1. News
  2. Kombitainment
  3. Eksklusif Christian Bong: Tanpa Media Independen, Musik Ditentukan Platform Streaming

Eksklusif Christian Bong: Tanpa Media Independen, Musik Ditentukan Platform Streaming

eksklusif-christian-bong:-tanpa-media-independen,-musik-ditentukan-platform-streaming
Eksklusif Christian Bong: Tanpa Media Independen, Musik Ditentukan Platform Streaming

Memasuki usia lebih dari satu dekade sejak pertama kali terbentuk pada 2014, Indomusikgram telah mengalami transformasi dari akun repost video menjadi salah satu simpul penting dalam pergerakan musisi kamar di Indonesia. Di balik konsistensi tersebut, ada sosok Christian Bong selaku pendiri.

Menjelang perhelatan Indomusik Talk yang digelar pada 25 Juni 2026 di Gedung Kesenian Jakarta, Bong menceritakan kembali titik awal perjalanan sekaligus visi yang ia bangun sejak masih menjadi mahasiswa musik klasik yang merasa berjarak dengan komunitas musik populer.

Kegelisahan awal Bong muncul setelah lulus kuliah pada 2013. Saat itu, ia merasa kesulitan menemukan ruang online yang aktif untuk berbagi karya. Sembari bekerja sebagai pengajar musik, ia mengisi waktu luang dengan mengunggah video cover gitar. Tanpa disangka, salah satu cover lagu Ed Sheeran mempertemukannya dengan para pendiri Indovidgram yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Indomusikgram.

“Waktu pas bikin Indomusikgram, kami repost semua konten dari creator musik. Apa pun kami naikin. Memang waktu itu habit-nya mengunggah konten musik. Seiring waktu akhirnya berkembang, jadi mulai berbentuk, nggak cuma repost video doang,” kata Bong kepada Pophariini melalui percakapan virtual, 23 Juni lalu.

Dua belas tahun berjalan, cara pandangnya terhadap fungsi Indomusikgram juga ikut berubah. Baginya, platform tersebut bukan lagi sekadar media sosial atau komunitas penikmat musik. Interaksi antara creator, audience, pembuat instrumen, hingga brand telah membentuk jaringan yang menghidupkan banyak lini ekonomi kreatif.

Berbagai pembelajaran, perubahan tren konten, hingga persoalan keberlanjutan bisnis itulah yang kemudian melahirkan Indomusik Talk. Sebelum acara berlangsung, Pophariini berkesempatan berbincang lebih jauh dengan Christian Bong mengenai evaluasi perjalanan Indomusikgram serta tantangan terbesar yang masih dihadapi media musik di Indonesia hari ini.

Indomusik Talk hadir tepat ketika industri musik sedang ramai membahas AI, algoritma, distribusi digital, hingga perubahan perilaku penonton. Pertanyaan paling penting apa yang sebenarnya ingin lo ajukan kepada industri lewat forum ini?

Tentu gue selalu percaya acara pertama itu pasti banyak flaw-nya. Jadi gue embrace segala bentuk kesalahan yang mungkin akan terjadi. The human part is really strong di acara gue nanti. Gue tidak menggaet satu pun EO. Gue handle (acara ini) dengan tim yang berjumlah enam orang, sama gue jadi tujuh. Gue bersyukur dibantu sama beberapa pihak dari luar, tapi bukan EO. Jadi ada beberapa teman-teman gue yang bantuin. Ada Mas Rangga (Sang Eshayoga), dia salah satu personel Prontaxan. Dia bantuin gue secara shadow lah, dia bantuin di belakang, kayak semua checklist untuk bikin acara seperti apa, karena turns out ternyata dia udah ngurusin beberapa stage di Synchronize Fest.

Terus ada beberapa teman dari agency juga yang bantuin gue checklist untuk beberapa hal yang gue nggak pernah kepikiran. Jadi human part is very strong. Jujur kalau gue lihat, apakah gue udah tahu banget nanti membahas apa atau secara topik kuatnya apa, yang ibaratnya membawa sebuah kegelisahan apa, jujur mungkin nggak akan bisa semaksimal itu. Karena acara cuma satu hari, cuma dari pagi sampai sebelum magrib.

Topiknya memang ada, “Lokal Bersuara”, “Tradisi dalam Pop”, itu ada lah. Tapi apakah sudah men-summary industri musik Indonesia? Tentu belum. Kayak tadi lo bilang soal AI, sayangnya belum ada bahasan AI, tapi mungkin nanti dibahas sama salah satu keynote speaker, saya tidak tahu. Karena nanti ada Mas Yovie (Widianto). Di topiknya Mas Yovie, ada (bahasan) tentang musik dan teknologi. Nah, kita nggak tahu nanti kemungkinan dia mau bahas AI.

Om Candra Darusman, dia juga mau ngebahas topik yang menurut gue bagus banget. Dia ada buku namanya Invisible Cycles, dia bakal ngebahas tentang buku itu. Jadi setiap pembicara punya ruang untuk membahas.

Nanti juga, baru hari ini, pas kita ngobrol, gue baru dapat satu konfirmasi ada guest tambahan, Ecko Show. Jadi Ecko Show bakal tampil di live podcast sama Raim (Laode), Rayen (Pono), dan Barry Likumahuwa. Setelahnya dia bakal tampil juga bawain lagu “Orang Baru Lebe Gacor”.

Jadi kayaknya sebagai media the best thing I can do, the best thing we can do itu membuat sebuah inclusive stage, menciptakan sebesar-besarnya panggung aja. Nanti perkara topik yang mau dibahas orang apa, ya kita tinggal curate aja, tapi ya harus ada benang merah.

Oh iya, tapi ada benang merah. Ini mungkin bisa gue sampaikan. Benang merah yang akan terjadi di acara gue itu adalah bahwa tradisi itu bukan sesuatu yang kuno dan orang tua terus. Kalau kita bicara budaya ya. Bukan karena gue didukung sama salah satu Kementerian Kebudayaan ya, tapi gue percaya budaya itu harus pop. Budaya itu harus bisa mudah diingat gitu, dan tidak selamanya budaya Indonesia itu batik, gamelan, atau blangkon.

Seharusnya tuh kita juga bisa memodernisasi dan mem-pop-kan budaya kita, sama kayak kita dengar kalau Jepang itu budayanya apa, kita ingatnya Doraemon atau Pokémon. Iya, kimono betul (budaya Jepang), tapi mungkin yang akan keingat adalah yang dipakai sama pemerintah Jepang buat menyambut kita di bandara, ya itu Pokémon, Doraemon gitu.

Kita sebenarnya juga bisa seperti itu. Jadi yang gue mau bawa itu, dan penampilannya pun nanti (musik) budaya, seperti Endah Laras, Om Jubing Kristianto, Kerontjong Toegoe, dan Adi Kerang & Marvelous, mereka gue curate. Gue nggak mau ada band yang umum gitu, karena gue tahu itu udah sangat dijalankan sama teman-teman lain kayak Krapela, lo juga dengan Bising Kota.

Jadi gue bawa apa yang mungkin belum terlalu dapat spotlight, yaitu teman-teman yang bawain musik yang kesannya kayak heritage dan kalau didengerin biasanya buat ngiringin makan doang gitu ya. Tapi ya ini kita beneran duduk, nonton, dan dengerin. Mereka juga punya karya yang memang udah dirilis.

Kayaknya benang merahnya itu. Gimana gue berharap budaya itu ke depannya tidak lagi segala sesuatu yang kesannya kayak kuno. Gue menangkap terkesannya selalu seperti itu yang dibawa tentang kebudayaan Indonesia tuh, kayak tentang kunonya. Padahal kan nggak juga gitu loh.

Ya, Tenxi, Naykilla juga budaya kita, tapi kita belum menganggap itu sebagai budaya aja. Kita masih melihatnya kayak itu hal yang anomali, padahal bukan, itu budaya.

Jadi gimana caranya ya hopefully intinya gimana budaya kita ini bisa jadi sesuatu yang menarik dan menyenangkan, bahkan untuk tamu dari luar (negeri), karena besok ada beberapa tamu gue juga dari luar datang. Ada beberapa dari Jepang, Malaysia. Mereka harus bisa melihat juga gitu bahwa budaya ini bukan hanya yang terkesan kuno dan tradisi.

Ini agak sensitif ya, tapi memang gue juga nggak bisa terlalu memodernisasi teman-teman yang (musisi) budaya. Karena gue tahu, gue juga tumbuh sama mereka saat kuliah gitu. Ini harus pelan-pelan banget. Nggak bisa yang, “Eh yuk, gamelan kita tuning larasnya jadi Do Re Mi Fa So La Ti Do,” oh, marah pasti mereka.

Karena kan gamelan tuh larasnya, kita nggak bisa semerta-merta men-tuning-kan gamelan menjadi laras Barat. Tapi mungkin let’s say, what if gitu ya, semua musik pop Indonesia menginkorporasi musik tradisi Indonesia, dan itu kan lama-lama jadi bukan tradisi, jadi umum.

Kuncinya sebenarnya satu sih, anak muda. Karena sekarang ini kita punya gap yang cukup besar, di mana musik tradisi itu dimainkan sama orang tua.

Makanya nanti yang Kerontjong Toegoe pun cukup menarik karena yang main itu adalah regenerasi dari Kerontjong Toegoe, namanya Kerontjong Muda.

Dan Adi Kerang & Marvelous adalah dua beatboxer muda yang sudah sering menjuarai kompetisi beatbox di luar negeri, dan setiap mereka tampil, mereka udah pasti bawain lagu-lagu budaya Indonesia kayak “Janger” gitu. Karena memang itu hal yang nge-define mereka dari mana.

Walaupun kelihatannya mukanya kayak Asian aja, orang bisa mikir mereka Vietnamese, bisa mikir mereka Thai, bisa mikir mereka Chinese, atau Japanese, padahal mereka Indonesia. Cara mereka menunjukkan apa selain mereka pakai batik? Ya dari lagu yang mereka bawain.

Jadi memang gap-nya itu harus dipersempit, bahwa sesuatu yang ibaratnya kayak bermain musik kebudayaan nggak harus tua.

Kalau Indomusikgram tidak pernah berdiri, menurut lo seperti apa peta musik independen Indonesia hari ini? Apa yang mungkin hilang?

Gue selalu percaya kita itu sementara dan semuanya itu cuma dititip lah, itu prinsip. Jadi kalau Indomusikgram tidak ada, ya angkanya cuma nyebar aja sih. Jadi kan kami ini mulai duluan dan angkanya sekarang cukup masif ya, tapi kalau misalnya kami tidak ada, berarti angka itu ke-distribute ke Pophariini, Iramanesia, Musikeras, ke yang lain gitu ya.

Karena menurut gue selama pewartaan itu masih suka dilakukan kayak someone like you, someone like me, Mas Wendi Putranto, Mas Adib Hidayat, Mas Erick “Deathrockstar”, ya orang-orang kayak kita ini kan sekarang itu a dying breed ya, profesi yang tidak seksi lagi gitu sebagai jurnalis, apalagi jurnalis musik. Tapi as long as kita senang ngelakuinnya, numbers itu akan terdistribusi aja.

Jadi ketika misalnya kami tidak ada, mungkin yang akan berubah adalah kalau question-nya diubah menjadi, “Kalau siapa pun tidak ada yang mau menjalankan pewartaan musik lagi.” Nah, berarti peta musik Indonesia menurut gue akan menjadi sangat tersegmen. Tidak ada lagi tastemaker, tidak ada lagi benchmark.

Ada satu jawaban yang gue baru kebayang. Berarti ekosistem dan peta musik mungkin akan sangat ditentukan oleh streaming platform, yang very political. Streaming ini gue nggak bilang gue against ya, tapi menurut gue itu tetap ada permainan non-meritokrasi ya, I strongly believe that, meskipun gue nggak punya datanya.

Gue percaya yang masuk ke Top 50 Indonesia, yang masuk ke semua curated playlist, itu ada kaitannya gimana kita dekat atau kenal sama mereka. Nggak semerta-merta karena meritokrasi, nggak mungkin. Gue nggak tahu kenapa gue berani ngomong gini, tapi nggak mungkin.

Kayak contoh misalnya Universal. Universal kan asetnya di Spotify banyak banget, berarti statusnya udah ketukar, bukan Universal butuh Spotify, Spotify yang butuh Universal. Kalau Universal cabut semua asetnya dari Spotify, mungkin goyang. Berarti dengan demikian, pasti ada barter. Pasti ada tuh kenapa anak Universal kecenderungannya lebih gampang dapat editorial curated playlist.

I cannot prove anything, tapi I strongly believe, kalau nggak ada media independen, berarti akan sama kayak dulu, dark age aja, apa yang disuguhin sama platform, itu yang kita makan.

Jadi nggak ada Indomusikgram itu bukan hal paling krusial, tapi kalau nggak ada kita-kita semua nih, ya itu. Nggak usah nggak ada kita-kita deh, atau suatu hari kita semua ramai-ramai dibayar sama mereka karena kita butuh makan. Contoh misalnya, playlist-nya kita udah “Powered by…”, berarti kan curated-nya kita lepas, kita hanya menjadi media placement. Ketika sudah ada di titik itu ya sama aja bohong. Kita ada tapi suara kita juga nggak bunyi.

Ya, nggak tahu salah apa nggak ya. Mungkin juga nggak salah-salah amat, tapi independency-nya hilang aja.

Dari ribuan musisi yang pernah masuk radar Indomusikgram, apakah ada talenta yang dulu lo yakini akan besar tetapi ternyata tidak berkembang? Kenapa itu bisa terjadi?

Tanpa menyebut nama, tentu ada. Bukan satu, tapi lebih.

Menurut gue ada beberapa faktor atau penyakit yang turns out terjadi secara rutin di banyak musisi muda.

Yang pertama, cepat puas.

Setelah gue riset, kan gue sekarang ini udah bapak satu anak. Anak gue empat tahun. I learn a lot of things as being a dad, dan salah satu yang gue pelajari adalah betapa screen time dan delayed gratification itu penting. Gimana kita penting banget untuk, kalau anak kita berhasil melakukan sesuatu, jangan langsung di-reward, tunggu dulu. Dia baru boleh dapat reward-nya nanti.

Gue assuming lo nggak jauh beda sama gue ya. Kita dulu kan gitu ya, ketika mau beli CD baru atau nonton musik, kita mesti nunggu hari itu tiba. Kita nggak bisa tiba-tiba search gitu ya.

Penyakit yang terjadi sekarang gitu, mereka tuh puasnya cepat.

Berkali-kali gue lihat rise and fall anak yang single pertamanya meledak mampus, habis itu langsung tur. Lo bayangin, satu lagu udah tur.

Gue nggak bilang itu salah, hidup pilihan lah. Cuma maksudnya, man, I made a lot of songs. Lo naik di lagu pertama lo mungkin karena hoki. Your label might not know why you succeed in releasing your first single.

Itu gue alami banget.

Jadi jangan happy dulu.

Mungkin salah satu yang gue bisa puji, Idgitaf, Juicy Luicy, terus mungkin Mardial, Voice of Baceprot, banyak lah. Mereka tuh nggak stop di satu lagu, bikin terus.

Gue lihat mungkin ada di DNA mereka bukan mau menjadikan ini satu sukses, tapi jadiin ini suatu lifestyle. Gue asumsi doang sih, gue nggak pernah dengar dari mereka secara langsung.

Tapi kebanyakan yang terjadi, ketika jadi, buset dah, langsung deh ngartis. Langsung produksian pengin high cost. Yang tadinya diiringin sama teman masa kecil dia, tiba-tiba nggak mau, maunya diiringinnya sama level pengiringnya Melly Goeslaw.

Ini gue nggak nyindir ya, maksudnya gue benar-benar contoh doang gitu.

Yang lebih buruknya lagi, ada yang bahkan belum pernah meledak di single pertama karena terlalu keasyikan bikin cover.

Jadi he or she is so good at mimicking or giving the other version of the song, tapi when it comes to be the best version of yourself, ya nggak ngerti gimana. Karena udah keseringan menjadi versi yang terbaik dari dirinya, tapi di lagu orang lain.

Sama mungkin yang terakhir, harusnya kita sama-sama setuju ya, attitude.

Gue pelajarin ya, banyak ngobrol sama beberapa promotor. Gue nggak tahu terjadi di luar apa nggak, tapi banyak musisi yang sukses bukan karena dia jago atau bagus, tapi karena dia orangnya asyik banget.

Misalnya lo nongkrong sama Kiki Ucup gitu ya, more likely, dia ingat lo gitu. Tinggal nanti dilihat musik lo asyik nggak. Kalau asyik, dia ajak lo.

Ada juga kan yang, “Ah, gue maunya pengin punya dunia gue sendiri.” Nah, itu yang biasanya mungkin agak sulit ya.

Dunia kan kecil ya. Media, promotor, brand, agency, rata-rata berteman ya. Gosipnya tuh bisa menyebar.

Lo dengar gosip tentang gue misalnya, tapi ketika lo ngobrol sama gue, kan akhirnya bisa menilai ya. Lo punya hak untuk menilai gue orangnya kayak apa.

Ya sama, ketika kita sama orang lain kan. Tapi kadang kita bahkan belum tentu mau mulai pembicaraan ini, menutup diri gitu.

Jadi ya mungkin itu.

Ya gue senang sama beberapa yang emang benar-benar sukses ya kayak Adikara, Rahmania Astrini, Misellia dari Surabaya, yang emang gue incubate zaman mereka bikin cover. Dan akhirnya mereka sekarang benar-benar sukses.

Some of them still remember gimana Indomusikgram berperan di karier mereka, dan sampai kadang kalau ketemu mereka masih menyapa.

Gue nggak menjadikan itu sebagai sebuah target, tapi ya senang aja ketika melihat mereka pada akhirnya growing.

Banyak media musik tutup, berganti arah, atau kehilangan relevansinya dalam 10 tahun terakhir. Menurut lo, apa kesalahan bisnis terbesar yang sering dilakukan media kreatif dan bagaimana Indomusikgram menghindarinya sampai hari ini?

Gue paling senang topik yang seperti ini, karena kesalahan media musik yang akhirnya tidak survive. Kita bisa tarik ke belakang tuh, sampai ke Rolling Stone.

Gue nih mengikuti… ini beberapa koleksi media gue lah. Ini ada Guitar Plus, terus Rolling Stone. [Bong menunjukkan koleksi majalah musiknya.] Gue bisa dibilang hampir semua koleksinya Rolling Stone, gue nggak pernah absen lah. Bahkan sampai buku-buku kayak Membongkar Rahasia Chord Gitar, terus Belajar Jazz, gue beli semua lah.

Kayaknya kesalahan paling umum adalah telat beradaptasi.

Jadi perkembangan konsumen dan readership itu kan ternyata begitu cepat. Kayak contoh Indomusikgram, apakah kami tidak melewati badai? Tentu tidak. Sangat melewati badai. Apakah sudah melewati banget? Tentu juga tidak, masih di dalam badai.

Cuma we try to dance within the storm. Ini bukan kalimat sok keren ya, tapi literally, figuratively, gue dan tim berusaha untuk berdamai dan berdansa di tengah badai topan dunia ini.

Readership itu kan sangat ever-changing ya.

Contoh nih, kenapa kami akhirnya menjadi media yang tidak hanya fokus cover? Karena kehadiran TikTok. Our presence in helping creators grow itu terkikis, jauh terkikis. And we do realize, jadi memang nggak yang deny gitu.

Ya sekarang orang bisa terkenal tanpa Indomusikgram. Di situ kan goyang.

Secara business model pun, ketika kami helping orang terus-terusan tanpa ada komersialisasi, ya mati lah.

Gue awal-awal karier bantu yang tadi gue sebut tuh, yang Adikara, Rahmania Astrini. Gue bantu semuanya for free.

Rahmania Astrini, gue diminta sama Managing Director Warner Music waktu itu, Pak Toto Widjojo. “Bong, ada nggak artis? Saya mau sign.”

Terus gue cari, terus dia sign.

Semua kepentingan komersialnya masuk ke Warner Music, gue nol. Gue cuma diajak makan.

Ini gue nggak marah ya, by the way. Gue nggak marah sama Pak Toto. Tapi maksud gue, I was so stupid, bro.

Kok dikasih for free?

Maksudnya kan bisa harusnya, “Oh iya Pak, boleh Pak. Kita bikin program talent scouting.”

Atau gue bisa aja bikin kayak dibayar upfront buat gue nyari, habis itu ketika lo sign, gue dapat dua tahun income-nya dia, 10 sampai 30 persen deh nggak apa-apa, karena gue nggak berperan, tapi gue dapat dua tahun.

Berarti kan hubungan bisnisnya berjalan dong.

Kan gue goblok. Gue kuliah musik, gue cuma ngerti main gitar, nggak ngerti apa-apa.

Trinity juga sama. Minta gue talent, gue kasih Adikara.

Bayangin, gue yang scout malam-malam, gue yang repost, gue yang benar-benar dengan hati push konten dia. Ketika naik, diambil sama Trinity, gue nggak dapat apa-apa, nol.

Kan goblok.

Maksudnya ada benang tipis antara menjadi orang yang baik karena memang mau membantu, sama ada yang goblok.

Waktu itu gue bersyukur karena Indomusikgram dibayar sama brand-brand lain untuk hidup.

Bayangin deh kalau waktu itu kami tidak mendapatkan itu, kan tutup. Tiga tahun tutup. Cuma gara-gara apa? Kegoblokan gue.

Itu yang gue bilang, banyak gue temukan, media musik sekarang itu terlalu baik.

For example, dikirimin rilisan, whoa, bikinin editorial, graphic design-nya sampai bikin bagus segala gitu ya, terus benar-benar support beberapa musik tertentu.

Tapi secara komersialisasi, will they help you back? Will they remember you?

We never know, karena lo bisa ngetes itu ketika suatu hari lo bikin event, terus lo ngundang mereka.

Will they give you a rate card?

Atau mereka akan, “Santai, aman Mas. Lo udah banyak bantuin gue, gue bantuin balik deh.”

Ada yang kayak gitu.

Tapi kan most of the cases pasti apa?

“Oh iya Mas, ini nomor manajer saya nih.”

Buat kita yang udah bantuin mereka kan, “Anj*ng, kan gue banyak bantuin lo zaman lo masih belum jadi apa-apa.”

Jadi kalau gue lihat sekarang, itu tantangan yang paling besar. Mengerti dan mempunyai benang jelas antara di mana dan kapan kita bekerja secara komersial.

Karena yang kita lakuin sekarang, ngeliput, itu kan kerjaan ya. It shouldn’t come for free.

For everything lah, bukan hanya tempat kita kerja.

Buat musisi, mereka harus tahu promosi yang mereka dapat dari semua ini, bukan hanya Indomusikgram atau Pophariini, itu harus ada bayarannya suatu hari.

Entah bayarannya lo main di acara gue free, whatever, harus ada.

Dan gue sangat mau memajukan mindset itu. Bahwa kalau kita semuanya berpikir jurnalis itu cuma diundang, terus dikasih amplop, dikasih makan, bilang thank you, terus lo naikin press release gue, kita suatu hari akan mati juga.

Nggak akan bisa survive.

Kita akan jadi the next Rolling Stone, kita akan jadi the next Billboard.

Makanya sekarang yang terjadi di Indomusikgram, gue sekarang sangat meng-curate mana yang mau gue support for free.

Dan tentu jadinya gue sangat dekat sama media. Gue jadi membangun persekongkolan sama yang sama-sama kasihan, sama-sama “dikerjain” lah sama industri.

Jadi menurut gue in short, kesalahannya adalah terlalu baik.

Terlalu membangun citra bahwa kita ini orang media yang penting diajak nongkrong sama musisi, kita happy.

Padahal nggak.

Kita juga mesti makan, kita punya kepentingan, kita juga butuh deal komersial.

Atau kita bisa jual juga readership ke brand, tapi tetap industri musik harus bisa ngerti.

Karena sampai kapan kita mau cari duit dari brand? Suatu hari kan kita harus cari duit dari pelakunya.

Makanya sekarang gue buka tuh donasi Indomusikgram. Wah, pada ngatain gue di awal. Pada ngira kami kere, kami bangkrut.

Tapi ya nggak apa-apa. Gue nggak akan marah atau apa pun. Gue cuma mau bilang, Tempo bisa membuat sistem subscription-based karena mereka secara IT-nya udah jadi lah ya.

Mereka bikin paywall. Kalau lo belum bayar, lo nggak bisa baca artikelnya.

Dan itu menurut gue sebuah statement ya, karena mereka punya kualitas. Mereka nggak bikin artikel jebret setiap hari gitu. Mereka bikinnya yang dalam, yang harus dibahas.

Tapi kan gue nggak punya luxury untuk semerta-merta bilang, “Lo mau baca artikel ini harus bayar.”

Ya udah, gue bikin aja sistem pembayaran kayak maraton gitu. Kalau lo nyumbang, nama lo gue masukin ke leaderboard.

Emang tolol sih, jujur tolol. Tapi this is the best that we can get untuk bisa dapat dukungan langsung dari readership.

Gue percaya, we have to survive.

Industri musik harus tahu bahwa media musik tuh susah.

Kalau industri musik nggak support, we’re not gonna make it.

Banyak musisi muda sekarang lebih fokus membangun audiens ketimbang membangun karya. Menurut lo, apakah industri saat ini sedang menghasilkan lebih banyak “kreator” daripada “musisi”?

Itu sebenarnya ada dua perspektif ya.

Jadi kan ada musisi yang masih sampai 2026 ini ngeluh bahwa dia harus bikin konten, padahal dia meng-glorify masa-masa lampau di mana bikin konten itu bukan sesuatu yang harus. Ada musisi yang justru senang sekali hidup di era sekarang karena dia bisa mendefinisikan sendiri promosi musik tuh seperti apa.

Jadi menurut gue ini hanya sebuah transisi ya, sama seperti awal mula internet hadir, awal mula virtual instrument VST hadir dan mengalami penolakan. Content creator daripada musisi, itu juga menurut gue hanya transisi lah.

Kalau sekarang pada akhirnya kan kita melihat tujuannya sebenarnya mereka mau hidup dari musik, entah dari off-air, streaming, atau dari endorsement. Gue anggap tiga ini yang paling utama.

Tujuannya kan sebenarnya mau ke sana.

Kenapa Justin Bieber atau Bernadya misalnya nge-post segitu banyak tentang materi lagunya? Karena biar apa? Biar off-air-nya lebih lancar.

Oslo (Ibrahim) juga, meskipun dia mengeluh bahwa konten dia lebih naik daripada musiknya, tapi kenapa he still keeps doing it? Menurut gue karena dia tetap mencari momen di mana musik dia melebihi konten dia.

Jadi gue cukup pro sama teman-teman yang terbuka untuk mau banyak bikin konten. Karena satu, gue sering banget melihat musisi yang mengeluh tentang kenapa harus bikin konten atau mengecilkan orang yang bikin konten.

Pertanyaan gue cuma satu, lo udah coba belum bikin konten? Lo udah coba belum memikirkan how to make good content?

Kalau lo udah coba, lo udah tahu susah. Harusnya lo tahu kalau ini bukan hal yang sepele.

Ini bukan hal yang seru-seruan, lucu-lucuan.

Bahkan kemarin gue sempat lihat media, gue lupa media apa, bikin meme. Gambarnya band lama, terus ada tulisan gitu, “Bayangin deh kalau band ini hidup di era sekarang, kita suruh mereka joget-joget.”

Wah, itu like-nya banyak banget.

Itu menurut gue salah total.

Satu, TikTok itu isinya sekarang bukan dance lagi. TikTok itu orang-orang serius loh. Banyak yang bikin video panjang, banyak yang mengungkapkan opini secara serius, jadi udah kayak blog modern gitu.

Kalau gue sih akan sangat menyarankan siapa pun yang mungkin masih against sama content creating, coba deh ngobrol sama teman-teman yang beneran ngonten, dan masuk sama selera lo kontennya.

Coba sesekali lihat ketika mereka syuting atau ketika mereka lagi ngedit carousel gitu ya, itu capek banget.

Kayak contoh artikel Indomusikgram, kalau misalnya kita bikinnya lewat mobile, per artikel itu bisa 40 menit.

Itu capek.

Bukan sesuatu yang cetek.

Milih gambarnya lah, font-nya lah.

Jadi, it’s not something yang terkesan sepele gitu. Tapi sayang masih banyak yang menganggap kalau lo ngonten tuh hal yang “meh” atau “apaan sih?” gitu.

Nah, mungkin yang kedua, memang sekarang susah mau bikin lagu terkenal.

Gue dapat data, gue nggak tahu data ini valid atau nggak, tapi gue ngobrol sama orang yang bagian dari ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia). Per harinya tuh musik Indonesia hampir 10.000 yang dirilis.

Lo bayangin, 10.000 dikali 365 hari.

Kan anj*ng ya.

Gimana bisa menang?

Gimana bisa menang ngelawan 9.999 lainnya gitu loh?

Dan ditambah di dalam situ ada Baskara (Putra), ada Bernadya, ada Perunggu.

Udah mah susah lawan 9.000 orang kan, eh di dalamnya ada final boss.

Belum nanti tiba-tiba Ariel/NOAH turun gunung.

Gimana mau menang, gue tanya?

Kalau lo nggak ngonten, lo nggak punya X factor, lo nggak punya hal yang baru, how the fck can you win against them?*

Kan susah.

Selalu ada cara untuk menang, tapi yang paling utama lewat apa?

Ya lewat konten.

Kalau lo malas bikin konten, lo berteman dengan banyak media, berharap media-media itu yang ngerjain kontennya buat lo.

Kayak contoh SLR (Sukses Lancar Rejeki) tuh. SLR kan nggak terlalu bikin konten ya. Tapi lo lihat, media-media yang lomba bikin konten buat mereka kan. Nah, itu juga keren tuh.

Jadi ya SLR just being them, tiba-tiba mereka tur ke media-media, media-media yang ngenalin mereka. Sekarang lihat mereka off-air-nya.

Nah, itu juga bisa.

Jadi ya kalau nggak mau bikin konten sendiri ya jadilah orang yang segitu uniknya sampai orang mau bikinin kontennya buat lo.

Sekarang banyak media musik, komunitas, label, hingga kreator konten mulai menjalankan fungsi yang mirip satu sama lain. Menurut lo, apakah batas-batas peran dalam industri musik sedang menghilang? Jika iya, apa dampaknya?

Lucunya yang interview gue adalah, bisa dibilang teman nih ya, tapi bisa juga seperti kompetitor gitu kan.

Nah, menurut gue pada akhirnya begini, tentu namanya kita ketika melakukan hal yang mirip ya, kita akan bersaing secara sehat ataupun secara tidak sehat. Ya itu balik lagi ke permainan elitnya lah ya.

Tapi yang pasti sebenarnya, industri musik itu harus bisa menentukan juga mana yang mereka mau bagi ke yang mana. Dan pentingnya ada ekosistem itu juga salah satu yang sangat mendukung.

Contoh misalnya, Pophariini itu kan terbentuk di mana rumahnya itu ada MALIQ & D’Essentials dan ada yang lainnya ya.

Contoh MALIQ deh. Cara untuk menjaga keharmonisan itu gampang, caranya adalah jangan cuma di media.

It might sound easy, tapi itu salah satu cara yang sangat nyata.

Contoh, ketika kantor lo ada musikal Senja Teduh Pelita, tentu itu tidak akan bisa berkompetisi sama gue, karena gue tidak punya MALIQ. Yang ada, kita bisa berkolaborasi.

Itu kan berarti momen di mana your company group tidak bisa mengandalkan Pophariini sepenuhnya, harus berkolaborasi dengan yang lain.

Sama seperti gue ketika gue bikin Indomusik Talk dan Pophariini tidak bikin acara talks seperti itu juga di Jakarta. Ya berarti kita tidak berkompetisi.

Kalian mau bikin di Solo dan talks hanya jadi salah satu bagian dari acaranya, jelas kita tidak berkompetisi.

Jadi saling mendukung.

Nah, jadi sebenarnya itu skill issue dan experience issue aja sih menurut gue.

Yang harusnya bisa kita jalankan adalah secara rutin membuat kolaborasi yang tidak saling mengkanibal.

Jadi misalnya nanti Indomusikgram sama Pophariini, bisa nggak?

Bisa banget.

Cuma kita bagi. Misalnya contoh ada kurasi talenta nasional, ya dibagi.

Indomusikgram untuk yang fokus ke penyaringan dari konten media sosial ke 50 terbaik, Pophariini dari 50 ke 10 gitu, bisa.

Selebihnya ya wallahualam ya.

Pasti ada aja yang kita bahas secara kompetisi gitu.

Misalnya siapa duluan ngebahas tentang siapa, terus ngebahas topik yang sama tapi views dan engagement-nya gedean mana, itu pasti ada.

Saling menginspirasi satu sama lain alias saling contek program satu sama lain, pasti ada juga.

Entah kita lihat dari akun yang mana, terus kita ambil, kita adaptasi, ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) gitu ya.

Jadi ya selama garis etika dan moralnya masih belum di-cross, harusnya sih masih bisa.

Mau nggak mau.

Bingung juga dengan kondisi sekarang. Akan lebih berat itu kalau fokus ke media doang, nggak ada program, nggak ada program offline. Nah, itu mungkin yang bakal lebih repot untuk bersaing sama yang ada offline-nya.

Makanya gue lihat kayak Iramanesia, meskipun mereka nggak gede, tapi mereka bikin acara offline rutin. Ya itu menurut gue bagus banget, karena itu langsung nge-cut segala kekurangan mereka di followers.

Jadi orang nggak menilai mereka dari jumlah followers mereka yang kecil gitu.

Apa sih keputusan paling nggak populer yang pernah diambil Indomusikgram, tapi pada akhirnya terbukti jadi keputusan yang tepat?

Ada beberapa lah ya. Keputusannya mungkin bikin donasi, ternyata lumayan dapat support. Meskipun belum sampai bisa nutup operasional per bulan ya, tapi ya lumayan lah, kami happy.

Keputusan yang lain adalah, sebagai media jurnalistik, gue sempat ngebahas ini sama beberapa teman, dan gue sempat mengutarakan ini di sosmed gue juga gitu loh.

Gue ngerasa justru unpopular decision atau opini yang bisa dibangun dari menjadi sebuah media adalah ngebahas yang pop, ngebahas yang mungkin agak receh gitu ya.

Karena gue perhatiin, kalau kita sadar ya, most of the music media sekarang itu bahasnya yang “kiri”, yang “skena”, yang band, yang mungkin musiknya lebih ke rock, post-rock, pokoknya yang unik gitu ya, yang benar-benar fresh new sounds.

Tapi ketika kita bicara yang benar-benar grassroots dan membentuk ekosistem pendengar musik Indonesia, kita kan nggak bisa tutup mata sama betapa orang Jawa itu masih sangat suka mendengarkan Didi Kempot, Happy Asmara, Yeni Inka, Denny Caknan.

Betapa orang Timur itu sangat suka sekarang mendengarkan Toton Caribo, Ecko Show, dan yang lain-lain gitu ya.

Betapa musik di Pekanbaru ternyata ada yang kayak AL HAFZH, di Aceh ada Killa The Phia gitu ya.

Betapa mereka itu memiliki grassroots yang ternyata tidak seperti apa yang kita anggap keren, yang bisa masuk Krapela atau acara-acara keren di Jakarta.

Mungkin ini yang menurut gue unpopular decision-nya Indomusikgram, yaitu justru kami masih sering membahas itu.

Ya, ST12, musik-musik pop lain gitu ya, yang mungkin bagi banyak media yang sekarang ada di Indonesia, “Kayak gitu ngapain dibahas, Bro? Kan itu udah terkenal. Itu kan udah nge-pop.”

Sebenarnya kita nggak bisa tutup diri. Fans itu sangat menentukan.

Jadi ketika memang fans-nya ada, kenapa kita tertutup?

Kayak contoh, kenapa Pokémon memilih Happy Asmara untuk kolaborasi? Dan kenapa memilihnya pun “Kopi Dangdut” gitu ya.

Which is, sebenarnya FYI, “Kopi Dangdut” itu sangat punya legal issue loh. Karena lagu itu kan sebenarnya “Moliendo Café”, dari Eropa.

Itu tidak secara resmi di-translate.

Mei lalu sempat muncul narasi yang mengaitkan Indomusikgram dengan pemerintah dan kemudian dibantah oleh pihak Indomusikgram. Di era ketika independensi media, komunitas, dan kreator semakin sering dipertanyakan, bagaimana lo menjaga kepercayaan publik terhadap Indomusikgram?

Itu tentu cara yang bisa dilakukan, semaksimal yang bisa gue lakukan.

Sebagai contoh, for context, gue itu adalah tim music producer waktu Pilpres 2024 dan gue diajak sama Raffi Ahmad. Waktu itu gue diajak untuk menjadi bagian dari music producer dan memang secara hak pilih pribadi, ketika gue disuruh pilih di antara tiga kemarin, gue memang lebih condong ke Prabowo sebagai sosok.

Dan keputusan itu ternyata berdampak cukup besar di gue karena cara Raffi membuat sebuah campaign itu membuat poster, lalu poster itu ada nama gitu ya. Dan akhirnya itu menjadi hal yang selalu digunakan orang untuk menyerang gue atau Indomusikgram ketika terjadi sesuatu di Indonesia.

Meskipun balik lagi, secara demokrasi, lo mau jadi bagian dari apa pun, sebenarnya itu masih hak kita sebagai warga negara Indonesia. Meskipun balik lagi tetap ya, orang juga berhak untuk mau ngatain kita balik, apa pun itu.

Itu for context. Tapi itu tidak ada hubungannya sama Indomusikgram, itu gue pribadi lah.

Nah, untuk yang Indomusikgram, kemarin itu kita kena jebakan aja sih sebenarnya. Karena kami diundang ke sebuah grup WhatsApp sama teman-teman dari media baru, lalu grup WhatsApp itu memiliki beberapa agenda. Salah satu agendanya ketemu sama kabinet, termasuk wakil presiden.

Tapi gue nggak pernah ikut. Gue baru ikut dua kali, waktu sama Kementerian Ketenagakerjaan dan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif.

Waktu pas kayak gitu, tiba-tiba si kepala Bakohumas yang baru itu bikin pernyataan yang kurang pas. Dia bilang menggaet mitra.

Sebenarnya salah nggak? Nggak. Karena memang maksudnya itu kita dijadikan daftar undangan media yang diundang. Jadi lo mau datang atau nggak, terserah.

“Press conference nih, ada yang mau datang nggak?” gitu loh.

Kayak Pophariini diundang buat press conference, sama kayak gitu sebenarnya.

Nah, sebenarnya ada satu sumber pemantiknya, Tempo.

Tempo merilis berita yang sangat memberikan narasi yang buruk.

Dari semua artikel yang naik pada saat itu, hanya Tempo yang membuat artikel. Gue ingat narasinya kayak gini, “Istana merekrut homeless media untuk jadi buzzer capaian program Prabowo.”

Itu jahat sekali.

Karena semua media nggak ada yang naikin itu. Hanya Tempo yang naikin itu.

Itu jahat sekali.

Habis itu, satu-satunya dari yang lain, Tempo menulis “Bakohumas meresmikan”. Yang lain nggak.

Tahu apa yang terjadi?

Tempo minta maaf. Tempo edit artikelnya. Dan Tempo menghapus unggahannya di X.

Ini nggak semua orang tahu, tapi the damage has been done kan?

Damage-nya udah terjadi.

Mereka minta maaf, mereka chat kami untuk bikin artikel tambahan, tapi ya damage-nya udah terjadi. Dan gue lagi-lagi kena juga kan, gara-gara orang kaitin gue lagi sama yang itu.

Cuma ya, yang bisa kita lakuin ya semaksimal yang bisa kita lakuin, whatever it is.

Ya udah, lo bisa bikin pernyataan, lo memang tetap menjalankan peran lo sebagai media.

Memang nggak ada media buying, nggak ada.

Gimana kalau emang nggak ada?

Apa yang mau lo prove kalau memang nggak ada kontrak apa pun?

Jadi memang ini menurut gue pembunuhan karakter level masif aja.

Dan gue bisa bilang, gue have nothing against Tempo sebelum kemarin.

Ketika kemarin terjadi, gue benar-benar ya, wah bahaya nih Tempo nih. Gue mesti hati-hati.

Jadi kemarin benar-benar cebokinnya capek banget.

Jadi akhirnya setelah semuanya selesai, ya udah kami jadi hati-hati untuk apa pun itu.

Itu kalau lo mau tahu ya begitu kejadiannya.

Di-delete unggahannya, diedit artikelnya, dan di bawah footnote-nya ada permintaan maaf.

“Kami mohon maaf atas kesalahan ini. Editorial kami salah.”

Gitu kan.

Tapi kan who cares about editing?

Orang udah lihat, udah keluar tulisannya.

Satu artikel bisa bikin begini.

Nah, itu tuh yang kejadian tuh kalau lo mau tahu.

Jadi ya, ya gitu lah.

Jadi ya, we have to be really careful aja lah.

Whoever writes any article, we have to be really careful.

Karena narasi yang salah ini bisa benar-benar berdampak sama hidup banyak orang.

Ya untungnya sih nggak sampai bikin gimana, tapi ya what if kemarin benar-benar sampai berdampak total gitu kan, padahal kenyataannya nggak.

Dan kalaupun memang… ini jawaban terakhir, kalaupun memang menjadi mitra pemerintah, pertanyaan gue cuma satu.

Emang sekarang media mana yang nggak ada media buying sama pemerintah?

Hampir semua ada.

Ya tergantung item-nya apa kan.

Balik lagi, nggak semerta-merta media buying tuh berarti semua yang buruk kita tutupin, yang bagus dinaikin. Itu baru benar-benar buzzer.

Buzzer kan lebih masif dan orang-orang yang nggak dikenal gitu.

Kalau media buying mah sebutannya nggak buzzer sih.

Kalau kita bertemu lagi pada ulang tahun ke-20 Indomusikgram, apa satu hal yang ingin lo wariskan kepada ekosistem musik Indonesia yang menurut lo lebih penting daripada sekadar jumlah pengikut, jangkauan, atau pertumbuhan bisnis?

Tentunya sebagai orang beragama, gue setiap hari berdoa Indomusikgram ini menjadi sebuah institusi dan perusahaan yang last beyond gue, karena gue paling umur berapa ya? Gue juga nggak tahu ya.

Tapi ya, gue udah belajar dari banyak senior sebelum gue, dan gue melihat banyak perusahaan sebelum gue. Tentu warisan yang mau gue bawa, gimana inklusivitas itu harus selalu gue jaga.

Eksklusivitas itu penting dalam mengurasi, tapi inklusivitas itu sangat penting juga. Di mana gue sadar, 12 tahun belajar ini selalu ada isu yang sama, yaitu isu di mana musisi dan seniman muda itu memiliki keresahan untuk mencari mentorship, guidance, atau wadah.

Harapannya kalau udah sampai usia 20, gue sudah punya ekosistem di mana online dan offline gue sudah running.

Jadi harapan gue nanti gue udah punya platform distribusinya Indomusikgram sendiri. Mungkin kerja sama dengan Universal, mungkin juga tidak, mungkin kerja sama dengan Believe. Tapi gue punya semacam TuneCore gitu, yang siapa pun bisa rilis, versinya Indomusikgram, dan terintegrasi dengan medianya juga.

Jadi memang apa yang dirilis di situ mendapatkan support penuh dari media Indomusikgram, baik itu dari program yang paling receh sampai program yang paling masif.

Dan juga di Indonesia, fokus Indonesia dulu ya, kami udah punya beberapa titik, community area atau community centergitu, di mana emerging artist mungkin bisa berkolaborasi di situ.

Harusnya itu bisa terjadi, karena sekarang (sudah) dijalankan, cuma masih banyak sama corporate nightlife.

Jadi, what if suatu hari ya mungkin big corporate ini bekerja sama dengan Indomusikgram, kami bikin kayak misalnya Indomusik Stage di beberapa tempat.

Jadi di situ ada selalu tim yang merekam tiap hari. Siapa pun yang tiba-tiba nyanyi dan bagus, bisa kami cover di sana, bisa langsung kita integrasikan juga dengan yang di pusat, baik itu dengan pusat di Jakarta atau di tempat lain.

Intinya sih, harapan gue bisa memiliki selalu spirit inklusif dan tetap beradaptasi sama siapa pun yang nanti running this company, mau itu keturunan dari gue atau bukan gitu ya.

Bisa memiliki spirit bahwa adaptasi itu penting banget, karena bisnis yang bisa tahan lebih dari 10 tahun itu jarang, tapi lebih jarang lagi yang lebih dari 50 tahun.

Gue nggak punya hal yang terlalu muluk-muluk sampai nanti. Kita juga nggak tahu kan kondisi geopolitik dunia ini kayak apa. Bisa aja nanti tiba-tiba nuklir, udah nggak ada artinya lagi, Bro. Mau Indomusikgram, Pophariini, udah nggak ada artinya lagi.

Jadi selama masih bisa berdampingan dan hidup di ekosistem, gimana caranya bisa tetap ada spirit adaptasi dan inklusif.

Gue sangat percaya inklusif itu, lo nggak boleh nolak siapa pun. Lo mesti dengerin dulu.

Oke, mungkin dia lagunya jelek, suaranya jelek, tapi lo dengerin dulu. Jangan di-label-in gitu.

Kayak misalnya tentang Indomusikgram di-relate sama pemerintah, tentang gue gitu ya. Kayak lo hari ini ngobrol sama gue, mungkin lo akhirnya bisa memiliki perspektif lain tentang gue. Tapi kan mungkin banyak orang yang udah keburu membangun label tentang gue karena apa yang mereka dengar gitu ya.

Mungkin itu juga inklusivitasnya. Gue tetap percaya, seberapapun lo menganggap orang itu A atau B, kalau lo udah ngobrol, mungkin lo akan bisa baru mengenal dia lebih lanjut.

Sama kayak musik gitu. Kita kalau belum dengar kenapa dia lakuin itu, mungkin kita nggak tahu kenapa dia mau rilis lagu kayak gitu.

In summary, di tengah begitu banyaknya musik yang dirilis hari ini, di tengah begitu banyaknya talenta hari ini, pada akhirnya kita mungkin akan memberikan kepedulian yang lebih terhadap musisi yang value-nya lebih ada.

Kayak kenapa dia mau lakuin ini gitu.

Kayak Baskara gitu ya. Gue yakin pendengar dia itu bukan hanya dengerin lagunya, tapi karena appreciate him as a person gitu.

Tapi kan how can we appreciate someone as a person kalau kita belum membuka diri untuk mengetahui orang itu sebagai seorang manusia?

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Eksklusif Christian Bong: Tanpa Media Independen, Musik Ditentukan Platform Streaming
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us