1. News
  2. Berita
  3. CV yang “Berbicara”

CV yang “Berbicara”

cv-yang-“berbicara”
CV yang “Berbicara”

Bagi pencari kerja, CV dianggap sebagai pintu utama yang menghubungkan dengan calon pemberi kerja. Bagaimana mereka dapat menjelaskan kepada para perekrut mengenai dirinya, apa yang ia miliki, dan bagaimana kemampuannya itu dapat berkontribusi bagi organisasi yang dituju.

Para perekrut mencoba membayangkan siapa kita dari baris-baris yang kita tuangkan dalam CV. Dengan mempertimbangkan bahwa perekrut pada saat yang sama menerima puluhan bahkan mungkin ratusan CV, kita harus memutar otak untuk mencari cara bagaimana membuat CV yang kita miliki tampak menonjol di antara CV-CV lainnya.

Ada yang berusaha membuat CV seindah mungkin dengan desain yang menarik sehingga membuatnya berbeda dari yang lain. Gaya seperti ini mungkin bermanfaat bila posisi yang kita tuju berkaitan dengan pekerjaan mendesain. Namun, selain itu, hal yang sebenarnya sangat penting adalah bagaimana membuat CV dengan struktur yang jelas sehingga mudah dipahami.

Dengan kemajuan teknologi saat ini, banyak perekrut yang juga memanfaatkan mesin untuk mempermudah pekerjaan mereka dalam menyaring CV yang ada. Sistem membaca, menyaring, dan mencocokkan data untuk menentukan apakah kita lolos atau tidak. Di titik ini, banyak yang perjalanan kariernya terhenti, bukan karena tidak mampu, melainkan tidak “terbaca”.

Memahami dengan saksama bagaimana proses mesin bekerja akan membantu kita untuk menembus proses tersebut. Di dunia yang semakin digital, clarity is the new attractiveness. Penggunaan font standar justru akan memudahkan sistem untuk membaca CV kita, selain juga menyusun dalam struktur yang jelas antara pengalaman pendidikan, pekerjaan, hingga ketrampilan yang kita kuasai lengkap dengan lini masanya.

CV bukan sekadar daftar

Selama ini, kita diajarkan untuk menulis CV sebagai daftar aktivitas. Apa yang kita pelajari, apa yang kita lakukan, dan apa ruang lingkup tanggung jawab kita. Seolah-olah semakin panjang daftar tersebut, semakin kuat posisi kita. Jenjang pendidikan dan sederetan kursus yang pernah kita ikuti ditambah dengan pernyataan-pernyataan penguat, seperti bertanggung jawab mengelola tim sampai terlibat dalam berbagai proyek strategis.

Hal itu terasa benar tetapi sering kali tidak berbicara banyak. Hari ini, dunia kerja tidak lagi mencari aktivitas. Mereka mencari dampak. Apa yang berubah karena Anda ada di sana? Apa yang menjadi lebih baik? Apa yang Anda selesaikan?

Mengubah pernyataan dari “mengelola tim sales” menjadi “meningkatkan penjualan 23 persen dalam enam bulan melalui restrukturisasi pipeline” tampak sederhana, tetapi memiliki dampak besar. Dalam satu kalimat tadi, perekrut akan melihat bagaimana kandidat karyawan memiliki kemampuan untuk membuat perubahan dan menghasilkan sesuatu. Di sinilah CV berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar arsip perjalanan, melainkan alat untuk menunjukkan “nilai” yang dimiliki sang kandidat. CV bukan lagi tentang “ini saya”, melainkan lebih kepada “ini yang bisa saya lakukan untuk Anda”.

Pendidikan, gelar, pengalaman memang penting untuk menunjukkan apa yang kita tahu. Namun, dengan kondisi saat ini ketika pengetahuan bisa diakses oleh siapa saja, mesin bisa menghasilkan informasi dalam hitungan detik. Yang membedakan bukan lagi apa yang kita tahu, melainkan bagaimana kita menggunakan apa yang kita tahu. Bagaimana kita berpikir. Bagaimana kita menghubungkan ide. Bagaimana kita mengambil keputusan di tengah ketidakpastian.

Seorang kandidat mungkin tidak memiliki pengalaman paling panjang, tetapi ketika ia mampu menjelaskan sebuah masalah dengan jernih, menunjukkan cara ia berpikir, dan menawarkan solusi yang masuk akal, ia sering kali lebih menarik daripada mereka yang hanya memiliki daftar pengalaman panjang. Hal ini “terasa” dari cara kita bercerita yang membuat CV itu “berbicara” untuk kita.

CV yang berbicara bukan berarti panjang atau rumit. Sebaliknya, ia sederhana, tetapi hidup. Ia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memberi gambaran tentang siapa kita dan bagaimana kita bekerja. Ketika seseorang membacanya, ia tidak hanya tahu pengalaman kita. Ia bisa membayangkan cara kita berpikir, cara kita mengambil keputusan, bahkan cara kita menghadapi masalah.  

CV menjadi sebuah portofolio yang menunjukkan kemampuan nyata. Dari klaim ke bukti. Seorang kandidat analis data jangan berhenti hanya menuliskan “menguasai analisis data”, tetapi juga menunjukkan dashboard yang pernah dibuat yang menggambarkan bagaimana ia mengolah data,  mengambil insight, hingga menggunakan insight tersebut untuk mengambil keputusan. Dalam beberapa menit, pembaca tidak hanya tahu bahwa ia mampu, tetapi juga bisa melihat cara ia bekerja.

Know your audience

Dalam ilmu marketing, ada filosofi untuk melempar umpan ke banyak kolam karena semakin luas jaring kita, semakin banyak peluang yang masuk. Hal ini tentunya berlaku juga dalam proses melamar pekerjaan. Namun, satu hal yang harus kita ingat adalah  mengenali siapa yang kita hadapi. Setiap perusahaan memiliki kebutuhan dan tantangan berbeda. Untuk itu, bahasa yang kita gunakan pun harus berbeda. CV yang baik hari ini adalah CV yang mampu menyesuaikan dan menjawab kebutuhan tersebut.

Pahami visi organisasi, apa yang menjadi tantangannya saat ini dan bagaimana kita bisa memosisikan diri menjadi solusi bagi organisasi untuk menghadapi tantangan itu. Bagaimana prestasi, pengalaman pekerjaan, bahkan mungkin sekadar pengalaman berorganisasi bagi para fresh graduate dapat berkontribusi pada pencapaian visi organisasi.

Sering kali pencari kerja mengatakan bahwa mereka ingin bekerja dan mencari pengalaman baru. Padahal, yang dibutuhkan perusahaan adalah keyakinan bagaimana kandidat ini akan bermanfaat bagi perusahaan. Jangan sampai CV kita terasa seperti berbicara tanpa mendengarkan.

Karena pada akhirnya, dunia kerja tidak mencari CV yang sempurna. Dunia kerja mencari manusia yang relevan. Manusia yang tahu apa yang bisa ia berikan. Yang mau belajar. Yang mampu bertumbuh bersama perubahan.

Masuk ke dunia kerja hari ini memang terasa lebih kompleks. Jalurnya tidak selalu jelas. Persaingan lebih luas. Perubahan lebih cepat. Namun, justru karena itu peluangnya juga lebih terbuka bagi mereka yang mau beradaptasi. Ini berarti yang mungkin perlu kita ubah bukan hanya CV kita, melainkan cara kita melihat diri sendiri. Bukan lagi sebagai pencari kerja yang berharap dipilih, melainkan sebagai individu yang memahami nilai dirinya. 

CV hanyalah alat tapi di baliknya ada cerita, ada cara berpikir, dan ada potensi. Ketika semua itu mulai terasa, CV kita tidak lagi sekadar dibaca. Ia mulai “berbicara”. Dan di situlah tanpa banyak kata, perekrut bisa berhenti sejenak lalu berkata, “Orang ini menarik untuk kita kenal lebih jauh.”

Baca juga: Teman Kerja

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Emilia Jakob

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
CV yang “Berbicara”
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us