
RIBUAN umat Katolik mengikuti perayaan Ekaristi Malam Paskah dengan layanan di Gereja Santo Antonius Padua KotabaruSabtu (4/4). Pastor Kepala Paroki Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru, Nicolaus Devianto Fajar Trinugroho, menyampaikan bahwa tema Paskah tahun ini menekankan kebersamaan dalam pengharapan.
“Tahun ini kami ingin berjalan bersama umat dalam sebuah pengharapan, menjadi teman seperjalanan dalam pengalaman hidup mereka,” terang dia.
Romo Fajar menyebut, perayaan Malam Paskah di gereja tersebut digelar dalam tiga kali misa, dengan jumlah umat yang hadir mencapai sekitar 4.000 orang di setiap perayaan utama. “Harapan kami, pengalaman Paskah ini mendorong umat untuk saling membantu, memberi perhatian kepada yang tersingkirkan, serta terus menjaga toleransi,” kata dia.
Perayaan Paskah di Kotabaru menjadi momentum penting tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi juga bagi seluruh masyarakat untuk memperkuat nilai persaudaraan, kedamaian, dan kepedulian sosial. Kawasan Kotabaru yang berdampingan dengan berbagai rumah ibadah, seperti gereja dan masjid, menjadi simbol nyata harmoni dan toleransi di Yogyakarta.
“Kami pun juga mengusahakan bagaimana toleransi itu tetap terjaga. Terlebih kalau melihat jalur sini ada Gereja Katolik, Gereja Kristen HKBP, dan juga Masjid Syuhada. Maka harapan lebih luasnya, kami ingin terlibat dalam membangun toleransi mungkin bukan skala besar, tapi dalam lingkup yang bisa kami jangkau,” ungkap dia.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo pun ikut mengucapkan selamat merayakan Tri Hari Suci Kamis Putih, Jumat Agung dan Minggu Paskah kepada seluruh umat Katolik
Paskah bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan momen spiritual yang mengandung makna pengorbanan, kebangkitan, dan harapan.
“Tema tahun ini, Kebangkitan-Nya Sumber Pengharapan dan Terobosan Baru, semoga menjadi inspirasi bagi kita semua,” ungkap dia.
Ia juga menegaskan bahwa toleransi antarumat beragama di Yogyakarta terus terjaga dengan baik. Menurutnya, kebersamaan lintas agama terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat momentum Ramadan maupun Paskah.
Hasto juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga kebersihan lingkungan melalui gerakan Mas Jos, Masyarakat Jogja Olah Sampah Sendiri serta memperkuat semangat gotong royong.
“Peristiwa spiritual seperti Idul Fitri dan Paskah ini diharapkan membawa transformasi bagi kita semua, memperbaiki perilaku, serta membentuk karakter generasi muda yang lebih baik,” kata dia.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menjadikan momentum Tiga Hari Suci ini memberikan keberkahan bagi seluruh dunia, tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi lingkungan. (H-2)