
SWASEMBADA pangan di Jawa Tengah semakin terancam. Dalam lima tahun terakhir, sebanyak 79 ribu hektare lahan pertanian telah beralih fungsi. Bahkan sepanjang tahun 2025 lalu alih fungsi lahan ini mencapai 17 ribu hektare.
Lahan pertanian telah tergerus oleh pertumbuhan kawasan industri di Jawa Tengah yang melonjak dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Dampaknya ada puluhan hektare lahan pertanian di provinsi ini telah beralih fungsi hingga mengancam swasembada pangan. Terlebih wilayah Jawa Tengah telah menjadi salah satu daerah penopang pangan nasional.
Sementara itu, berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, terakhir diketahui ada sembilan daerah di Jawa Tengah kembali mengajukan pembangunan kawasan industri yakni Kabupaten Rembang, Kabupaten Demak, Kota Semarang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, Kabupaten Brebes, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, dan Kabupaten Kebumen.
“Saya mencatat ada 79 ribu hektare lahan pertanian di Jawa Tengah telah beralih fungsi dalam kurun waktu lima tahun terakhir,” kata Anggota DPD RI Abdul Kholik.
Terjadinya alih fungsi lahan pertanian tersebut, menurut Abdul Kholik, dikhawatirkan akan berdampak pada ketahanan pangan di Jawa Tengah. Ia menyampaikan diperlukan dukungan yang lebih kuat dari pemerintah pusat jika Jawa Tengah ingin dijadikan sebagai daerah penyangga pangan nasional.
Buah semalakama
Pertumbuhan kawasan industri di Jawa Tengah, lanjut Abdul Kholik, dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di provinsi ini, tetapi di sisi lain juga berpotensi mempercepat alih fungsi lahan pertanian.
“Nanti kalau ada tambahan sembilan kawasan industri itu bisa dibayangkan berapa percepatan alih fungsi lahan ini,” tambahnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavarez membenarkan berkurangnya jumlah lahan pertanian di Jawa Tengah saat ini akibat terjadinya alih fungsi lahan. Pihaknya mencatat selama kurun waktu satu tahun (2025) sebanyak 17 ribu hektare lahan telah beralih fungsi.
Akibat terjadinya alih fungsi lahan pertanian ini, ungkapnya, membuat potensi produksi beras di Jawa Tengah hilang sebesar 191.297 ton. Dalam menghadapi kondisi ini, pihaknya terus berkoordinasi dengan instansi lintas sektoral agar target swasembada pangan tetap tercapai.
Pada triwulan pertama 2026, demikian Defransisco Dasilva Tavarez, produksi beras di Jawa Tengah telah mencapai 39,4 persen (4,16 juta ton) dari target produk gabah kering giling (GKG) mencapai 10,5 juta ton. “Kami terus kejar target itu dengan program bantuan benih dan sarana produksi padi seluas 47,2 ribu hektare,” tambahnya.
Menurut Defransisco Dasilva Tavarez selain produksi beras, Pemprov Jawa Tengah juga menggenjot produksi jagung, saat ini produksi Jagung mencapai 984.959 ton (26,6 %) dari target 3,7 juta ton, bawang merah telah mencapai 144 705 ton (23,4 %) dari target 617.015 ton dan cabai 80.892 ton (17,72 %) dari target 456.621 ton.
“Menggenjot pencapaian target itu, Pemprov Jawa Tengah melakukan berbagai langkah di antaranya bantuan sarana produksi jagung seluas 3.200 hektare, kedelai 3 ribu hektare, cabai 310 hektare dan bawang merah 25 hektare,” ujar Defransisco Dasilva Tavarez. (AS/E-4)