapan pertama membuat saya sedikit bingung.
Rasa mie ayamnya terasa cukup plain atau, kalau boleh saya gambarkan dengan sederhana, agak bland.
Bukan berarti rasanya tidak bisa dimakan. Mie, ayam cincang, jamur, dan kuahnya tetap bisa dinikmati. Hanya saja, saya merasa ada rasa gurih dan asin yang biasanya langsung muncul ketika menyantap mie ayam, tetapi kali ini tidak terlalu terasa.
Padahal saya datang dengan ekspektasi yang cukup tinggi.
Saya juga mencoba ayam cincangnya. Rasanya ternyata masih terasa cukup ringan. Jamurnya pun memberikan pengalaman yang kurang lebih sama. Kuahnya juga belum memberikan rasa gurih yang biasanya saya harapkan dari semangkuk mie ayam.
Awalnya saya berpikir mungkin memang seperti ini karakter mie ayam yang disajikan di tempat tersebut. Apalagi ketika melihat meja yang berada di area makan.
Di sana tersedia berbagai macam pelengkap yang bisa digunakan sendiri oleh pengunjung. Ada garam, kecap, saus, sambal, acar, serta perlengkapan makan seperti sendok dan garpu.
Konsep seperti ini membuat saya berpikir bahwa mungkin memang racikan awal mie ayamnya sengaja dibuat relatif ringan agar pelanggan bisa menyesuaikan sendiri rasa sesuai selera.
Jadi saya pun mencoba meraciknya.
Sedikit garam saya tambahkan. Kecap dan saus ikut masuk. Sambal juga saya tambahkan, begitu pula dengan acar.
Tetapi setelah saya racik sendiri, ternyata sensasinya masih belum terlalu berubah.
Bahkan Acar Pun Terasa Flat
Saya termasuk orang yang suka acar. Bahkan, sesekali saya sengaja membuat acar sendiri di rumah untuk dijadikan pendamping nasi goreng atau mie instan. Buat saya, rasa asam dan segarnya bisa menjadi penyeimbang ketika menyantap makanan yang gurih atau berminyak.
Namun, acar yang saya coba di sini terasa cukup ringan. Rasa asam segarnya kurang dominan seperti acar yang biasanya saya temui di tempat makan lain.
Sekali lagi, mungkin memang karakter rasa yang ingin ditawarkan Mie Ayam Gondangdia seperti itu. Saya tentu tidak bisa mengatakan bahwa racikan mereka salah.
Selera orang berbeda-beda.
Bisa jadi ada pelanggan yang memang menyukai mie ayam dengan rasa yang lebih ringan sehingga bisa menyesuaikan sendiri menggunakan garam, sambal, kecap, dan pelengkap lainnya.
Sayangnya, setelah saya mencoba menyesuaikannya dengan selera saya sendiri, hasil akhirnya tetap belum terlalu cocok di lidah.
Dan ini tentu saja merupakan pengalaman pribadi saya. Bisa saja pengalaman kalian nantinya berbeda ketika mencobanya.
Saya sendiri mungkin sudah terlalu terbiasa dengan mie ayam yang rasa gurihnya langsung terasa sejak suapan pertama. Maklum, lidah orang Indonesia, khususnya saya, yang sudah cukup lama “terkontaminasi” micin sejak kecil, hehehe.
Lalu Bagaimana dengan Harga Seporsi Mie Ayam?
Untuk seporsi mie ayam bakso pangsit, waktu itu saya membayar sekitar Rp61.000. Sementara untuk air mineral kemasan 500 ml, kalau tidak salah harganya berada di kisaran Rp10.000 sampai Rp15.000.
Saya memang sudah tidak menyimpan nota pembeliannya sehingga tidak bisa memastikan nominal air mineralnya secara tepat. Kalau ditotal, uang yang saya keluarkan sekitar Rp80 ribuan termasuk pajak.
Untuk sebuah tempat makan yang membawa nama legendaris, saya pribadi berharap mendapatkan pengalaman rasa yang lebih berkesan. Apalagi ketika harga yang dibayarkan sudah berada di kisaran tersebut.
Namun, saya juga memahami bahwa harga makanan tidak semata-mata ditentukan dari rasa atau ukuran porsi.
Ada biaya operasional, lokasi, bahan baku, tenaga kerja, hingga nilai historis sebuah tempat makan yang sudah bertahan selama puluhan tahun.
Jadi saya tidak ingin mengatakan bahwa harganya terlalu mahal secara mutlak.
Saya hanya merasa bahwa dengan nominal yang saya keluarkan, pengalaman makan yang saya dapatkan belum sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi pribadi saya.
Mie Ayam Gondangdia Tetap Punya Cerita Panjang
Terlepas dari pengalaman saya yang kurang puas dengan rasa dan harganya, ada satu hal yang menurut saya tetap luar biasa dari Mie Ayam Gondangdia.
Tempat ini bisa bertahan sejak 1968 sampai sekarang. Bayangkan berapa banyak tempat makan yang sudah muncul dan kemudian menghilang dalam rentang waktu tersebut.
Mie Ayam Gondangdia justru masih berdiri dan memiliki pelanggan setia.
Bahkan sejak dulu, tempat ini sudah dikenal oleh banyak kalangan. Sejumlah sumber juga mencatat bahwa pelanggan Mie Ayam Gondangdia datang dari berbagai generasi dan pernah menjadi langganan sejumlah tokoh terkenal.
Artinya, pasti ada sesuatu yang membuat orang datang kembali. Mungkin bagi sebagian orang jawabannya adalah rasa mie yang khas. Mungkin juga karena faktor nostalgia.
Bisa jadi ada orang yang sejak muda sudah mengenal Mie Ayam Gondangdia, kemudian puluhan tahun setelahnya masih kembali ke tempat yang sama untuk menikmati menu yang pernah mereka makan ketika masih muda.
Hal seperti itu tidak bisa diukur hanya dari harga seporsi mie ayam. Dan saya rasa itulah salah satu alasan kenapa label “legendaris” masih melekat sampai sekarang.

Buat kalian yang penasaran dan ingin mencoba sendiri, Mie Ayam Gondangdia berada di Jl. R.P. Soeroso No. 36, Cikini, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, 10350.
Lokasinya cukup strategis karena berada di kawasan Cikini dan relatif dekat dengan beberapa titik transportasi umum.
Dari kawasan Taman Ismail Marzuki juga cukup dekat. Kalau sedang berkunjung ke perpustakaan atau menikmati berbagai kegiatan di TIM, tempat ini bisa menjadi salah satu pilihan kuliner yang dapat didatangi dengan berjalan kaki.
Buat yang menggunakan KRL Commuter Line, kawasan ini juga cukup commuter friendly karena bisa dijangkau dari Stasiun Cikini maupun Stasiun Gondangdia, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki atau menggunakan transportasi online.
Jadi, Apakah Mie Ayam Gondangdia Layak Dicoba?
Saya tetap menyarankan kalian untuk mencobanya kalau memang penasaran.
Bukan karena saya merasa rasanya pasti cocok untuk semua orang, tetapi karena Mie Ayam Gondangdia punya cerita yang panjang dan karakter tempat yang menarik untuk dirasakan sendiri.
Rating Saya
★★★★★ ★★★★★
3,4/5
Penilaian ini berdasarkan pengalaman pribadi saat berkunjung.
Untuk urusan rasa, pengalaman saya pribadi memang kurang sesuai dengan ekspektasi. Tetapi sekali lagi, ini murni pengalaman pribadi.
Selera setiap orang berbeda. Apa yang menurut saya kurang cocok, bisa saja justru menjadi rasa yang kalian cari.
Lagipula, kalau sebuah tempat bisa bertahan lebih dari setengah abad dan tetap punya pelanggan sampai sekarang, tentu ada alasan yang membuat orang terus kembali.
Mungkin saya saja yang belum menemukan alasan tersebut dalam satu kunjungan. Kita coba lagi nanti dikemudian hari.
Jadi kalau kebetulan sedang berada di Cikini, tidak ada salahnya mampir dan mencoba sendiri. Siapa tahu setelah suapan pertama, kalian justru punya cerita yang berbeda dengan saya.