1. News
  2. Kombitainment
  3. Melukis Masa Depan Timurnesia

Melukis Masa Depan Timurnesia

melukis-masa-depan-timurnesia
Melukis Masa Depan Timurnesia

Lahir dan besar di Jakarta, saya terpapar dengan musik-musik dari hajatan. Sebab di pemukiman tempat saya tinggal, tak jauh dari perumahan elit di Jakarta Selatan. Silih berganti acara, mulai nikahan dan sunatan selalu mengandalkan panggung hiburan sebagai satu kontribusi baik kepada masyarakat sekitar. Kalau ga dangdut, ya gambus. Formatnya mulai dari organ tunggal sampai lengkap dengan full instrumen. Tergantung kemampuan.

Teman-teman pun dari berbagai kota silih berganti menyampaikan kisahnya. Kurang lebih sama apa yang mereka alami. Hanya saja musiknya berbeda di tiap daerah. Yang berasal dari Jawa Barat, akrab dengan suara kecapi. Di Jawa Tengah didominasi oleh alunan Campur Sari. Geser lagi ke Jawa Timur ada Jaranan dan Koplo. Sementara sepanjang pesisir utara, akrab dengan sebutan Dangdut Pantura.

Lalu yang dari Sumatera Utara, Gondang dan Elektone jadi kawan baik menemani hajatan sampai pesta adat. Di Aceh lebih punya Rapa’i. Dari Deli, Riau, dan Sumatera Selatan didominasi oleh musik-musik Melayu. Kalimantan, Sulawesi, hingga Bali pun punya ragam musik hajatan yang berbeda lagi. Bergeser ke Timur, mulai dari Maluku, NTT, hingga Papua juga ada ragamnya sendiri. Sungguh kaya pengalaman sonik negeri ini.

Mereka semua diikat oleh satu kebiasaan masyarakatnya; berkumpul dan bergoyang bersama untuk menikmati alunan musik. Sampai streaming platform belum ada, musiknya mengalun di daerah masing-masing. Tidak ada yang mempermasalahkan. Karena musisi dan penciptanya sudah punya kesejahteraan dari berbagai kegiatan yang digelar masyarakat setempat. Ada perputaran ekonomi di sana.

Masuklah era rekaman mandiri dan streaming platform yang memungkinkan orang-orang berkarya dengan preferensinya masing-masing. Musik-musik “hajatan” tadi juga menjadi referensi. Diangkat ke medium lain. Dari panggung hajatan ke dalam cloud dan diputar tanpa batas, lintas negara dan litas pendengar. Diakomodir oleh momen dan viralitas.

Setelah era koplo yang bertengger di puncak klasemen tangga lagu. Kini musik-musik dari Indonesia bagian Timur yang mendapatkan perhatian. Pendengarnya ratusan juta. Tak hanya di Indonesia. Seketika kita berpikir, takut diklaim negara lain lantaran merasa tidak ada genre yang representatif masuk di dalam katalog musik streaming platform.

Ada yang mengategorikannya sebagai genre Acara/Event, ada yang masuk ke Dansa, ada pula yang masuk ke Hyperlocal, ada juga yang masih nyangkut di kategori Tradisional, padahal musiknya begitu modern, dan lain sebagainya.

Identitas menjadi hal yang penting untuk dapat bertahan di Industri. Seperti genre K-pop yang akhirnya mendunia dan merepresentasikan musik Korea Selatan. Sementara musik dari Indonesia Timur ini terlalu modern untuk disebut tradisi dan terlalu etnik untuk disebut pop mainstream.

Perihal ini sampai menjadi perhatian Kementerian Kebudayaan RI hingga membuat rancangan “Peta Jalan Musik Indonesia Timur”. Berbagai stakeholder industri musik diundang untuk berdiskusi Selasa (27/1) lalu di Jakarta. 

Para musisi yang berkarya khawatir bila tidak masuk genre maka akan sulit dipasarkan dan mendapat panggung. Akhirnya monetisasi karya jadi tidak maksimal. Realitasnya semua digital streaming platform, festival, award, dan brand selalu menggunakan genre di setiap aktivitasnya. Sementara musik dari Timur yang sedang viral hingga Istana Negara juga menggunakan malah alpa dari struktur genre. Sudah keburu viral dan go global. Akibatnya keberlangsungan dari musik ini begitu rapuh. Hanya bergantung pada keberuntungan algoritma dan momen viral saja. Hal Ini bisa disikapi sebagai krisis kategori market dan hilirisasi ekonomi.

Sudah tepat bila pemerintah turut andil menentukan peta jalannya. Asal tidak terjebak pada penamaan genre saja. Yang terpenting bagaimana kerangka berpikir untuk membuat genre ini sesuai dengan kultur, market, industri, dan kepentingan nation branding seperti yang sudah dilakukan Korea Selatan sejak lama dengan Korean Wave-nya.

Awalnya budaya lalu dikemas menjadi brand global. Lalu musisi harus sadar berperan juga menjadi value chain. Sehingga level tertinggi musik dari Indonesia Timur sebagai soft power Indonesia mampu diraih dan punya peran penting dalam level geopolitik budaya.

Setidaknya ada empat pilar yang bisa dijadikan dasar untuk mewujudkan “lukisan” musik dari Indonesia Timur ini. Pertama, Genre & Brand Architecture. Strukturnya bisa dimulai dari menciptakan genre utama dan kemudian melahirkan sub-sub genre yang bisa lebih relevan dengan market musik.

Kedua, Talent & Production Hub. Fungsinya untuk mewujudkan standar kualitas. Langkah ini bisa dibangun semacam “music lab” yang mengakomodir lini ekosistem produksi musik dengan membuat berbagai macam program seperti producer pool, songwriting camp, visual director, branding coaching, dan DSP optimizer.

Ketiga, Distribution & Monetization Engine. Pilar ini jadi bagian yang sangat penting di hilir. Bagaimana kita menyikapi platform dan cara monetisasinya dengan semaksimal mungkin. Perlu upaya dan kesadaran tentang bagaimana industri bekerja. Bagaimana peran publisher menjadi kunci untuk memahami peta bisnisnya agar dapat merespons playlist resmi, kanal YouTube kolektif, dan jaringan TikTok, dan program lainnya bersama stakeholder. Monetisasinya bisa berupa sync licensing, brand collab, kampanye pariwisata, dan hak kekayaan intelektual lainnya.

Keempat, Narasi dan Diplomasi. Langkah ini sebagai ujung tombak untuk mengamplifikasi pengalaman dan kualitas sonik musik dari Indonesia Timur. Bisa digunakan dalam program-program expo luar negeri, misi kebudayaan, dan promosi pariwisata hingga acara-acara diplomasi lainnya.

Paling tidak, peta jalan ini harus bisa direalisasikan dalam jangka waktu menengah, minimal 3 tahun agar dapat dilakukan monitor dan evaluasi industrinya. Misal untuk tahun pertama dimulai dari menetapkan genre, 10-20 flagship artist, 1 playlist nasional, dan 1 festival besar. Lalu di tahun kedua bisa melakukan scaling dengan membuat merek dagang, brand partnership, dan juga tur asia. Di tahun ketiga, sebagai ajang pembuktian, export bisa dilakukan asalkan dengan komitmen yang tinggi. Kegiatannya bisa berupa kolaborasi lintas negara, chart internasional di DSP dan media musik internasional, lalu komersialisasi lisensi kekayaan intelektual.

Bukan hal yang mustahil kita dapat mewujudkan peta jalan tersebut. Sebab industri saat ini sudah didukung dengan kebutuhan pengalaman sonik yang baru di tiap digital streaming platform, generasi Z yang “haus” mencari otentisitas karya, lalu pariwisata dan ekonomi kreatif yang sedang digenjot di berbagai lini, hingga soft power yang jadi alat diplomasi.

Lewat forum diskusi tersebut, kini nama genre sudah disepakati dengan “Timurnesia”. Semoga saja upaya baik yang difasilitasi oleh pemerintah melalui Fadli Zon (Menteri Kebudayaan), Giring Ganesha (Wakil Menteri Kebudayaan), Yovie Widianto (Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Kreatif), dan Deddy Corbuzier (Staf Khusus Menteri Pertahanan Bidang Komunikasi Sosial dan Publik Kementerian Pertahanan) menjadi wujud komitmen negara selalu hadir dalam mewujudkan kedaulatan negara lewat kebudayaan.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Melukis Masa Depan Timurnesia
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us