
Dimulai Februari 2025, Program Cek Kesehatan Gratis Sudah Berdampak Apa?
Program cek kesehatan gratis atau CKG yang digulirkan pemerintah secara resmi sejak Februari 2025. Setelah lebih dari setahun bergulir, apa dampak yang sudah dihasilkan program tersebut?
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, mengungkapkan bahwa hingga awal Mei 2026, total peserta yang mendapatkan layanan cek kesehatan gratis telah menembus angka 100 juta penduduk. Capaian ini merupakan akumulasi dari 70 juta peserta sepanjang tahun 2025 ditambah lebih dari 30 juta jiwa pada periode Januari hingga Mei 2026. Program ini telah berjalan di lebih dari 10.000 Puskesmas yang tersebar di 514 kabupaten dan kota di seluruh penjuru Indonesia.
Sebagaimana diketahui, cek kesehatan gratis atau CKG adalah program dari pemerintah Indonesia yang memberikan layanan pemeriksaan kesehatan secara gratis untuk deteksi dini penyakit berdasarkan siklus hidup, mulai dari balita hingga lansia. Awalnya, program ini dapat diakses oleh masyarakat pada hari ulang tahun, namun sekarang dapat dilakukan kapan saja.
Fokus utama CKG dalam beberapa bulan terakhir menyasar lingkungan pendidikan guna memastikan kondisi fisik siswa tetap prima selama masa belajar di sekolah. Berdasarkan data terbaru periode 1 Januari hingga 3 Mei 2026, Kementerian Kesehatan telah melakukan skrining terhadap 4,8 juta anak di 48.000 sekolah. Hasilnya cukup mengejutkan, di mana ditemukan tiga masalah kesehatan utama pada anak usia sekolah. Sebanyak 1,1 juta anak atau sekitar 41 persen terdeteksi mengalami gigi berlubang, 663.000 anak atau 22,1 persen mengalami peningkatan tekanan darah, serta 239.000 anak menderita penumpukan kotoran di telinga.
Qodari menekankan pentingnya pengolahan data ini sebagai dasar bagi pemerintah untuk bergerak agar lebih tepat sasaran. Ia menyatakan keprihatinannya terhadap temuan medis pada kelompok anak-anak sekolah tersebut.

“Saya pribadi terus terang terkejut juga melihat fakta bahwa sekarang tekanan darah tinggi itu sudah mulai melanda anak-anak usia sekolah. Jika tidak ada program CKG ini, kita tentu tidak akan menyadari bahwa sudah harus ada suatu analisis yang lebih mendalam mengenai kondisi kesehatan generasi muda kita sebelum berlanjut pada gangguan organ yang lebih serius seperti jantung,” ujar Qodari.
Selain temuan tersebut, data hasil skrining cek kesehatan gratis tahun 2025 juga mencatat tantangan lain, yakni 60,69 persen siswa memiliki kebugaran fisik yang kurang, 47 persen mengalami masalah karies gigi, dan 27 persen menderita anemia. Kondisi-kondisi medis ini dinilai menghambat kemampuan tumbuh kembang serta daya serap belajar siswa di sekolah secara optimal.
Selain menjalankan pemeriksaan awal, program CKG juga memberi penanganan lebih lanjut atas hasil temuan yang ada. Dari total 16,8 juta peserta CKG yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut atau tata laksana, sebanyak 10,1 juta jiwa telah mendapatkan tindak lanjut secara sistematis. Peserta usia dewasa mendominasi kepesertaan sebesar 60 persen, disusul kelompok usia sekolah sebanyak 16 persen dari total peserta.
Program ini dirancang untuk memberikan akses setara bagi keluarga kurang mampu melalui sistem “jemput bola” di sekolah-sekolah. Qodari menegaskan bahwa kehadiran negara sangat krusial untuk menjamin keadilan layanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Data yang diperoleh melalui sistem CKG pun menjadi fondasi penting untuk merancang berbagai intervensi strategis, baik di sektor kesehatan maupun sektor pendidikan nasional di masa mendatang.
“Melalui sekolah, negara hadir melakukan jemput bola untuk memastikan bahwa seluruh anak Indonesia tanpa terkecuali mendapatkan layanan kesehatan dasar yang sama,” pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.
Tim Editor