Songgo Buwono, Makanan Tradisional Khas dari Yogyakarta yang Bernuansa Budaya Barat
Songgo buwono adalah salah satu makanan tradisional khas yang berasal dari Yogyakarta. Meski berasal dari Yogyakarta, makanan ini ternyata tidak sepenuhnya berasal dari latar belakang budaya Jawa.
Seperti yang Kawan ketahui, banyak makanan tradisional di Indonesia yang tercipta dari akulturasi budaya yang terjadi di suatu daerah. Hal ini membuat makanan tradisional tersebut memiliki ciri khasnya tersendiri dan berbeda dengan daerah asal budaya yang memengaruhi terbentuknya kuliner tersebut.
Hal yang sama juga berlaku pada songgo buwono. Makanan yang dulunya dikenal sebagai santapan para priayi di Keraton Yogyakarta juga tercipta dari akulturasi dua budaya berbeda di masa lalu.
Lantas bagaimana ulasan lebih lanjut seputar songgo buwono, salah satu makanan tradisional khas yang berasal dari daerah Yogyakarta tersebut? Simak ulasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Mengenal Songgo Buwono, Makanan Tradisional Khas dari Yogyakarta
Songgo buwono merupakan salah satu kuliner berbentuk roti yang berasal dari daerah Yogyakarta. Kudapan ini memiliki berbagai macam komponen tambahan dalam setiap penyajian.
Sekilas songgo buwono memiliki kemiripan dengan kue sus. Apalagi kedua kuliner yang berbentuk roti ini juga sama-sama memiliki isian di dalamnya.
Namun isian yang digunakan dalam songgo buwono inilah yang menjadi pembeda dengan apa yang bisa Kawan jumpai di kue sus. Biasanya kue sus memiliki isian vla vanila di dalamnya.
Lain halnya dengan songgo buwono yang menggunakan ragout sebagai isian. Ragout sendiri merupakan potongan berbagai macam sayuran, seperti kentang, wortel, bawang putih dan bombay serta daging ayam yang sudah dibumbui.
Nantinya isian ragout ini akan ditambah dengan menggunakan saus mustard yang berbahan dasar mentega dan kuning telur yang dihancurkan. Ada juga beberapa pelengkap yang juga disajikan dalam satu hidangan songgo buwono, seperti acara timun, selada, tomat, dan telur rebus.
Tercipta dari Akulturasi Dua Budaya
Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian awal artikel, songgo buwono dulunya tercipta dari akulturasi dua budaya berbeda, yakni Jawa dan Eropa. Dinukil dari laman Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, pembuatan songgo buwono ini dulunya tercetus pada masa Sri Sultan Hamengkubuwana VIII.
Keraton Yogyakarta yang pada waktu itu berinteraksi dengan pihak Belanda membuat adanya akulturasi budaya. Kuliner bernuansa Eropa, seperti songgo buwono akhirnya disajikan pada saat acara maupun hajat khusus yang digelar pada waktu itu.
Dulunya songgo buwono hanya bisa dinikmati oleh kalangan priayi saja. Terlebih makanan tradisional khas Yogyakarta ini hanya disajikan saat momen tertentu saja, seperti pernikahan kerajaan dan lainnya.
Namun seiring berjalannya waktu, songgo buwono bisa dinikmati oleh siapa saja. Oleh sebab itu, makanan tradisional yang satu ini bisa menjadi salah satu rujukan kuliner yang patut Kawan coba ketika berkunjung ke daerah tersebut.
Makna dan Nilai Filosofis yang Terkandung di Dalamnya
Selain menjadi kudapan yang dikonsumsi pada waktu tertentu, songgo buwono ternyata juga memiliki nilai dan makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Nama dari kuliner yang satu ini sendiri memiliki arti dan makna yang mendalam.
Dinukil dari buku Redy Kuswanto yang berjudul Jajanan Pasar Khas Yogyakarta, nama kuliner ini terdiri dari dua kata berbeda, yakni “Songgo” dan “Buwono”
Kata “Songgo” dimaknai sebagai penyangga. Sementara itu, kata “Buwono” bermakna penyangga kehidupan.
Selain itu, bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembuatan songgo buwono juga memiliki nilai filosofisnya tersendiri. Selada yang digunakan dalam kuliner ini menjadi simbol tumbuhan yang menyangga bumi.
Kue sus dalam songgo buwono menjadi lambang dari bumi itu sendiri. Sementara itu, ragout yang menjadi isiannya menjadi simbol penduduk yang ada di bumi.
Mayones atau saus mustard serta acar timun dilambangkan sebagai langit dan bintang. Terakhir, telur rebus menjadi simbol dari gunung yang ada di bumi.
Secara keseluruhan, makanan tradisional khas dari Yogyakarta ini menjadi simbol gambaran dari bumi, langit, dan semua isi yang ada di dalamnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News