Unit hardcore asal Jakarta, Avhath terkenal dengan pendekatan musik yang cukup unik. Pada dasarnya, band yang sudah terbentuk sejak akhir tahun 2012 ini lebih nyaman dengan merilis materi-materi berupa single atau album mini.
Namun, kabar mengejutkan datang bahwa band tengah menyiapkan album penuh pertamanya di tahun 2026. Pada tanggal 24 Juni 2026, tim Pophariini akhirnya menghubungi 2 personel Avhath, yaitu Ekrig dan Rey, untuk menyelami informasi terkait album terbaru mereka.
Dalam wawancara via Google Meet, band menjelaskan bahwa proyek terbaru mereka akan terdengar lebih fresh dan baru di telinga pendengar. Secara teknis, vokal yang akan dibawakan ke dalam lagu-lagu di album ini akan terdengar lebih bernada dibanding rilisan sebelumnya dengan sentuhan drum yang lebih modern dari Avhath.
“Karena ini yang paling modern, sound drum paling modern kita dibanding rilisan sebelumnya sih. Kalau approach soal ngambil vokalnya juga gue beda, kayak biasanya gue hajar terus satu part semuanya gue nyanyiin, ini gue banyak nahan. Banyak patahan-patahannya lumayan renggang di antara satu kata dan kata lain gitu sih,” kata Ekrig.
Rey mengaku juga bahwa kemunculan ide album ini bukan soal perayaan atau momen yang dirasakan oleh band, melainkan panggilan natural dalam 14 tahun mereka berkarya.
“Kita ngerasa buat bikin album tuh, cukup tergantung mood. Jadi kalau menurut kita kayak, ‘oh kayaknya bikin single aja deh.’ Atau kita bikin split sama Puntari gitu. Maksudnya juga bukan hal yang direncanakan gitu. Jadi kayak memang nge-flow aja. Kalau menurut kita mood-nya lagi oke buat nyambingin sesuatu ya kita kerjain,” terang Rey.
Ekrig menambahkan bahwa memang sebelumnya tidak ada momentum yang menjadi pemantik terciptanya album yang akan diberi judul Avhath ini, melainkan mereka ingin membuat momentum untuk band melalui karya terbaru mereka.
Proyek yang sudah dimulai sejak Januari ini juga tidak akan membawakan kolaborasi dengan musisi lain di dalamnya. Avhath ingin album penuh pertama mereka menjadi sebuah penekanan identitas band dengan meminimalisir kekuatan eksternal.
Ekrig juga menjelaskan bahwa album ini bukan menjadi proses pendewasaan band, melainkan sebuah rangkuman proses evolusi Avhath selama 14 tahun ke belakang.
“Ini tuh sebenernya bukan segampang ‘Oh proses pendewasaan’ atau apa. Ini malah bukan proses pendewasaan menurut gue, tapi proses berevolusi Avhath sebenarnya dirangkum di satu album ini gitu. Inti sarinya proses 14 tahun ke belakang setelah kita sudah berapa lama bareng ngeband,” ucap Ekrig.
Pengerjaan materi terbaru mereka juga terbilang cepat dan lancar. Saking lancarnya, dokumentasi profesional terkait album ini juga minim. Avhath malah merekam momen pembuatan album ini melalui HP masing-masing personel dan mengunggahnya ke dalam media sosial dengan akun terpisah yang dikhususkan untuk album terbaru mereka.
“Lucunya kita minim dokumentasi profesional gitu ya. Maksudnya, dengan kamera, ngajak photographer atau apa. Karena, mostly dokumentasinya dari handphone kita masing-masing.
Akhirnya kita khusus bikin satu account handle-nya namanya @avhaththealbum,” jelas Rey.
Terkait perayaan album, band juga sudah memikirkan cara agar materi terbaru mereka bisa diterima lebih dekat dengan pendengar. Walaupun belum ada kepastian mengenai showcase untuk album ini, Avhath sudah merencanakan untuk membalut beberapa lagu ke dalam sebuah videoklip.
Rey berharap, dengan hadirnya album Avhath bisa menciptakan kesempatan-kesempatan baru, dan juga mendatangkan pendengar-pendengar dari tempat-tempat yang belum pernah terdengar oleh Avhath sekaligus membawa mereka ke tempat yang belum pernah mereka sambangi.
“Kalau dari sisi gue, yang gue harap tuh lebih ke bisa lebih banyak manggung aja sih kayaknya dengan adanya si album ini gitu. Tapi kita pun juga gak melihat itu sebagai goal atau target. Maksudnya this is just our, atau my personal, wish aja gitu. Semoga album ini bisa membawa kita ke tempat yang belum pernah kami sentuh aja,” tutup Rey.
Foto artikel oleh Satrio Panji/@tuanrioo.