Ada satu kebohongan yang sampai hari masih dipercaya, setidaknya oleh saya. Kebohongan itu berbunyi, soto adalah makanan rakyat yang murah. Anggapan itu tidak sepenuhnya keliru. Di Solo misalnya, masih banyak warung yang menjual semangkuk soto dengan harga Rp5.000.
Beberapa warung legendaris di Solo bahkan masih mempertahankan harga yang membuat dompet biaya anak tidak langsung kehilangan harapan hidup. Di tengah harga makanan yang makin sulit diajak kompromi, soto masih menjadi salah satu sedikit kuliner yang terasa ramah bagi siapa saja.
Masalahnya, saya hampir tidak pernah benar-benar mengeluarkan uang Rp5.000 ketika makan soto. Setiap kali selesai sarapan, harga yang saya bayar hampir selalu berkali-kali lipat dari harga semangkuk sotonya.
Padahal, isu mangkuknya tidak bertambah. Kuahnya tetap segitu, suwiran ayamnya juga tidak tiba-tiba menjadi satu ekor. Yang berubah justru isi piring kecil di samping mangkuk soto.
Di situlah saya mulai curiga bahwa musuh terbesar dompet bukanlah harga soto, melainkan meja kecil yang dipenuhi berbagai makanan pendamping. Ada tahu gorengtempe, bakwan, perkedel, kerupuk, sate usus, sate telur puyuh, sate hati ampela, kepala ayam, dan berbagai sate sate lainnya.
Benar-benar menguji seberapa kuat seseorang mempertahankan niat berhemat. Saya bahkan curiga meja itu bukan tempat menaruh lauk, melainkan perangkap yang dirancang agar pelanggan lupa tujuan awalnya datang.
Perlu tekad yang bulat sebelum makan soto
Padahal niat saya setiap berangkat ke warung soto selalu sederhana. Hari ini cukup soto saja. Tidak usah macam-macam. Toh yang dicari cuma sarapan sebelum memulai aktivitas. Lagi pula, saya sudah tahu bagaimana cerita ini biasanya berakhir. Sayangnya, niat itu hampir selalu tumbang bahkan sebelum saya duduk.
Ketika mangkuk soto datang, mata mulai bekerja lebih aktif daripada logika. Bakwan yang baru diangkat dari penggorengan terlihat terlalu sayang untuk dilewatkan. Tempe goreng di sebelahnya juga seperti memohon agar ikut dibawa ke meja. Belum lagi sate usus yang berjejer rapi dengan wajah polos seolah sedang berbisik, “Satu tusuk saja tidak akan membuatmu bangkrut.”
Soalnya, dalam sejarah umat manusia, hampir tidak ada orang yang berhenti pada satu titik.
Satu sate usus biasanya mengundang sate telur puyuh. Setelah itu muncul pikiran bahwa tahu goreng juga cocok dimakan bersama kuah soto. Tempe sekalian saja, mumpung masih hangat. Kerupuk juga rasanya wajib, sebab makan soto tanpa kerupuk terasa seperti nonton film tapi suaranya dimatikan. Belum lagi kalau ada bakwan yang bentuknya kebetulan lebih besar daripada yang lain. Rasanya sayang kalau tidak diambil.
Lucunya, harga setiap printilan itu memang tidak mahal kalau berdiri sendiri. Gorengan rata-rata hanya Rp2.000 sampai Rp3.000. Sundukan seperti sate usus, ati ampela, atau telur puyuh berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000, tergantung isinya. Angka-angka itu terdengar biasa saja. Persoalannya, meja printilan tidak pernah mengajarkan manusia untuk mengambil satu. Semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin sulit pula tangan ini berhenti mengambil.
Curiga strategi penjual soto untuk memaksimalkan cuan
Berkali-kali “terjebak” pada harga makanan pendamping soto. Lama-lama saya curiga makanan pendamping adalah strategi dagang penjual untuk meraup cuan sebanyak-banyaknya. Strategi yang saya rasa lebih jago daripada penataan produk di minimarket.
Penjual membiarkan nafsu pelanggan yang bekerja. Penjual bahkan tidak perlu menawarkan apa-apa. Pembeli sendiri yang secara sukarela mengambil satu per satu gorengan dan sate sambil terus meyakinkan diri bahwa tambahan dua ribu rupiah tidak akan berpengaruh banyak.
Barulah setelah duduk dan melihat meja penuh lauk, pembeli sadar bahwa semangkuk soto sebenarnya memang murah. Namun, ketidakmampuan pembeli menolak printilan yang menemaninya yang bikin mahal. Setidaknya begitu yang saya rasakan.
Mungkin, strategi jualan yang terlewat mulus itu jugalah yang membuat banyak orang masih saja percaya kalau soto adalah makan rakyat yang murah. Memang murah sih, setidaknya sampai pembeli mulai berdiri di depan meja gorengan.
Penulis: Putri Ardila
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Tips Menikmati Soto Garing Klaten bagi Kalian Penyuka Soto Berkuah.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 23 Juni 2026 oleh