Wartapalaindonesia.com, EDUKASI – Artikel ini merupakan isi bab kedua dari buku “Cara Menjadi Relawan Garis Depan di Lokasi Gempa”. Bab kedua Posko Kemanusiaan Relawan garis Depan. Berisi 7 artikel (nomor 7 hingga 13).
Buku ini ditulis oleh Ahyar Stone (Pemimpin Redaksi Wartapala. Anggota Dewan Pengarah SARMMI). Terbit pertama Januari 2024. Penerbit Jasmine Solo, Jawa Tengah. Buku ini diterbitkan atas kerja sama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Wartapala, SARMMI. Selamat membaca. (Redaksi).
a. Komunikasi Relawan dan Warga Bersifat Horizontal
Warga yang rumahnya rusak, kehilangan mata pencarian, kehilangan anggota keluarga, serta mengalami gangguan psikososial, tak boleh diberlakukan sebagai pihak pasif yang nrimo.
Dibalik ketidakberdayaannya, warga tetap punya potensi. Mereka masih ingin bangkit dari kondisi tidak berdaya menuju kondisi yang berdaya.
Tujuan relawan garis depan mendatangi desa terisolir atau terpencil, adalah untuk mendampingi warga. Agar warga di sana mampu memulihkan kehidupannya seperti sebelum terjadi gempa.
Pendampingan akan berlangsung efektif jika model komunikasi relawan garis depan dengan warga bersifat horizontal. Atau komunikasi dua arah yang sejajar. Bukan komunikasi vertikal seperti atasan dengan bawahan.
Dalam komunikasi sejajar, warga ditempatkan pada posisi subjek sekaligus objek. Artinya, ikut menjadi pelaksana sekaligus sasaran. Sementara relawan garis depan berperan sebagai motivator, pelaksana dan penyedia fasilitas.
Model komunikasi dua arah sejajar, mendorong warga dan relawan garis depan mudah berinteraksi akrab, karena sama-sama merasa perlu kerja sama. Dengan demikian tak bakal muncul situasi di mana satu pihak dianggap superior (relawan). Satunya merasa sebagai pihak yang inferior (warga).
12. Mengapa Relawan Garis Depan Perlu Melibatkan Warga yang Didampingi?
b. Menjaga Etika dan Perilaku
Meski interaksi relawan dan warga yang didampingi berlangsung akrab, relawan garis depan tetap wajib menjaga etika dan berperilaku yang baik.
- Menghormati Kearifan Lokal
Relawan garis depan tak boleh menyuruh warga meninggalkan kearifan lokalnya. Mengutif laman kemenkeu.go.id, kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan, serta berbagai strategi kehidupan yang berwujudaktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka.Dalam bahasa asing sering juga dikonsentrasikan sebagai kebijakan setempat “local wisdom”, atau pengetahuan setempat “local Knowledge”, atau kecerdasan setempat “local genius”.
Biarkan warga hidup dengan kearifan lokalnya yang sudah berlangsung mungkin puluhan tahun bahkan lebih dari itu secara turun temurun. Mengajak warga meninggalkan kearifan lokalnya, malah merusak keseimbangan dan tatanan hidup di desa bersangkutan.
- Dilarang Menyebarkan Agama
Menjadi relawan adalah bagian dari ibadah. Tetapi menyebarkan agama di lokasi bencana, justru dilarang. Pelarangan ini ada di Peraturan Kepala BNPB Nomor 17 Tahun 2011. Tentang Relawan Penanggulangan Bencana. - Tidak Boleh Diskriminasi
Dalam melakukan pendampingan, relawan garis depan harus menjunjung prinsif “kemanusiaan di atas segalanya”. Dengan berpegang pada prinsif yang berlaku universal ini, relawan garis depan pasti terhindar dari bersikap diskriminasi.Menurut KBBI Kemdikbud, diskriminasi adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama dan sebagainya.
Relawan garis depan harus memperlakukan seluruh warga sesuai dengan kondisinya selaku korban gempa. Bila warga bersangkutan sakit, lakukan pengobatan. Bila warga kekurangan air bersih, bantu air bersih. Walaupun suku, ormas, partai dan agama warga di desa focua area, berbeda dengan relawan garis depan.

- Jangan Mengajari Warga Berbohong
Relawan garis depan tak boleh mengajari warga berbohong. Apalagi sampai menyuruh dan membujuk warga agar berbohong. Contohnya menyuruh warga pura-pura belum dapat bantuan. Atau mengajak warga melipatgandakan jumlah kebutuhan. Tujuannya agar warga mendapat bantuan lebih banyak.Di lokasi gempa, relawan garis depan harus mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan mencontohkan kejujuran. Hal ini dimaksudkan agar warga yang didampingi, tetap jujur dan berperilaku yang baik kendati mengalami musibah yang menghancurkan hidup mereka.
- Tak Usah Bicara Politik
Politik sejatinya merupakan hal yang baik. Tetapi situasi politik sekarang ini malah berkembang ke arah negatif. Akibatnya muncul perpecahan antar kelompok dan gesekan di masyarakat akar rumput.Saat ini politik cenderung menjadi hal sensitif untuk dibicarakan. Oleh sebab inilah relawan garis depan tak usah membicarakan politik saat mendampingi warga. Dikhawatirkan memicu pertikaian baru atau membuka pertikaian lama antar warga kendati peristiwa politik seperti Pilkades, Pilkada dan Pilpres sudah berlalu. Pertikaian antar warga pasti membuat warga lambat pulih.
Relawan garis depan hendaknya selalu ingat bahwa dirinya adalah “relawan kemanusiaan”, dan bukan “relawan politik”. Dua istilah yang mirip ini memiliki makna yang bertolak belakang. “Relawan kemanusiaan” membuat orang yang menangis menjadi bahagia. Sedangkan “relawan politik”, membuat orang yang bahagia menjadi menangis.
- Jangan Mengajak Warga Melanggar Peraturan
Di kejadian gempa, layanan pemerintah desa sering tidak maksimal. Kondisi ini terjadi karena komunikasi yang tidak lancar dan sarana pelayanan yang bermasalah. Kepala desa dan jajarannya yang turut menjadi korban gempa, acapkali juga lambat merespon keperluan warganya.Meski situasi di desa focua area seperti itu, relawan garis depan tak boleh mendukung apalagi sampai mengajak warga melawan pemerintah desa.
Relawan garis depan juga tak boleh mengajak warga melanggar UU, peraturan dan keputusan pemerintah. Relawan garis depan juga tak boleh mengajak warga desa focus area memboikot kunjungan pejabat pemerintah pusat dan daerah.
Relawan garis depan harus menunjukkan dirinya sebagai warga negara yang taat aturan, serta menghormati pemerintah desa, daerah dan pusat.
- Dilarang Mengkonsumsi Miras dan Narkoba
Selama mendampingi warga, relawan garis depan dilarang mengkonsumsi minuman keras (miras) atau narkoba. Misalnya di desa focus area ada beberapa pemuda yang mengkonsumsi miras atau narkoba, relawan garis depan juga tak boleh ikut mengkonsumsinya bersama mereka.Seorang saja relawan garis depan mengkonsumsi narkoba atau miras di desa focus area, maka dia telah membangun citra buruk ke warga yang didampingi.
Citra buruk ini menjatuhkan martabat semua relawan garis depan di posko Kemanusiaan, dan bahkan seluruh relawan di Indonesia.
- Jangan Panik
Salah satu ciri khas gempa adalah munculnya gempa susulan di lokasi yang sama. Tatkala terjadi gempa susulan, relawan garis depan jangan super panik. Apalagi hingga lari tunggang langgang menyelamatkan diri.Relawan garis depan harus menjadi role model saat terjadi gempa susulan. Caranya, tetap tenang sambil menyelamatkan diri dengan memanfaatkan apa yang ada di dekatnya. Misalnya berlindung di bawah meja, menuju area terbuka, langsung ke jalur evakuasi yang sudah disiapkan, atau melakukan tindakantindakan praktis lainnya.
- Jangan Membuat Konten
Jangan pernah menjadikan lokasi bencana sebagai ajang membuat konten joget tiktok dan foto narsis. Melakukan dua hal ini merupakan perilaku yang tidak etis, serta tak menunjukkan empati.Tujuan relawan garis depan jauh-jauh datang ke desa terpencil dan terisolir adalah untuk mendampingi warga. Bukan untuk wisata bencana sambil menghasilkan joget tiktok dan foto narsis di lokasi gempa yang sepi.

- Hindari Mengeluh di Depan Warga
Capek karena mendampingi warga adalah risiko dasar relawan garis depan. Risiko yang sudah diketahui dan siap dihadapi. Meski capek berat, relawan garis depan tetap harus bersikap ramah, optimis, senantiasa siap siaga, dan menunjukkan dia selalu memiliki energi untuk mendampingi agar kehidupan warga segera pulih.Bila Anda capek dan mulai menghindar melakukan pekerjaan yang perlu diselesaikan karena dibutuhkan warga. Coba sejenak pejamkan mata. Lalu tanyakan pada diri Anda, “Untuk apa saya jauh-jauh datang ke sini?”.
Kurang dari lima menit usai Anda bertanya pada diri sendiri, Anda akan merasa ada aliran energi positif yang mengalir di diri Anda. Mendadak segala capek Anda langsung lenyap.
“Untuk apa saya jauh-jauh datang ke sini?”, memang pertanyaan sederhana yang jawabannya juga sederhana. Tetapi efeknya ajaib.
c. Jadilah Teladan
Selain 10 daftar di atas, tentu masih banyak etika dan perilaku baik yang harus dikedepankan oleh relawan garis depan saat mendampingi warga.
Patut Anda ketahui, segala hal yang dilakukan relawan garis depan di desa focus area, pasti diperhatikan warga dan kadang-kadang mereka jadikan contoh.
Lantaran itulah, saat mulai mendampingi warga hingga hendak meninggalkan desa focus area, relawan garis depan wajib menjaga etika dan berperilaku yang baik. Jadilah teladan bagi warga yang Anda dampingi. (as).
Foto || SARMMI
Editor || Danang Arganata, WI 200050
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)