1. News
  2. Berita
  3. Seni Persuasi

Seni Persuasi

seni-persuasi
Seni Persuasi

Salah satu hal yang sering dikeluhkan oleh para anak muda ketika memasuki dunia kerja adalah sulitnya membuat perubahan di organisasi mereka. Mereka datang dengan semangat menyala, idealisme akan ide-ide baru. Namun, sering kali mereka merasa menghadapi jalan buntu ketika menghadap pimpinan untuk mengajukan ide tersebut.

Di sinilah muncul keluh kesah mengenai generation gap, orang-orang tua yang keras kepala tidak mau berubah dan sebaliknya anak muda yang masih bau kencur belum tahu kondisi nyata di lapangan. Ide yang bagus akhirnya layu sebelum sempat tumbuh dan akhirnya tenggelam begitu saja. Apakah tidak ada solusi atas masalah transformasi ini? 

Seni persuasi sesungguhnya bukan keterampilan baru. Juga tidak terkait dengan generasi atau usia tertentu. Bukankah para remaja piawai merayu orangtuanya agar ia bisa pulang malam ataupun membeli mainan impiannya ketika kecil dahulu. Sekarang, persuasi menjadi semakin sulit bukan karena orang makin bodoh, tetapi karena makin banyak orang merasa sudah cukup pintar.

Dunia kerja bergerak cepat, informasi dan perubahan datang bertubi-tubi. Dalam kondisi seperti ini, banyak orang tanpa sadar membangun lapisan pelindung ego. Setiap ide baru terasa seperti kritik terselubung yang menilai bahwa keputusan lama keliru. Oleh karena itu, refleks pertama bukan mendengar, melainkan melawan.

Lebih dari 2000 tahun lalu, filsuf Aristoteles merumuskan inti keterampilan persuasi melalui tiga konsep sederhana, yaitu ethos, pathos, dan logos. Ethos berbicara tentang siapa kita di mata orang lain. Bukan jabatan, bukan usia, melainkan apakah kita dianggap matang, konsisten, dan dapat dipercaya. Pathos menyentuh wilayah emosi, apakah orang merasa aman ketika mendengar kita berbicara, merasa dimengerti kebutuhannya, terhubung dengan narasi yang disampaikan sehingga mendukung penerimaan ide. Sementara itu, logos adalah logika, tetapi logika yang relevan bagi pendengar, bukan sekadar logika yang benar menurut pembicara.

Dunia kerja modern terbiasa berfokus pada logos. Kita melatih orang menyusun proposal, presentasi, dan business case, tetapi jarang mengajarkan bagaimana membaca manusia. Akibatnya, kita sering menyamaratakan manusia, tidak biasa melihat karakter dan berusaha membangun “pathos” dengannya.  Tentunya banyak ide yang secara logis masuk akal, tetapi secara psikologis, ide ini masih butuh proses pencernaan. Bukan ide yang sebenarnya ditolak, melainkan rasa nyaman, rasa percaya ketika ide tersebut diajukan.

Strategi persuasi individu sulit

Kisah Apple hampir selalu dikaitkan dengan satu figur: Steve Jobs. Ia digambarkan sebagai orang yang visioner  keras kepala dengan keyakinannya. Namun, yang sering terlupakan, Apple justru berkembang karena ada orang-orang di sekitar Jobs yang memahami satu seni langka: bagaimana mempersuasi Jobs yang dikenal cepat menolak ide.

Ia bisa memotong pembicaraan, memutus ide, bahkan menertawakannya. Banyak orang menyerah di titik ini. Namun, sebagian kecil tidak. Mereka belajar membaca pola psikologis Jobs, bukan melawannya. Mereka tidak memaksakan kesimpulan, tapi pandai membaca kapan harus bertanya, kapan harus diam dan kapan bertahan ketika menghadapinya.

Beberapa pemimpin memang menantang untuk dipersuasi sehingga dibutuhkan strategi khusus.

Pertama, tipe “si paling tahu” yang cenderung tampil sangat percaya diri, cepat menyimpulkan, dan kerap memotong pembicaraan karena merasa sudah memahami persoalan. Kisah Steve Jobs saat mendatangi CEO Corning Glass menunjukkan hal ini, hingga Wendell Weeks dengan tenang membiarkannya menjelaskan sendiri batas pemahamannya. Melalui pertanyaan terbuka seperti “Bagaimana jika…?” dan “Dapatkah kita…?”, diskusi pun beralih dari keyakinan sepihak menjadi proses kolaboratif.

Hasilnya adalah sebuah pesan dari Jobs yang kemudian dibingkai Weeks di kantornya, “We couldn’t have done it without you.” Sebuah contoh persuasi tanpa konfrontasi.

Kedua, si “penjaga konsistensi” adalah tipe yang memuja keteguhan dan memandang perubahan sikap sebagai kelemahan yang bisa menggoyahkan identitasnya sebagai pengambil keputusan. Kalimat bernuansa koreksi kerap ia anggap ancaman, sehingga pendekatan paling efektif adalah memberi ruang kendali lewat pertanyaan yang menekankan kesinambungan prinsip sambil menyesuaikan kondisi. Contohnya, “Kalau kita ingin tetap menjaga prinsip lama, tetapi menyesuaikan kondisi baru, opsi apa yang memungkinkan?” Dengan begitu, ia bisa menjadi lebih lentur tanpa merasa harga dirinya runtuh.

Ketiga, si “narsistik”. Tipe ini tampak percaya diri, dominan, dan penuh visi. Namun, di balik itu, identitasnya sangat bergantung pada pengakuan. Kritik kecil bisa terasa seperti serangan pribadi. Tak heran banyak orang memilih diam atau berbicara sangat hati-hati di hadapannya, takut memicu reaksi defensif. Untuk menghadapinya, kita harus mengangkat sisi identitas lain yang merupakan kekuatannya sehingga egonya merasa aman dan siap menerima pembelajaran baru.

Keempat, tipe “suka berdebat” yang justru hidup dari gesekan dan tidak nyaman dengan kesepakatan cepat. Mereka menghormati keteguhan, kesiapan data, serta keberanian mengakui kelemahan dan memperbaiki argumen. Karena persuasi pada tipe ini berlangsung bertahap, dibutuhkan ketahanan mental, konsistensi sikap, dan kekuatan intelektual untuk melewati proses diskusi yang panjang.

Kesalahpahaman terbesar tentang persuasi adalah menganggapnya sebagai keterampilan semata. Persuasi sejati dibangun jauh sebelum rapat dimulai. Ia tumbuh dari kebiasaan sehari-hari melalui cara mendengarkan tanpa memotong, cara merespons kritik tanpa defensif, cara mengakui keterbatasan tanpa kehilangan wibawa. Persuasi bukan trik, tetapi kebiasaan.

Persuasi adalah sebuah keistimewaan, sebuah kesempatan untuk terhubung, menginspirasi, dan membuat dampak yang positif. Setiap kali berhasil melakukan persuasi pada seseorang, kita meninggalkan sepenggal jejak dalam hidupnya karena membuatnya beralih dari pilihan yang sebelumnya sudah dibuat.

Untuk itu, sebelum melakukan persuasi sebaiknya kita bertanya pada diri sendiri, apakah yang kita tawarkan ini benar-benar menambah nilai dalam hidup mereka? Persuasi tumbuh ketika kita sungguh-sungguh melihat potensi orang lain, peduli pada perjalanan mereka, dan percaya sepenuh hati pada apa yang kita tawarkan.

Baca juga: Sanksi

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Linawaty Mustopoh

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Seni Persuasi
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us