1. News
  2. Berita
  3. Basa-basi yang Terlupakan

Basa-basi yang Terlupakan

basa-basi-yang-terlupakan
Basa-basi yang Terlupakan

Ada ironi yang makin terasa dalam kehidupan modern kita. Kita hidup di zaman interaksi tanpa henti dengan rapat daring, grup pesan instan, notifikasi real time, tetapi justru ada keheningan sosial yang terasa makin luas. Kita jarang benar-benar sendirian, tetapi juga jarang benar-benar “berjumpa”.

Di restoran maupun kedai kopi, ketika orang seharusnya sibuk berinteraksi satu sama lain, tak jarang kita melihat mereka malah sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Apalagi dalam pertemuan daring. Saat menunggu seluruh peserta rapat hadir, sering hanya ada keheningan karena anggota yang sudah hadir menutup mikrofon bahkan kamera videonya sehingga yang lain tidak tahu apakah ia benar-benar “hadir” di sana. Mikrofon baru dibuka ketika kita merasa perlu bicara. Kita hidup dalam budaya “langsung ke inti”. Efisien. Cepat. Padat.

Banyak orang tidak menyadari fenomena ini karena merasa tetap terhubung melalui perangkat elektronik, lewat respons yang mereka terima atas unggahan di media sosial. Namun, tanpa disadari, kita justru melupakan keterampilan yang dulu hadir secara alami, yaitu keterampilan berinteraksi yang pernah begitu mudah dan kerap dianggap sepele.

Melakukan perbincangan singkat ketika dua manusia saling mengakui keberadaan satu sama lain tanpa agenda, tanpa target, tanpa KPI, dalam momen-momen sederhana, seperti perjumpaan di lift, saat mengambil minuman atau makanan kecil di pantry, kini terasa asing dan sulit dilakukan karena tak lagi menjadi kebiasaan.

Bukan basa-basi “busuk”

Di dunia profesional, basa-basi sering dipersepsikan sebagai pemborosan waktu. Padahal, pembicaraan ringan adalah bagian penting dari infrastruktur relasi. Tanpanya, kepercayaan tidak punya fondasi.

Percakapan ringan sebelum rapat membuat diskusi sulit terasa lebih manusiawi. Interaksi kecil di luar agenda membuat kritik lebih mudah diterima. Bahkan, dalam proses negosiasi, perbincangan di menit-menit awal sering menentukan apakah pihak lain akan membuka diri atau menutup pintu untuk bertahan. Basa-basi bukan sekadar pelengkap. Ia prasyarat yang sangat penting.

Kecepatan yang rapuh

Dalton Kehoe, pengajar komunikasi interpersonal, menyebut fase awal percakapan sebagai connect talk. Sebuah fase transisi yang tidak bertujuan untuk bertukar ide besar, tetapi bertukar sinyal psikologis yang sangat mendasar: apakah aman berada di sini bersamamu. Kita sering lupa bahwa hubungan manusia tumbuh dari rasa aman. Sebelum seseorang siap untuk berbagi dan menerima, mereka perlu merasa diterima sebagai manusia.

Sementara itu, banyak yang ingin langsung masuk pada diskusi bermakna meskipun rasa aman itu belum terbentuk. Kita ingin cepat dianggap substansial, cepat terlihat kompeten, cepat “masuk ke inti”. Padahal, tanpa alas kepercayaan, ide yang baik bisa terdengar seperti penghakiman, pertanyaan yang netral terasa seperti interogasi, dan keheningan kecil berubah menjadi kecanggungan.

Akibatnya, percakapan terasa dingin, defensif, atau kaku lalu buru-buru disimpulkan sebagai “tidak nyambung”. Seolah masalahnya ada pada orang lain, bukan pada ritme yang dilompati.

Pakar komunikasi Vanessa Van Edwards menganalogikan small talk sebagai engsel sosial. Engsel itu kecil, nyaris tak terlihat, dan sering diremehkan, tetapi tanpanya pintu hubungan tidak akan pernah bergerak mulus. Kita sering mendorong pintu terlalu keras karena ingin cepat masuk, lalu menyalahkan pintunya ketika ia macet, atau ketika pintu itu balik menghantam kembali dengan keras. Padahal, yang terjadi adalah karena kita tidak memberi waktu bagi engsel itu bekerja.

Teknologi yang memudahkan seperti emoticon dan stiker-stiker lucu di ponsel kita memang membuat keterampilan mengekspresikan kata-kata ini lama-lama berkurang. Ketika kesulitan untuk mencari kata yang tepat, kita cukup mengirimkan emoticon atau stiker lucu sebagai pengganti kata.

Small talk, mulai dari yang kecil

Banyak orang berkata, “Saya tidak tahu harus bicara apa.” Kita juga sering khawatir mengganggu mereka yang terlihat sedang sibuk menatap layar teleponnya, khawatir uluran kita untuk membangun jembatan ditolak oleh pihak lain.

Anak kecil adalah pelaku small talk ulung. Dengan rasa ingin tahu mereka yang besar, mereka menghampiri orang lain yang menarik perhatiannya, apakah itu warna sepatu yang menyala, rambut yang unik ataupun gantungan tas yang lucu. Tanpa rasa khawatir mereka menunjuk, berceloteh dan hampir selalu manusia dewasa yang dihampiri terpancing untuk berkomunikasi dengan mereka.

Kunci dari melakukan small talk yang berhasil adalah minat yang tulus pada pihak lain. Tidak perlu mengatakan kalimat-kalimat cerdas karena basa-basi tidak menuntut kepintaran, melainkan kehadiran. Bukan pertanyaan hebat yang membuat orang terkesan, melainkan karena menunjukkan minat yang nyata.

Cari hal-hal yang membawa kesamaan antara kita dengan mereka sehingga memungkinkan pembicaraan berlangsung interaktif. Dengan mendengarkan secara penuh bukan sibuk menyiapkan jawaban ataupun pertanyaan lanjutan, kita menunjukkan ketulusan. Selain bertanya, kita juga dapat berbagi tentang diri kita untuk menunjukkan kesediaan kita membuka diri.

Sedikit kikuk itu wajar, tetapi ketidaktulusan akan langsung terasa. Small talk yang tidak sempurna tetap lebih hangat daripada diam yang berjarak. Kita juga perlu jeli membaca sinyal-sinyal bahasa tubuh pihak lain, apakah mereka juga ingin membuka diri dalam situasi ini. Jauhkan gadget dalam momen ini karena dapat mematikan jembatan yang baru mulai terbangun.

Practice makes perfect, kita bisa memulai dari target-target kecil, seperti satu komentar ramah per hari, satu pertanyaan ringan saat menunggu, satu respons yang tidak otomatis dengan orang-orang di pinggiran hidup kita semisal kasir minimarket, barista, rekan di lift, atau orang yang duduk di sebelah kita saat di kereta.

Periset Gillian Sandstrom menemukan bahwa percakapan singkat yang seolah untuk membunuh waktu itu ternyata dapat membahagiakan orang karena membuat mereka merasa lebih terhubung dan lebih baik secara emosional. Small talk tidak menguras energi. Ia justru sering mengisi ulang energi sosial yang kita tidak sadari sedang menipis.

Hasilnya, tidak hanya peningkatan percaya diri, tetapi juga penurunan rasa kikuk yang menahun. Di dunia yang bergerak cepat dan serba layar, basa-basi justru menyeimbangkan kita dan bertahan di tempat yang paling penting, yakni kemanusiaan.

Baca juga: Sanksi

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Emilia Jakob

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Basa-basi yang Terlupakan
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us