
DI balik ketenaran Kepulauan Rinca sebagai rumah bagi komodo dan hamparan savana yang memikat wisatawan, tersimpan realitas lain yang jarang mendapat sorotan. Anak-anak yang tumbuh di pulau ini masih menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas pendidikan dan literasi.
Tantangan geografis menjadi salah satu penyebabnya. Jarak antarpulau yang cukup jauh serta sarana transportasi yang terbatas membuat akses terhadap berbagai fasilitas pendidikan tidak selalu mudah dijangkau. Kondisi tersebut diperparah oleh persoalan sosial dan ekonomi yang membuat ruang belajar informal serta bahan bacaan belum tersedia secara merata.
Sebagian besar warga Rinca menggantungkan hidup pada laut. Aktivitas melaut dan pekerjaan harian menjadi penopang utama ekonomi keluarga. Dalam situasi seperti itu, keberadaan buku bacaan, tempat belajar yang nyaman, maupun fasilitas pendukung pendidikan lainnya kerap menjadi sesuatu yang sulit diperoleh. Akibatnya, banyak anak hanya mengenal buku pelajaran sekolah sebagai sumber bacaan utama mereka.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, semangat belajar anak-anak di Rinca tidak surut. Mereka tetap bersekolah, belajar bersama teman-teman, dan memanfaatkan ruang seadanya untuk membaca maupun bermain.
Upaya menghadirkan ruang belajar yang lebih layak kemudian diwujudkan melalui pembangunan Ruang Pintar Pojok Baca Rinca. Kehadiran fasilitas yang didirkan oleh PNM itu bukan sekadar menambah koleksi buku, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang lebih ramah dan dekat dengan keseharian anak-anak pesisir.
Pengembangan ruang literasi tersebut turut melibatkan Irka, seorang anak muda setempat yang selama ini aktif menggerakkan kegiatan literasi di desanya. Keterlibatan tokoh lokal dinilai penting karena mereka memahami kebutuhan dan karakter anak-anak yang menjadi sasaran program.
Menurut Irka, perhatian terhadap pendidikan anak-anak di Rinca selama ini belum sebesar perhatian terhadap potensi wisata yang dimiliki pulau tersebut.
“Yang saya lihat, PNM datang bukan hanya untuk memberikan pembiayaan kepada ibu-ibu atau membantu usaha masyarakat di sini. Tapi mereka juga memikirkan anak-anaknya. Itu yang menurut saya berbeda, karena pendidikan dan literasi anak-anak di pulau seperti Rinca juga perlu diperhatikan,” ujarnya.
Ia mengatakan antusiasme anak-anak terlihat sejak ruang baca tersebut mulai dilengkapi dengan berbagai buku baru dan sarana pendukung belajar. Bagi sebagian dari mereka, membaca buku cerita bergambar atau belajar di tempat yang nyaman merupakan pengalaman yang sebelumnya tidak banyak dirasakan.
“Anak-anak di sini sebenarnya punya rasa ingin tahu yang besar. Ketika ada tempat belajar yang dibuat nyaman dan menyenangkan, mereka senang sekali datang, membaca, bahkan sekadar berkumpul untuk belajar bersama. Bantuan dari PNM ini membuat mereka punya ruang baru untuk bermimpi,” kata Irka.
Ruang baca itu dirancang sebagai tempat belajar sekaligus ruang berkumpul. Selain menyediakan buku cerita anak, bacaan pengetahuan umum, dan materi edukatif lainnya, tempat tersebut juga menjadi wadah bagi anak-anak untuk berdiskusi, bermain sambil belajar, serta mengenal berbagai hal baru di luar lingkungan yang selama ini mereka jumpai.
Di banyak wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), persoalan pendidikan tidak selalu dapat diatasi hanya dengan membangun sekolah. Kehadiran ruang belajar alternatif menjadi salah satu cara untuk memperluas akses literasi sekaligus membuka wawasan anak-anak terhadap berbagai kemungkinan masa depan.
Dari rak-rak buku sederhana itu, anak-anak mulai mengenal beragam cita-cita, profesi, dan dunia yang lebih luas dari pulau tempat mereka dibesarkan. Sementara itu, pemberdayaan ekonomi yang diterima keluarga turut membantu para orang tua menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. (Z-10)