1. News
  2. Berita
  3. Kepekaan terhadap Krisis

Kepekaan terhadap Krisis

kepekaan-terhadap-krisis
Kepekaan terhadap Krisis

Belakangan ini berita mengenai krisis ekonomi begitu mewarnai linimasa kita. Harga gas nonsubsidi sudah naik hampir 19 persen pada April kemarin. Belum lagi harga beberapa jenis BBM yang juga melambung tinggi turut memicu kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari. Bisa jadi semua ini mendorong kita pada kecemasan akan masa depan yang tampaknya tidak baik-baik saja.

Anehnya, jika kita melihat ke sekeliling, suasana terasa masih baik-baik saja. Kantor dan mal terlihat masih penuh, masih banyak orang pergi liburan, tempat makan baru masih bermunculan, antrean pun mengular di tempat-tempat yang viral di medsos. Menteri Keuangan kita juga bilang kondisi ekonomi Indonesia triwulan I 2026 mengalami pertumbuhan sebesar 5,61 persen, dibandingkan triwulan I 2025, bahkan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi China.

Apakah mereka yang mengalami kecemasan ini sebenarnya memang tidak beralasan? Atau, yang tenang-tenang saja sedang mengalami boiling from syndrome, sebuah metafora yang menggambarkan ketidakmampuan manusia untuk bereaksi terhadap ancaman yang terjadi secara bertahap.

Seekor katak hidup yang dimasukkan ke air mendidih pasti akan langsung melompat keluar karena merasakan bahaya instan. Namun, ketika diletakkan ke air yang suhunya dinaikkan perlahan-lahan, katak tersebut tidak merasakan ancaman langsung dan terbiasa dengan perubahan suhu hingga akhirnya mati karena terlambat melompat.

Ingvar Kamprad, pendiri IKEA, pernah mengatakan ungkapan yang sangat tajam, “Racun yang paling berbahaya adalah rasa puas diri.” Keberhasilan memang bisa membuat kita lengah karena merasa menang dan aman. Padahal, sejarah bisnis penuh dengan contoh perusahaan besar yang jatuh bukan karena mereka tidak pintar, melainkan terlalu nyaman.

Kodak pernah menjadi raja fotografi dunia, termasuk yang pertama menemukan kamera digital. Namun, mereka terlalu nyaman dengan bisnis yang selama puluhan tahun telah memberi keuntungan besar sehingga gagal melihat arah perubahan industri fotografi pada masa depan.

Blockbuster pernah ada di mana-mana, tetapi terlambat memahami perubahan perilaku konsumen. BlackBerry pernah menjadi simbol prestise profesional, tetapi terlalu percaya bahwa kejayaannya akan terus bertahan.

Mereka bukan perusahaan bodoh. Mereka memiliki sumber daya yang penuh dengan orang-orang pintar, uang, nama besar, dan pengalaman panjang. Namun, mereka kehilangan satu hal penting: sense of crisis, kepekaan terhadap situasi krisis.

Bahaya rasa nyaman

Michelle Gibbings dalam artikelnya menyebut, “Rasa puas diri jarang muncul secara tiba-tiba. Rasa puas diri itu cenderung tumbuh secara perlahan.” Rasa nyaman itu tumbuh pelan-pelan sehingga sering tidak disadari. Dengan kebutuhan yang tercukupi, bisnis yang terlihat berjalan seperti biasa, orang perlahan-lahan tidak lagi punya rasa lapar. Yang penting aman, tidak ada masalah, tetapi perlahan organisasi pun kehilangan daya hidupnya. Kesalahan kecil dimaafkan, standar kerja yang turun sedikit dianggap normal.

Yang menarik, complacency ini tidak hanya terjadi pada perusahaan. Ia juga bisa terjadi pada individu. Ketika awal meniti karier, individu begitu bersemangat mengambil beragam sertifikasi untuk meningkatkan kualifikasinya, haus mempelajari beragam hal yang menarik minat. Namun, seiring waktu, ia tidak lagi membaca hal baru, tidak lagi mempertanyakan dirinya. Yang dijaga bukan lagi pertumbuhan, melainkan kenyamanan hidup dan keamanan egonya.

Padahal, pada era sekarang, relevansi tidak bisa disimpan seperti tabungan. Kalau tidak terus diperbarui, perlahan-lahan ia akan habis dan tanpa disadari tahu-tahu individu yang dulunya begitu kritis, pendapatnya sangat ditunggu, menjadi terpinggirkan karena tidak lagi relevan dengan perkembangan organisasi.

Profesor David Dunning, psikolog sosial terkenal, mengatakan, “Jika tidak kompeten, Anda tidak akan menyadari bahwa Anda tidak kompeten.” Mereka yang merasa dirinya baik-baik saja bisa jadi yang paling tidak sadar bahwa dirinya mulai tertinggal. Akibatnya, ia malah menjadi defensif ketika menerima umpan balik yang berusaha disampaikan oleh rekan kerjanya.

Kenyataannya, dunia tidak pernah berhenti bergerak. John Kotter, profesor leadership dari Harvard Business School, mengatakan, banyak organisasi sebenarnya tahu bahwa perubahan sedang terjadi, tetapi secara emosional mereka tidak merasakan dorongan yang cukup kuat untuk bergerak lebih cepat.

Siapa yang tidak tahu bahwa dunia di sekitar kita berubah begitu cepat? Teknologi baru bermunculan setiap harinya. Bahkan, dunia kejahatan pun semakin lama terlihat semakin canggih. Kotter mengatakan, “Semakin cepat dunia berubah, semakin Anda perlu beradaptasi.” Masalahnya, perubahan besar sering tidak terasa di awal. Ia datang perlahan, mengendap-endap, hampir tidak terdengar.

Sense of crisis bukan chaos

Tentu saja, bukan berarti kita harus hidup dalam ketakutan terus-menerus. Rasa krisis bukan hidup dalam panic mode. Kotter mengingatkan, kita harus membedakan antara “true urgency” dan “false urgency.”

False urgency adalah keadaan ketika organisasi terlihat sibuk luar biasa, tetapi sebenarnya tidak bergerak maju. Semua orang lelah, rapat bertubi-tubi, notifikasi tidak berhenti, tetapi tidak ada inovasi yang benar-benar berarti. Sibuk yang didorong oleh kecemasan berlebih dan tanpa gambaran tujuan yang jelas. Busyness tidak berarti business. Pemimpin marah-marah, tim menjadi burnout, tetapi organisasi stagnan. Energi habis untuk sibuk bergerak tanpa arah.  

True urgency bukan chaos. Bukan berlari tanpa arah, melainkan kesadaran jernih bahwa dunia terus berubah dan kita perlu terus belajar, beradaptasi, dan memperbarui diri. Yang dibutuhkan bukan tekanan tanpa henti, melainkan meaningful striving, dorongan untuk terus bertumbuh karena keinginan untuk bisa memberi nilai tambah.

Tantangan memang sangat penting. Dalam neuroscience ada istilah psychological entropy, yaitu kondisi ketika sedikit ketidakpastian dibutuhkan agar manusia tetap belajar, berpikir, dan berkembang. Kalau semuanya terlalu stabil dan terlalu nyaman, tidak ada ancaman atau persaingan, manusia cenderung masuk ke mode autopilot.

Itu sebabnya organisasi yang sehat bukan organisasi yang paling nyaman, tetapi organisasi yang masih punya rasa ingin tahu. Yang masih mau mendengar kritik. Yang masih berani mempertanyakan dirinya sendiri. Yang tidak cepat puas dengan keberhasilan lama. Sebab begitu rasa lapar hilang, saat itu juga kemunduran dimulai, meskipun belum terasa.

Dan, mungkin kita memang perlu sesekali bertanya dengan jujur pada diri sendiri, apakah kita masih bertumbuh, atau hanya sibuk mempertahankan kenyamanan, posisi, dan dominasi kita? Apakah organisasi kita masih bergerak maju atau hanya terlihat sibuk?

Baca juga: Phubbing, Pemicu Distraksi

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Emilia Jakob

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Kepekaan terhadap Krisis
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us