
JUTAANjemaah calon haji dari seluruh penjuru dunia mulai memadati lapangan Arafah pada Senin (25/5). Di hamparan pasir seluas 1.800 hektare yang membawa alam pikiran ke miniatur Padang Mahsyar itu, para tamu Allah bersiap menunaikan wukuf sebagai puncak rangkaian ibadah haji.
Para tamu Allah yang datang dari berbagai belahan penjuru bumi ingin menghambakan diri di tengah lautan pasir tersebut. Tidak ketinggalan, sekitar 221.000 jemaah asal Indonesia, termasuk 5.426 orang asal embarkasi Aceh (BTJ), juga sedang bergerak menuju Arafah.
Pembimbing Ibadah Haji dari KBIHU Ibnu Mas’ud Provinsi Aceh, Abdullah AR, kepada Media Indonesia mengatakan bahwa para jemaah Aceh yang berangkat dari Hotel Burj Al Wahda Almutamayyiz telah bergerak menuju Arafah sejak Senin pagi tadi. Jemaah yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 7, 8, dan 9 itu ditempatkan pada Maktab 56.
Dari Minggu malam hingga Senin dini hari, para jemaah seakan tidak sanggup menanti waktu yang ditunggu-tunggu oleh jutaan umat Islam dari seluruh dunia. Mereka merasa sangat rindu untuk sampai di padang wukuf guna mengikuti jejak napak tilas para Rasul.
Informasi Penting: Jemaah haji diharapkan menjaga kondisi fisik dan hidrasi selama berada di Arafah mengingat cuaca yang ekstrem di padang pasir.
Amalan Agung Jelang Puncak Haji
Menurut Abdullah AR, suasana menjelang hari Arafah semakin terasa di masjid-masjid sekitar hotel di Kota Mekkah. Usai salat berjamaah, kegiatan diisi dengan bincang-bincang tentang amalan-amalan besar menjelang hari-hari tasyrik.
Beberapa amalan yang ditekankan bagi jemaah antara lain:
- Memperbanyak takbir dan mengikuti majelis ta’lim karena malaikat menaungi majelis ilmu.
- Memperbanyak membaca Al-Qur’an, terutama Surat Al-Ikhlas.
- Berdoa, berdzikir, dan berbuat baik kepada orang tua.
- Mendirikan salat berjamaah dan memperbanyak salat sunah.
Refleksi Yaumil Mahsyar di Padang Arafah
Abdullah AR, yang akrab disapa Abi Abdullah, berpesan bahwa Padang Arafah adalah miniatur Padang Mahsyar. Kesadaran ini diharapkan membuat semua jemaah larut dalam doa dan penyesalan yang tulus.
“Arafah tak ubahnya yaumil mahsyar. Di sini semua orang sama dalam satu strata. Tidak ada pejabat tinggi, tidak ada konglomerat, dan tidak ada kelas melarat,” tegas mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pidie tersebut.
Ia menambahkan bahwa di Arafah, semua orang hanya diam menunggu hisab. “Tidak ada yang tahu dari arah mana kitab catatan amal diberikan. Ini hari tidak ada rekayasa, tidak ada pencitraan, apalagi teringat harta dan jabatan. Semua fokus pada keselamatan di akhirat,” tambahnya.
Seluruh jemaah haji Indonesia diharapkan mampu melewati fase puncak ibadah di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) dengan kekuatan fisik, keyakinan kepada Allah, serta keteguhan iman yang maksimal.