Dari Kronggahan Gamping, suara malam tidak lagi sama. Dulu, yang terdengar selepas magrib paling-paling knalpot brong, suara televisi tetangga yang terlalu keras, atau suara khas penjual bakso. Namun, semua berubah ketika pembangunan tol Solo Jogja datang di salah satu desa di Sleman ini.
Sekarang, yang mendominasi sudah berbeda. Ada suara dentuman besi, deru alat berat, dan riuhnya pekerja tol Solo Jogja yang seperti makhluk asing di tengah kampung di Gamping, Sleman.
Saya tinggal tidak jauh dari pembangunan proyek tol Solo Jogja. Dan semakin hari, saya merasa sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pembangunan jalan.
Ini bukan cuma soal beton, aspal, atau kendaraan yang nanti melaju 100 kilometer per jam di atas kepala kita. Ini soal bagaimana sebuah wilayah perlahan berubah identitas. Sementara itu, pemerintah daerah tampak masih sibuk meyakinkan warga bahwa semuanya akan “baik-baik saja”.
Padahal, sejarah kota-kota di Jawa mengajarkan satu hal sederhana. Bahwa setiap jalan tol selalu datang bersama sesuatu yang ikut hilang. Dan sering kali yang hilang bukan sawahnya dulu, melainkan rasa memiliki terhadap tempat tinggal sendiri.
Pembangunan tol Solo Jogja mengubah Gamping
Gamping selama ini punya posisi yang aneh, tapi istimewa. Ia bukan kota dalam lingkup Kota Jogja. Ia juga tidak pernah benar-benar menjadi desa di Sleman yang tenang dan agraris.
Gamping adalah wilayah nanggung, tapi justru nyaman menjadi hunian bagi kami. Mau ke kota dekat, tapi masih bisa nemu orang ronda sampai malam khas desa.
Mencari kopi estetik ada, tapi burjo dan Warmindo tetap jadi pusat peradaban sesungguhnya. Mahasiswa ada, pekerja ada, warga kampung asli juga masih bertahan meski semakin terdesak harga tanah. Namun, pembangunan tol Solo Jogja mengubah semua ritme itu. Dan saya rasa banyak orang belum sadar betapa besar dampaknya nanti.
Narasi resmi pembangunan tol Solo Jogja terdengar indah. Yaitu tentang meningkatnya konektivitas, pertumbuhan ekonomi, kelancaran distribusi, dan masuknya investasi. Tidak ada yang salah dari itu. Saya juga tidak sedang ingin menjadi manusia anti-pembangunan yang menganggap semua proyek negara pasti jahat.
Masalahnya, kita terlalu sering bicara soal pertumbuhan. Tapi, kita jarang membicarakan siapa yang nantinya sanggup tetap hidup di tengah pertumbuhan itu.
Sebab, ketika tol Solo Jogja rampung, Gamping tidak akan lagi menjadi “pinggiran Jogja”. Ia akan berubah menjadi kawasan transit ekonomi. Dan begitu sebuah wilayah berubah menjadi titik ekonomi strategis, yang datang lebih dulu biasanya bukan kesejahteraan warga, melainkan spekulasi tanah.
Larisnya tanah di Gamping
Saya sudah mulai melihat gejalanya bahkan sebelum proyek tol Solo Jogja selesai. Banyak orang yang memburu tanah di Gamping. Bahkan tanah yang dulu dianggap “belakang”.
Rumah-rumah, perlahan, berubah fungsi. Orang mulai bicara harga per meter, bukan lagi sejarah kampungnya. Ada semacam atmosfer baru bahwa semua hal kini bisa dijual selama dekat akses tol Solo Jogja.
Biasanya, ketika harga tanah mulai tidak masuk akal, warga asli hanya punya dua pilihan; menjual lalu pergi atau bertahan sambil perlahan tidak mampu mengejar biaya hidup di desa sendiri.
Kita pernah melihat pola yang sama di Seturan, Babarsari, hingga Condongcatur. Dulu orang menyebutnya daerah pinggiran. Sekarang, banyak anak muda asli sana bahkan mustahil untuk membeli rumah di tempat mereka lahir.
Pertanyaannya, apakah Pemda Sleman benar-benar belajar dari situ? Atau kita akan kembali menyaksikan pembangunan yang dibiarkan liar sampai semuanya terlambat? Karena yang membuat saya khawatir bukan semata jalannya, melainkan absennya pembicaraan serius tentang dampak sosial setelah tol Solo Jogja itu jadi.
Baca halaman selanjutnya: Atas nama pembangunan, warga lokal selalu jadi korban.
Terakhir diperbarui pada 30 Mei 2026 oleh