Sekitar 40 jam bus Putra Remaja “menyiksa” saya di perjalanan dari Jogja menuju Jambi. Inilah kisah saya.
Setidaknya, ada dua tipe mahasiswa rantau dari Sumatra yang ingin pulang ke kampung halamannya setelah merantau ke Jogja. Kamu yang mana?
Pertama, menggunakan pesawat. Tentunya akan menghemat waktu, berangkat pagi, siangnya sudah bertemu dengan keluarga tercinta. Namun, tiketnya bisa bikin kantong jebol. Kedua, mencari jasa transportasi bus antarprovinsi yang tentunya tiketnya lebih ramah di kantong, tetapi cukup untuk membuat “mboyok” punggung ini.
Sebagai mahasiswa kelas menengah, pilihan kedua tentunya sangat saya rekomendasikan. Budget-nya sangat bersahabat dan cocok bagi orang yang tidak terburu-buru di jalan.
Nah, salah satu jasa perjalanan bus antarkota dan antarprovinsi yang bisa menjadi pilihan kelas proletar adalah bus Putra Remaja. Saya tahu PO ini dari “pakde” yang sudah sering naik armada Putra Remaja. Dari sarannya tersebut, terhitung sudah empat kali saya naik ketika berangkat dan pulang ke Jambi dari Jogja.
Kamu bisa membeli tiket bus Putra Remaja via website mereka. Harganya Rp700.000 untuk eksekutif dan Rp850.000 untuk kelas super eksekutif. Untuk kelas super eksekutif, kamu akan dapat fasilitas kursi double seat, dua voucher makan bagi setiap penumpang, snack, lengkap dengan air mineralnya.
Oh iya, penumpang juga bisa mengisi daya baterai HP di bus Putra Remaja. Meskipun terkadang harus bergantian karena “colokan”-nya kadang tidak berfungsi.
BACA JUGA: Pengalamanku Naik Bus AKAP dan Keluar Tol: Kengerian Enak, Tak Pernah Ditiru!
Tanggal 9 Juni lalu, tepatnya hari Selasa, sekitar pukul 10:45 WIB, saya tiba di Terminal GiwanganJogja. Saya akan meregistrasi tiket bus Putra Remaja yang sudah saya pesan beberapa hari lalu. Bus akan berangkat pukul 11:00 WIB.
Sebenarnya, dari Giwangan, saya bisa saja memulai perjalanan dari loket Putra Remaja langsung. Lokasinya ada di sekitar jalan Ring Road Barat dengan waktu keberangkatan pukul 09:00 WIB. Namun, saya memilih naik di Terminal Giwangan yang dekat dengan rumah di Kalasan, Sleman.
Bus besar berwarna biru bertuliskan “Putra Remaja” dengan stiker burung belibis tiba pukul 11:38 WIB, tepat bersamaan dengan kumandang azan. Setelah duduk, saya sedikit terkejut karena ternyata kursi yang saya duduki sedikit ambles. Saya hanya bisa menggunakannya dengan posisi rebahan dan tidak bisa disetel lurus ke atas.
Segera setelah mengetahui hal itu, saya menanyakannya kepada kenek. Dia menjawab, “Kursine wes ambles, Mas, rusak.” Nasib.
Keberangkatan
Klakson bus Putra Remaja bergema menandakan perjalanan panjang ini dimulai. Banyak kursi yang belum terisi. Terhitung hanya ada 4 penumpang yang berangkat dari Jogja membarengi keberangkatan saya menuju Jambi.
Bus baru terisi penuh ketika melewati jalan Kebumen-Banyumas. Beberapa pengamen dengan suara yang apa adanya ikut masuk.
Seorang bapak-bapak sekitar umur 50-an memakai jaket cokelat datang membawa tas ransel dan meminta saya bergeser. Benar saja, beliau adalah pemilik kursi nomor 4 di sebelah saya. Setelah berkenalan, saya tahu bahwa beliau juga turun di Jambi untuk menghadiri acara pernikahan keluarganya.
Baca halaman selanjutnya: Ketika 40 jam disiksa sebuah bus.
Terakhir diperbarui pada 16 Juni 2026 oleh