Saya ingin berbagi pengalaman pahit selama menjalankan bisnis laundry rumahan. Selama kurang lebih 3 tahun saya menekuni bisnis tersebut. Berawal modal nekat, saya dan suami mencoba membangun usaha ini, tetapi pada akhirnya harus gulung tikar.
Bukan karena kehabisan modal, melainkan ada banyak hal tak terduga yang sebelumnya tidak pernah kami bayangkan dalam menjalani bisnis “basah” ini. Awal mula kami membuka usaha laundry karena saya dan suami sama-sama sudah tidak bekerja kantoran dan saat itu mencari pekerjaan baru terasa sangat sulit.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, kami akhirnya memutuskan membuka laundry rumahan. Hanya dengan modal kurang dari Rp15 juta, kami nekat memulai usaha tersebut dengan harapan bisa menjadi sumber penghasilan utama keluarga.
Di awal menjalankan usaha, bisnis kami sebenarnya berjalan cukup lancar. Kami bahkan langsung mendapat pelanggan tetap untuk mencuci mukena musala di salah satu mal di Kota Tangerang.
Walau keuntungan yang didapat tidak terlalu besar, perputaran order yang cepat membuat kami cukup menikmati pengalaman baru menjalankan usaha sendiri. Sampai akhirnya masalah mulai muncul saat kondisi landry kami sedang jaya-jayanya.
Karyawan datang silih berganti
Karena kami sudah tak sanggup menjalaninya berdua saja, kami memutuskan untuk mulai mempekerjakan seorang karyawan. Karyawan pertama kami saat itu adalah perempuan paruh baya yang butuh pekerjaan karena suami nganggur. Tanpa pikir panjang, kami menerima dengan tangan terbuka. Namun, baru di hari pertama kerja, karyawan itu langsung memuat kesalahan fatal.
Saat itu, kami memaklumi karena itu adalah pengalaman pertamanya di laundry. Namun, lama-lama bukannya makin pintar justru makin buat elus dada, kejadian tersebut bahkan cukup sering terjadi berulang kali.
Drama terus berlanjut. Setelah karyawan pertama di-memotongdatang karyawan kedua, ketiga dan seterusnya yang masing-masing membawa masalah baru di laundry kami hingga ujung-ujungnya kami yang kembali harus mengerjakan semuanya sendiri
Berbagai karakter pelanggan yang bikin elus dada selalu kami temukan selama menjalani usaha laundry ini. Salah satu yang cukup sering dijumpai adalah pelanggan yang kabur sebelum menebus pakaian yang mereka cuci di laundry kami. Kesalahan terbesar sebagian besar pemilik usaha laundry adalah tidak menerapkan sistem uang muka akhirnya banyak pakaian menumpuk begitu saja di rak laundry.
Mulai dari baju, selimut, penutup tempat tidurhingga boneka masih tersimpan sampai sekarang. Bahkan, beberapa barang sudah berdebu karena bertahun-tahun tidak diambil pemiliknya. Entah alasan apa yang menyebabkan pelanggan tersebut enggan mengambil pakaian mereka sendiri.
Tidak hanya itu, kami juga sering menerima cucian dalam kondisi yang membuat kami harus banyak bersabar. Ada pelanggan yang menyerahkan pakaian dengan noda darah menstruasi, muntahan, bahkan kotoran anak kecil tanpa dibersihkan terlebih dahulu.
Jujur saja, hal seperti itu cukup membuat kami lelah secara mental. Walaupun memang laundry bertugas membersihkan pakaian kotor, rasanya tetap kurang nyaman. Jika harus membersihkan kotoran berat yang seharusnya bisa dibilas lebih dulu oleh pemiliknya.
Biaya produksi laundry yang besar
Selain menghadapi pelanggan dan karyawan, pengeluaran laundry juga ternyata cukup besar. Sabun cuci, pewangi, plastik packing, hingga bon laundry sangat cepat habis. Sementara keuntungan yang kami dapat sebenarnya tidak besar dengan tarif Rp7.000 per kilo.
Belum lagi tagihan listrik dan air yang terus membengkak setiap bulan. Mesin cuci dan pengering pakaian juga beberapa kali rusak karena dipakai hampir setiap hari tanpa henti. Belum lagi gaji karyawan yang tak sedikit. Saat itu kami mulai sadar bahwa usaha laundry tidak semudah yang terlihat.
Sistem antar jemput bikin repot sendiri
Sewaktu menjaring pelanggan baru, kami berinisiatif membuat promo gratis antar jemput dengan minimal cucian 3 kg. Promo tersebut cukup disambut baik oleh pelanggan.
Masalahnya, lagi-lagi pelanggan tak tahu diri saat menggunakan promo menarik ini. Bayangkan saja, saat pakaian hendak diambil di waktu yang sudah ditentukan, pelanggan tersebut lupa menyiapkannya, hingga karyawan yang mengambil menunggu lama. Pelanggan juga sering lama membukakan pintu dan bahkan sering tidak ada di rumah meski sebelumnya sudah janjian.
Bukan cuma itu saja, banyak juga pelanggan yang ternyata cuma mencuci kurang dari 3 kg yang tentu saja tak hanya merugikan kami dalam hal tenaga dan waktu, tapi juga rugi bensin. Masih belum selesai, pelanggan yang sudah diinformasikan akan diantar pakaiannya, ternyata belum menyiapkan uang cash, dan ujung-ujungnya dibayar ditagihan laundry berikutnya alias utang.
Dengan serangkaian drama dalam menjalani bisnis laundry itu, kami akhirnya memutuskan menutup usaha tersebut karena sudah terlalu lelah, baik secara fisik maupun mental. Meski begitu, saya tetap bersyukur karena usaha itu pernah membantu kami bertahan di masa sulit.
Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa menjalankan usaha bukan hanya soal modal dan keuntungan. Mental yang kuat, kesabaran, dan kesiapan menghadapi berbagai masalah juga sangat penting agar bisa bertahan dalam dunia bisnis.
Penulis: Rizka Utami Rahmi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 3 Alasan Laundry Self Service Lebih Unggul daripada Laundry Kiloan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 24 Juni 2026 oleh