1. News
  2. Berita
  3. Dongeng Nusantara Bertutur, Tukik-tukik Pemberani

Dongeng Nusantara Bertutur, Tukik-tukik Pemberani

dongeng-nusantara-bertutur,-tukik-tukik-pemberani
Dongeng Nusantara Bertutur, Tukik-tukik Pemberani

Di bawah pasir hangat pantai Pulau Buru, Maluku, ada banyak telur penyu belimbing yang siap menetas.

“Kraak… Kraak…” Ada satu cangkang telur mulai retak, keluar seekor tukik bernama Turi. Tak lama, cangkang telur-telur lain ikut retak. Tukik-tukik merayap keluar dari pasir dan sebentar lagi akan memulai petualangan pertama mereka.

“Itu rumah kita. Kita harus ke sana!” kata saudara Turi yang menunjuk laut.

Mereka mulai merangkak perlahan. Turi mengomandani saudara-saudaranya itu dengan semangat, “Kanan… kiri… kanan… kiri….” Mereka akan belajar berenang, mencari makan, dan suatu hari kembali lagi ke pantai ini.

Perjalanan menuju laut ternyata tidaklah mudah. Bagi manusia, jaraknya hanya beberapa langkah, tetapi bagi tukik, pasir itu terasa sangat luas seperti gurun besar.

Tiba-tiba, bayangan besar melintas di atas mereka. Seekor burung camar terbang merendah. Tukik-tukik bersembunyi di balik batu karang. Burung camar itu melihat ke sana dan ke mari, lalu akhirnya terbang pergi. 

“Hampir saja,” kata Turi sambil menghela napas. Mereka melanjutkan perjalanan.

“Brusshhh… brusshhh…”  Suara deburan ombak kini terdengar semakin jelas. Tukik-tukik berlomba-lomba berenang mengarungi lautan lepas di hadapannya. 

Saat tukik-tukik menetas, sisa kuning telur yang masih ada di bagian perutnya akan menjadi bekal dan sumber energi untuk hari-hari pertamanya. Berhari-hari mereka berenang, perjalanan itu ternyata sangat menguras tenaga. Tubuh kecil mereka sekarang hanya bisa terapung-apung mengikuti gerak air. 

“Aku sudah tidak kuat lagi, aku ingin beristirahat sejenak,” keluh saudara Turi yang paling bungsu. Mereka memutuskan beristirahat sejenak di antara lamun dan rumput laut. Kemudian kembali berenang.

Berbulan-bulan mengarungi samudra dan mengikuti arus laut, tubuh tukik-tukik sudah mulai kuat, bahkan sudah mahir berburu makan sendiri di luasnya lautan. Turi dari kejauhan seperti melihat ubur-ubur terapung. Namun, ketika melahapnya, ternyata hanyalah plastik-plastik. “Huekk… Huekk…,” ia memuntahkannya.

Setelah dewasa, Turi dan beberapa saudaranya memutuskan kembali ke pantai tempat mereka menetas. Di pantai Pulau Buru, Turi bertemu dengan penyu hijau, penyu lekang, dan penyu sisik. 

Turi lantas bercerita tidaklah mudah mengarungi lautan karena beberapa saudara Turi dimangsa ikan besar dan burung laut. Beberapa lainnya terjerat jaring pukat manusia. 

“Kami juga melihat laut yang tidak selalu bersih. Aku pernah hampir memakan plastik karena kukira itu ubur-ubur,” ucap saudara Turi.

Kini, mereka semakin dewasa dan berjanji untuk selalu berhati-hati di lautan.*

logo baru nusantara bertutur

Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Saharul Hariyono
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Dongeng Nusantara Bertutur, Tukik-tukik Pemberani
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us