1. News
  2. Kombitainment
  3. Aristofani Fahmi Koordinator MTN Bidang Musik: Salah Satu Blind Spot Terbesar adalah Pemerataan 

Aristofani Fahmi Koordinator MTN Bidang Musik: Salah Satu Blind Spot Terbesar adalah Pemerataan 

aristofani-fahmi-koordinator-mtn-bidang-musik:-salah-satu-blind-spot-terbesar-adalah-pemerataan 
Aristofani Fahmi Koordinator MTN Bidang Musik: Salah Satu Blind Spot Terbesar adalah Pemerataan 

Saat masih menjabat sebagai presiden, Joko Widodo meresmikan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Indonesia bersamaan Desain Besar Manajemen Talenta Nasional (DBMTN) melalui Perpres Nomor 108 Tahun 2024 pada 30 September 2024, dengan melibatkan Bappenas, Kemenpan RB, Kemendikbudristek, BRIN, dan KSP, sebagai wujud komitmen pengembangan SDM talenta unggul untuk Indonesia Emas 2045.

Dalam satu tahun terakhir, kehadiran pemerintah di ranah musik terasa lebih sering dari biasanya. Program muncul, acara digelar, tapi satu nama yang terus terdengar—Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya—masih belum sepenuhnya dipahami para pelaku musik. Apa perannya? Bagaimana mereka bergerak? Dan kenapa lembaga ini mulai banyak bersinggungan dengan ekosistem yang selama ini tumbuh secara mandiri? Untuk itu, Pophariini berbincang dengan Aristofani “Ito” Fahmi, Koordinator MTN untuk bidang musik, demi membuka apa yang sebenarnya terjadi di balik semua dinamika ini.

Ito bukan sosok yang tiba-tiba muncul di meja kebijakan. Ia tumbuh dari rumah seni, menempuh pendidikan musik tradisi di SMKI, lalu etnomusikologi di ISI Surakarta. Perjalanannya melewati banyak simpangan: jurnalisme politik, riset kesejahteraan maestro tradisi, hingga advokasi kebijakan di Koalisi Seni. Latar belakang yang membuatnya memahami dua sisi: kebutuhan riil para pelaku musik, dan mekanisme negara yang sering kali jauh dari realita lapangan.

Kegelisahan yang dibawanya pun sangat konkret. Dari maestro gamelan yang harus bekerja serabutan, sampai musisi muda yang menjual instrumen saat pandemi. Bagi Ito, ini bukan sekadar cerita sedih—ini bukti bahwa ekosistem seni tidak punya jaring pengaman. MTN hadir untuk menutup lubang-lubang itu: bukan dengan membuat panggung baru, tetapi dengan memperkuat yang sudah ada, menyambungkan komunitas daerah ke akses yang lebih besar, dan membangun data talenta yang selama ini tercecer di mana-mana.

Sebagai program jangka panjang, MTN mencoba merapikan jalur perkembangan karier musisi dari pembibitan, pengembangan, sampai rekognisi internasional. Targetnya jelas: menyiapkan talenta terbaik menuju 2045, sekaligus memastikan mereka tahu arah, kebutuhan, dan langkah kariernya. Wawancara ini menjadi cara untuk melihat bagaimana rencana tersebut bergerak—dan apa artinya bagi pelaku musik di seluruh Indonesia hari ini.

Jika melihat lebih jauh, apa blind spot yang masih belum tersentuh dalam ekosistem pembinaan talenta di Indonesia—dan bagaimana MTN Seni Budaya berupaya mengisinya?

Salah satu blind spot terbesar adalah pemerataan. Program bisa hadir di banyak daerah, tetapi implementasinya menuntut sumber daya besar, terutama dalam pengelolaan data. Setiap titik pembibitan dapat menghasilkan ribuan data talenta, namun hanya sebagian kecil yang melanjutkan ke tahap berikutnya. Tantangannya: bagaimana mengakomodasi talenta yang tidak terjaring?

Dari evaluasi perjalanan program, kami melihat perlunya memperkuat kemitraan dengan kampus, kementerian pendidikan, hingga sekolah musik yang sebenarnya sudah menjadi ruang pembibitan aktif. Yang masih kurang adalah fasilitas seperti laboratorium dan kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri. MTN berupaya mendorong agar pendidikan formal dan ekosistem nonformal bergerak sejalan, sehingga talenta—baik yang terprogram maupun independen—tidak berjalan sendiri-sendiri dan tidak merasa tertinggal.

Salah satu tantangan terbesar bagi talenta adalah “disconnect” antara karya dan industri. Dari pengamatan Anda, apa penyebab utamanya, dan bagaimana MTN Seni Budaya merancang intervensi yang sifatnya lebih struktural?

Gap itu banyak muncul dari kesiapan talenta menghadapi industri—mulai dari mental, profesionalisme, hingga performa di balik panggung. Banyak talenta memiliki karya kuat, tetapi belum siap memasuki proses transisi yang diperlukan untuk masuk ke industri. Dalam konteks ini, MTN berfungsi sebagai mediator yang mengisi ruang tengah itu.

Kami mengembangkan platform berbasis data yang memungkinkan talenta memperbarui portofolionya secara mandiri, sementara tim kuratorial memantau perkembangan mereka. Bila ada talenta yang tidak bergerak, intervensi dilakukan—baik melalui pendampingan, program tambahan, maupun kerja sama dengan mitra daerah. Pendekatannya bukan seremonial, tetapi membangun sistem pemantauan yang berkelanjutan, di mana MTN menghubungkan pemerintah daerah, komunitas, dan penyelenggara lokal agar ekosistem tetap tumbuh bersama.

Apa tantangan terbesar dalam menghubungkan talenta muda dengan industri, dan bagaimana MTN Seni Budaya memastikan proses identifikasi berlangsung inklusif di berbagai daerah?

Pada tahap awal, kami mengidentifikasi talenta melalui spektrum genre yang luas agar datanya komprehensif. Namun kemudian muncul tuntutan pemerataan: jangan terpusat di Jawa atau kota-kota besar yang ekosistemnya sudah matang. Karena itu, MTN memprioritaskan wilayah yang selama ini belum terlihat, lalu menghubungkannya dengan kota yang ekosistemnya lebih kuat. Dengan pola ini, talenta dari pinggiran tidak hanya teridentifikasi, tetapi juga tersambung pada peluang lebih besar.

Mulai 2025, kami menerapkan knowledge management untuk merekam potensi, peluang, dan kondisi mitra daerah secara lebih presisi. Data ini menjadi dasar menentukan wilayah prioritas selanjutnya dan memastikan prinsip inklusi terpenuhi. Pendekatannya bertahap: dari pinggiran ke pusat, sehingga keberagaman budaya Indonesia benar-benar mendapat ruang setara dalam proses pembinaan.

MTN membawa mandat besar menyiapkan SDM seni budaya menuju Indonesia Emas 2045. Untuk sektor musik, indikator keberhasilan apa yang paling realistis dicapai dalam 3–5 tahun ke depan?

Dalam 3–5 tahun, kami menargetkan terbentuknya konsorsium festival yang memperkuat kapasitas penyelenggara di berbagai daerah. Jejaring ini memungkinkan festival besar membimbing festival daerah—mulai dari struktur kerja, job desk, hingga KPI. Tahun pertama kami fokus pada pemetaan data pelaksana festival dan laboratorium musik, sementara tahun berikutnya konsorsium mulai diaktifkan.

Di sisi talenta, keberhasilan paling realistis adalah ketika mereka mampu mengenali posisi dan potensinya di dalam trajektori MTN. Talenta memahami tahapannya—dari pembibitan ke potensial, lalu ke presentasi nasional maupun internasional—dan tahu kebutuhan apa yang harus dipenuhi untuk maju. Dengan kesadaran itu, MTN dapat memberikan fasilitas yang lebih tepat, dari pelatihan hingga akses laboratorium. Kemandirian dalam memahami arah karier menjadi fondasi lompatan kualitas.

Skema AsahBakat–Lab–Presentasi–Market tampak menyeluruh. Prinsip kuratorial apa yang membuat rangkaian itu tidak hanya menjadi program, tetapi melahirkan lompatan kualitas?

Pembibitan MTN berjalan melalui dua jalur: ikonikasi dan AsahBakat. Pada ikonikasi, mitra festival memilih figur inspiratif yang sesuai konteks lokal untuk mengenalkan program MTN ke publik. Sementara AsahBakat memetakan kemampuan talenta melalui form identifikasi yang menilai peran mereka—produser, musisi, komponis, dan seterusnya. Dari sana, talenta melanjutkan ke laboratorium pengembangan, presentasi nasional, hingga peluang internasional bila lolos kuratorial.

Prinsip kuratorial kami adalah kesinambungan. Talenta yang tampil di forum internasional diharapkan membawa pulang pengetahuan untuk generasi berikutnya—entah itu model kuratorial atau peluang kolaborasi. Dengan begitu setiap tahap saling menguatkan dan menciptakan efek pengganda dalam ekosistem.

Bagaimana MTN Seni Budaya memastikan program mencapai tujuannya, dan apa peran pelaku musik dalam mendukungnya?

Tujuan besar MTN adalah menyiapkan talenta terbaik Indonesia untuk 2045. Program ini dirancang sebagai trajektori jangka panjang, dari hobi hingga profesi. Jalur ini terbuka bagi siapa pun, sepanjang mereka aktif memetakan potensi diri, memperbarui kemampuan, dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia.

Pelaku musik memegang peran penting. Talenta perlu mengenali arah profesinya, memahami tahapan yang harus dicapai, serta terlibat aktif dalam ekosistem. Ketika talenta dan pemangku kepentingan bergerak bersama, tujuan besar menghadirkan SDM seni budaya unggul di 2045 menjadi jauh lebih mungkin.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Aristofani Fahmi Koordinator MTN Bidang Musik: Salah Satu Blind Spot Terbesar adalah Pemerataan 
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us