3 November 2026 09.07 WIB • 2 menit

Tikus dan curut memiliki ukuran tubuh relatif kecil, warna bulu cenderung gelap, serta sering terlihat berkeliaran di dalam atau sekitar rumah. Kemiripan itu membuat masyarakat kerap menganggap tikus dan curut sebagai hewan yang sama.
Padahal, keduanya berasal dari kelompok hewan yang berbeda. Perbedaan itu dapat dikenali melalui bentuk fisik, habitat, hingga pola makan. Dosen Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB University, Dr Swastiko Priyambodo, menjelaskan bahwa tikus termasuk kelompok hewan pengerat, sedangkan curut merupakan mamalia pemakan serangga.
“Tikus termasuk dalam ordo Rodentia atau kelompok hewan pengerat, pemakan segala terutama serealia. Sementara curut termasuk dalam ordo Insectivora yang umumnya memakan serangga dan cacing tanah,” jelas Swastiko.
Apa Perbedaan Tikus dan Curut?
Perbedaan keduanya dapat diamati dari bentuk tubuh. Tikus umumnya memiliki ekor panjang dengan moncong berukuran sedang dan proporsional. Sebaliknya, curut mempunyai ekor lebih pendek serta moncong yang relatif lebih panjang.
Di lingkungan permukiman, salah satu spesies tikus yang sering ditemukan adalah tikus rumah (Rattus tanezumi). Sementara itu, curut rumah dikenal dengan nama ilmiah Suncus murinus.
Keduanya juga memiliki kebiasaan hidup yang berbeda. Menurut Swastiko, tikus rumah umumnya menjadikan para-para atau bagian langit-langit rumah sebagai habitat. Adapun curut rumah lebih sering ditemukan di permukaan tanah atau lantai.
Selain tikus rumah, terdapat pula mencit rumah (Mus musculus) yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil. Spesies ini masih termasuk kelompok Rodentia, begitu pula tikus got (Rattus norvegicus) yang memiliki ukuran tubuh lebih besar.
Swastiko menyebut mencit rumah, tikus rumah, dan tikus got sebagai rodensia kosmopolit. Artinya, ketiga jenis hewan pengerat tersebut memiliki persebaran luas di berbagai benua. Penyebarannya bahkan mengikuti aktivitas dan persebaran manusia.
Curut Indonesia Punya Banyak Spesies
Menariknya, curut juga memiliki keanekaragaman jenis yang cukup tinggi. Penelitian terhadap kelompok mamalia ini di Sulawesi bahkan berhasil mengungkap 14 spesies baru yang sebelumnya belum teridentifikasi.
Penemuan tersebut dilakukan Anang S. Achmadi, peneliti Pusat Riset Biologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama Jake Esselstyn dari Louisiana State University, Amerika Serikat, dan Kevin C. Rowe dari Museum Victoria, Australia.
Setelah sekitar satu dekade penelitian, tim memeriksa hampir 1.400 spesimen celurut. Melalui analisis molekuler dan morfologi, mereka berhasil mengidentifikasi sekitar 21 spesies celurut di Sulawesi. Sebanyak 14 di antaranya merupakan spesies baru.
“Penemuan ini menambah keanekaragaman celurut Sulawesi menjadi tiga kali lebih banyak daripada yang diketahui dari pulau lain mana pun,” ujar Anang dalam keterangan resmi BRIN.
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam Bulletin of the American Museum of Natural Historydengan judul Fourteen New Endemic Species of Shrew (Genus Crocidura) from Sulawesi Reveal a Spectacular Island Radiation.
Waspadai Risiko Penyakit dari Tikus
Mengenali perbedaan tikus dan curut juga penting dari sisi kesehatan. Swastiko menjelaskan, tikus dapat menjadi pembawa sejumlah penyakit yang berpotensi menular kepada manusia, seperti pes, leptospirosis, dan hantavirus.
Leptospirosis, misalnya, dapat menginfeksi manusia melalui kontak dengan air atau tanah yang tercemar urine hewan terinfeksi, termasuk tikus. Karena itu, keberadaan tikus di sekitar rumah perlu diwaspadai.
Sementara itu, menurut Swastiko, curut tidak dikenal sebagai pembawa penyakit yang sama seperti tikus. Meski demikian, masyarakat tetap perlu menghindari kontak langsung dengan hewan liar.
Tikus rumah, mencit rumah, maupun curut rumah dapat ditangkap menggunakan perangkap berperekat atau glue trap. Namun, proses penanganannya perlu dilakukan secara hati-hati untuk menghindari kontak langsung dengan hewan maupun bahan yang berpotensi terkontaminasi.
Ikuti GNFI agar tak ketinggalan kabar baik
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.
Tim Editor