Di sisi lain, badai industri media juga dirasakan Runway. Apesnya, Runway malah tersandung skandal akibat publikasinya soal Speed Fash, jenama fast fashion yang diduga terlibat praktik eksploitasi.
Situasi tersebut menggerus kredibilitas Runway sebagai majalah yang selama ini dikenal menetapkan standar tinggi dalam dunia fashion. Relevansinya pun dipertanyakan karena publik meragukan integritas yang selama ini menjadi fondasinya.
Dengan rekam jejaknya sebagai jurnalis berprestasi, Andy direkrut kembali ke Runway. Misinya jelas: mengembalikan kepercayaan publik, sekaligus membuktikan bahwa jurnalisme masih memiliki peran penting.
Di sinilah, Andy kembali dipertemukan dengan Miranda Priestly (Meryl Streep), mantan bosnya yang merupakan pimpinan redaksi legendaris Runway, dan Nigel (Stanley Tucci), art director Runway sekaligus orang kepercayaan Miranda.
Pertemuan ini menjadi momen yang dinantikan, baik oleh penggemar film pertama maupun penonton baru. Dinamika antara Andy yang masih menyimpan kecanggungan, Miranda yang dingin dan tajam, serta Nigel yang cerdas dan penuh sindiran, kembali menghadirkan daya tarik yang khas.
Sahut-menyahut dialog mereka terasa hidup. Meski 20 tahun telah berlalu, adu akting antara Anne Hathaway, Meryl Streep, dan Stanley Tucci tetap memancarkan karisma yang setara. Ketika berada dalam satu adegan, chemistry mereka terasa begitu kuat dan tak terbantahkan.
Perubahan Sosok Miranda Priestly
Meski karakterisasi masing-masing peran cukup konsisten dengan film sebelumnya, perubahan karakterisasi yang cukup mencolok terjadi pada Miranda.
Selama ini, ia digambarkan sebagai sosok pemimpin redaksi yang hemat bicara, sulit didekati, dan nyaris tak pernah membuka ruang percakapan terutama dengan para bawahannya. Citra tersebut mengukuhkan posisi Miranda sebagai figur otoritatif yang seolah tak tersentuh.
Nah, dalam sekuel ini, karakter Miranda tampil lebih ekspresif. Perubahan ini mungkin terasa out of character, tetapi justru memberi dimensi baru pada karakternya.
Menariknya lagi, perubahan tersebut tidak hadir tanpa tantangan. Jika sebelumnya Miranda bebas melontarkan kritik tajam dan sindiran, kini ia harus berhadapan dengan batasan baru: standar kepekaan sosial (social awareness) yang semakin dijunjung publik.
Kritik-kritik tajamnya tak lagi kebal konsekuensi. Sebaliknya, mulut Miranda ibarat harimau yang sewaktu-waktu dapat menyeret Runway ke jurang.

Poin ini ditunjukkan melalui interaksinya dengan Amari (Simone Ashley), asisten senior Miranda. Dengan kepribadiannya yang sigap, lugas, dan berani, Amari kerap mengingatkan Miranda ia tak bisa asal bicara.
Publik kini memiliki standar dan sensitivitas yang berbeda. Sementara itu, Miranda tak lagi berada di posisi untuk sepenuhnya mendikte arah industri mode. Mau tidak mau, Miranda harus melonggarkan idealisme dan menahan dirinya demi mempertahankan relevansi Runway. Dua hal tersebut jelas nggak Miranda Priestly.
Tapi, di titik inilah, The Devil Wears Prada 2 tak lagi hanya berbicara tentang fashion, melainkan mulai membedah perubahan industri dan upaya bertahan di tengah pergeseran zaman.
Badai Tak Berkesudahan Runway
Sayangnya, kembalinya Andy dengan ketajaman ilmu jurnalistiknya tak serta merta mampu menyelamatkan Runway.
Setelah krisis Speed Fash mereda, Andy dihadapkan pada tugas yang lebih besar: memulihkan persepsi publik terhadap jurnalisme melalui karya Runway. Ia pun segera menyadari bahwa menghadirkan liputan-liputan yang bermakna ternyata tidak cukup.
Seperti pada film sebelumnya, Andy kembali meminta bantuan Nigel untuk memahami lanskap industri media dan mode. Bedanya, “pelajaran” kali ini terasa jauh dari gemerlap yang dulu ia kenal.
Nigel dengan berat hati menjelaskan bahwa Runway telah beralih ke platform digital dengan konten cepat konsumsi dan “mudah dilupakan”. Runway bukan lagi rujukan mode paling berpengaruh yang bisa dikoleksi dan memiliki rasa prestise tersendiri.

Pengaruh Runway dalam dunia mode dan jurnalisme pun kini kian tereduksi, diukur sebatas angka klik, likes, dan views. Dalam situasi ini, Runway mau tak mau harus bergantung pada pengiklan dan investor, bahkan jika berarti harus mengorbankan sebagian idealismenya.
Tantangan ini semakin jelas ketika Miranda, Andrea, dan Nigel menemui klien terbesar mereka, Dior. Ternyata, jenama tersebut kini berada di bawah pimpinan Emily (Emily Blunt), asisten senior Miranda yang dahulu menjadi mentor bagi Andy.
Baca juga: The 355, Aksi Para Perempuan Agen Rahasia Selamatkan Dunia
Di pertemuan tersebut, Emily melemparkan kritik dan komentar sarkas mengenai kondisi Runway. Menurutnya, di masa sekarang, media lah yang memerlukan brand, bukan sebaliknya seperti di masa lalu. Jika tidak ada brand yang beriklan, media akan sulit bertahan.

Tapi, apakah itu satu-satunya jalan bagi Runway? Atau justru, reuni keempat tokoh ikonis ini bisa menjadi awal kolaborasi yang mengembalikan kejayaan Runway?
The Devil Wears Prada 2 menjawab itu semua dengan caranya yang khas: penuh gaya. Konflik yang kompleks berpadu dengan kemewahan fashion show, gaun couture, kilatan kamera, serta iringan musik yang begitu lekat dengan dunia mode—sebuah racikan yang hanya bisa dilahirkan oleh The Devil Wears Prada.
Konflik yang diangkat juga terasa dekat dan relevan dengan kondisi masa kini, sehingga The Devil Wears Prada 2 tulus dihadirkan untuk melanjutkan kisah Runway secara tulus dan menjawab kerinduan penggemar, bukan sekadar memanfaatkan gelombang nostalgia.
Oleh karena itulah, bagi saya, The Devil Wears Prada 2 merupakan a sequel done right. Penyelesaian konflik dan perkembangan karakternya hadir dengan bobot yang sepadan dengan penantian panjang sejak film pertama, The Devil Wears Prada (2006). Detail-detail yang masih “menggantung” dari film sebelumnya pun menemukan jawabannya dalam film ini, menjadikannya penutup yang hangat dan memuaskan.
The Devil Wears Prada 2 sudah tayang di bioskop. Tonton segera untuk kembali menyelami gemerlap dunia high fashion.