
Gambar ilustrasi yang dibuat dengan AI
Muhammad Rafdi Maradjabessy. Nama yang panjang. Tapi ceritanya lebih panjang lagi. Ia anak Wali Kota Tidore Kepulauan. Saat saya menulis ini, mungkin dia sedang mengangkat batu bata.
Saya mengulang membaca cerita ini tiga kali. Bukan karena saya tidak mengerti, tapi karena saya tidak langsung percaya. Anak seorang wali kota, bekerja sebagai buruh bangunan, bukan karena dia terpaksa, bukan karena ayahnya tidak punya pengaruh, tapi karena ia sendiri yang memilih. Bukan sebuah cerita yang sering kita dengar di negeri ini.
Rafdi sudah menjadi kuli bangunan sejak SMA. Di usia ketika banyak anak muda masih sibuk mencari identitas diri lewat media sosial atau sekadar nongkrong sore hari, ia sudah hafal betul bagaimana rasanya terik jam sepuluh pagi di lokasi proyek, bagaimana bau semen basah itu menempel di baju sampai malam.
Sekarang ia sudah dewasa. Sudah berkeluarga. Ada istri, ada anak, ada tagihan-tagihan yang harus segera dibayar.
Dan ia masih pergi ke proyek setiap pagi.
–
Saya pernah bertemu cukup banyak orang yang tumbuh besar di lingkungan keluarga pejabat. Sebagian besar dari mereka baik-baik saja, banyak dari mereka yang tetap rendah hati. Menikmati kemudahan yang tersedia karena posisi orang tua bukan sesuatu yang otomatis salah. Bagi mereka, itu adalah bagian dari kenyataan hidup yang tidak perlu terlalu dibesar-besarkan. Tak perlu dibanggakan.
Tapi ada sesuatu yang berbeda pada Rafdi. Bukan sekadar bahwa ia bekerja keras, karena banyak orang juga bekerja keras. Yang berbeda adalah bahwa ia tahu persis ada jalan lain yang tersedia untuknya, yang sebenarnya bisa dia ambil dan manfaatkan, dan ia memutuskan untuk tidak mengambilnya.
Pintu mana pun sebenarnya bisa terbuka. Satu telepon ke orang yang tepat, satu permintaan kecil kepada sang ayah yang kebetulan adalah kepala daerah, dan hidup Rafdi bisa berbeda hari ini. Sebuah kenyataan yang sudah dijalani banyak anak pejabat di negeri ini, dan sebagian besar dari mereka tidak merasa perlu malu karenanya.
Rafdi bukan tidak tahu cara main itu. Ia hanya memilih tidak memainkannya.
–
Ada beban yang lebih berat dari batu bata, yaitu menolak kemudahan yang secara sosial sah-sah saja untuk diambil. Tidak ada yang akan menyalahkan Rafdi kalau ia meminta bantuan ayahnya. Tidak ada undang-undang yang dilanggar. Mungkin juga tidak ada yang akan berbisik negatif di belakangnya. Banyak orang mungkin menganggap itu wajar, bahkan bijak, memanfaatkan jaringan keluarga untuk masa depan anak dan istri.
Tapi Rafdi menanggung beban itu setiap hari dengan diam. Dengan badan yang pegal sebelum matahari terbenam, dengan telapak tangan yang sudah lama kapalan, dengan upah harian yang mungkin tidak cukup untuk banyak hal tapi cukup untuk satu hal yang paling penting: ia pulang ke rumah sebagai dirinya sendiri.
Uang yang ia pakai membeli susu anaknya lahir seratus persen dari ototnya. Bukan dari nama ayahnya, bukan dari pengaruh jabatan, bukan dari kemudahan yang bisa saja ia genggam kalau mau.
Di tengah negeri yang sedang lelah dengan cerita anak pejabat yang menikmati fasilitas publik seolah itu warisan pribadi, yang karirnya mulus karena ada telepon dari lantai atas, yang namanya muncul di tempat-tempat penting tanpa pernah benar-benar berjuang untuk ada di sana, Rafdi bahkan mungkin tidak tahu ceritanya sedang kita baca hari ini.
Ia sedang bekerja keras di bawah terik matahari, untuk keluarga tercintanya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.
Tim Editor