Kita pasti pernah mendengar istilah ini “uang tidak mengenal saudara” karena banyak persaudaraan putus karena konflik bisnis. Demikian juga dalam berorganisasi, banyak yang menyarankan untuk memisahkan kehidupan personal dengan pekerjaan agar tidak bersinggungan. Ada yang menutup media sosialnya dari orang-orang lingkungan pekerjaan, ada juga yang menghindari berinteraksi dengan teman kerja di luar jam kerja. “It’s not personal, it’s business,” kata mereka.
Data Gallup menunjukkan, memiliki sahabat di tempat kerja berdampak positif pada organisasi termasuk pendapatan, keamanan kerja, kontrol inventori, dan retensi karyawan. Ironisnya, hanya sekitar 3 dari 10 orang yang merasa memiliki sahabat dekat di kantor. Jadi, banyak dari kita yang begitu lama bekerja bersama, tetapi tidak benar-benar “bersama”. Hubungan lebih bersifat transaksional dan profesional. Tidak ada yang salah, tetapi ada yang hilang.
Kontribusi rasa dalam performa kerja
Padahal, di balik semua sistem, target, dan KPI, organisasi sebenarnya berjalan di atas sesuatu yang jauh lebih halus, yaitu hubungan antarmanusia. Kepercayaan, rasa aman, dan pengembangan diri yang cepat merupakan kunci dalam mencapai kinerja unggul.
Hal itu berkembang paling baik ketika individu membangun hubungan pertemanan yang autentik. Memiliki persahabatan dalam pekerjaan karenanya tidak sekadar aspek sosial, tetapi juga fondasi penting bagi keberhasilan organisasi sekaligus kesejahteraan karyawan.
Data menunjukkan, karyawan yang memiliki sahabat di tempat kerja bisa 7 kali lebih engaged. Riset lain menemukan bahwa nilai persahabatan di kantor terasa setara dengan tambahan 20 persen gaji. Tidak heran, 57 persen orang rela menerima gaji lebih kecil ketika memiliki hubungan kerja yang hangat dan 87 persen mengatakan sahabat penting untuk membuat mereka bertahan.
Artinya sederhana, orang tidak hanya bekerja untuk tugas. Mereka bekerja dalam rasa. Kapan lagi kita menghabiskan begitu banyak waktu bersama, menghadapi tantangan, dan saling bergantung satu sama lain kalau bukan di tempat kerja. Kehadiran teman membuat tantangan menjadi terasa lebih ringan.
Kehilangan ibu di usia yang sangat muda membuat ikatan erat persahabatan dua anak muda dari Liverpool, John Lennon dan Paul McCartney. Mereka bahkan sepakat untuk menuliskan nama Lennon-McCartney untuk setiap lagu yang mereka tulis bersama. Tidak peduli siapa yang berkontribusi lebih banyak karena mereka percaya kompetisi yang sehat di antara sahabat justru menghasilkan karya yang lebih baik.
Persahabatan mereka menjadi tiang penyangga kekuatan Beatles, ditambah dengan masuknya Ringo dan George yang ditunjukkan dari performa mereka di atas panggung yang saling mengisi. Mereka seolah mampu saling membaca isi pikiran temannya.
Dalam tim yang memiliki ikatan rasa yang kuat, berdiskusi terasa menjadi energi yang menghidupkan bukan untuk menjatuhkan. Rapat terasa seperti jam session yang saling melengkapi untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Ide keluar lebih cepat, orang lebih berani bicara, kesalahan menjadi pembelajaran bukan sekadar konsekuensi hukuman. Kerja terasa seperti “main bareng”. Dan karena itu, memberikan produktivitas yang lebih baik.
Slow burn friendship
Persahabatan di tempat kerja bukan sesuatu yang instan. Hubungan di tempat kerja bukan seperti hubungan di sekolah yang sama rasa sama rata. Individu datang dari berbagai latar belakang, duduk di berbagai posisi dengan agenda kerja yang belum tentu sama, dan tidak jarang yang bersaing untuk posisi yang lebih tinggi.
Waktu dan pengalaman bersama melalui berbagai tantangan pekerjaan membangun keterbukaan, rasa percaya, serta toleransi. Dari sinilah kedekatan terbentuk. Dalam membangun persahabatan seperti ini yang penting adalah kualitas, bukan kuantitas hubungan yang kita miliki.
Nelson Mandela dan Oliver Tambo, pemimpin perjuangan anti-apartheid, bersahabat sejak muda, serta mendirikan firma hukum bersama. Saat Mandela dipenjara puluhan tahun, Tambo harus meninggalkan negaranya dan meneruskan perjuangan dari luar negeri. Ia terus memperjuangkan kebebasan Mandela di dunia internasional hingga Mandela menyatakan Tambo adalah saudara yang lebih dari sekadar sahabat.
Warren Buffett dan Charlie Munger yang membangun konglomerasi terbesar sering bercanda hingga mengkritik keputusan investasi satu sama lain di depan publik. Sebab, rasa saling percaya mereka yang begitu kuat bahwa kejujuran tidak akan merusak hubungan mereka. Buffett bahkan mengakui bahwa Charlie-lah yang mengubah cara berpikir investasinya.
Tim yang sehat hampir selalu memiliki satu ciri: mereka tertawa bersama. Sebab, hadirnya rasa aman. Tertawa menjadi indikator bahwa hubungan itu hidup. Di sinilah banyak pemimpin yang sering keliru. Pemimpin sering terlalu berfokus pada metriks produktivitas hingga memberikan tekanan untuk berprestasi. Padahal, performa tinggi sering kali dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana: hubungan yang tulus.
Membangun persahabatan
Persahabatan dimulai dari sesuatu yang sederhana, seperti membuka hati, bersikap toleran dengan keberbedaan orang, dan siap juga terbuka di hadapan orang tanpa perlu mengkhawatirkan ego kita sendiri. Kita bisa mulai dengan menganggap setiap perjumpaan dengan seseorang merupakan kesempatan untuk membangun hubungan pertemanan sehingga memulainya dengan ketulusan.
Bayangkan kalau kita bisa berteman dengan klien yang menerima servis dari produk ataupun layanan yang kita berikan. Tidakkah pekerjaan yang dilakukan akan menjadi lebih ringan. Untuk itu, luangkan waktu, baik sebelum maupun sesudah rapat, untuk mengobrol ringan saling mengenal secara pribadi serta hadir sepenuhnya dalam momen percakapan yang terjadi.
Dalam membangun hubungan, salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah mulai dengan memberi. Tidak harus materi, tetapi bisa berupa waktu, masukan, ataupun memperkenalkannya dengan jejaring yang ia butuhkan. Hubungan yang baik biasanya memang akan timbal balik, tetapi jangan sibuk menghitung dengan presisi siapa memberi apa untuk selalu menyeimbangkan.
Kita juga bisa mencoba membangun hubungan dengan meminta bantuan, seperti pendapat. Sebab, ketika orang memberikan sesuatu, tanpa disadari ia juga membuka hatinya untuk menjadi gerbang persahabatan. Tidak ada salahnya juga untuk sesekali berbagi cerita personal sehingga membuat orang lain merasa dekat karena dipercaya.
Pada era AI, kebutuhan akan hubungan justru semakin besar. Kita semakin cepat berkomunikasi, tetapi tidak selalu semakin dalam terhubung. Percakapan banyak, tetapi sering terasa dangkal. Oleh Karena itu, mungkin yang kita butuhkan tidak hanya sistem yang lebih canggih, tetapi hubungan yang lebih hangat. Karena bekerja, pada akhirnya, tidak hanya tentang apa yang kita kerjakan, tetapi juga dengan siapa kita menjalaninya.
HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Emilia Jakob
Character Building Assessment & Training EXPERD
EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.