1. News
  2. Berita
  3. Nusantara Bertutur, Raja yang Suka Marah

Nusantara Bertutur, Raja yang Suka Marah

nusantara-bertutur,-raja-yang-suka-marah
Nusantara Bertutur, Raja yang Suka Marah

Pagi itu, suasana di Kerajaan Rimba Hijau mendadak tegang. Raja Sima, seekor singa berbulu lebat yang baru saja naik takhta, berjalan mondar-mandir di aula istana dengan wajah merah padam. Sebagai raja baru, ia ingin semua pekerjaan berjalan sempurna. Namun, ketika melihat ada tugas belum selesai, dadanya langsung bergemuruh karena kesal.

“Braaak!”

Raja Sima menggebrak meja kayu besar di aula dengan cakar tajamnya hingga cangkir-cangkir di atasnya terpelanting.

“Mengapa laporan panen buah ini lambat sekali? Kalian harus lebih giat lagi bekerja!” seru Raja Sima dengan suara menggelegar.

Kemarahan Raja Sima tidak hanya terjadi di dalam istana. Saat berbicara di depan warga di alun-alun kerajaan, ia sering kali menunjuk-nunjuk dengan cakarnya yang tajam sambil berseru galak. Alih-alih berkata dengan lembut, Raja Sima lebih sering mengaum marah yang membuat seluruh rakyat ketakutan. Anak-anak hewan bersembunyi di balik induk mereka.

Para menteri, pelayan,  dan seluruh rakyat seketika tertunduk ketakutan setiap kali Raja Sima lewat. Mereka gemetar dan memilih diam daripada salah bicara.

Melihat hal itu, Paman Piko, si burung bangau yang setia menjabat sebagai Perdana Menteri, melangkah maju dengan tenang.

“Baginda Raja yang gagah,” ucap Paman Piko lembut. “Rakyat patuh karena menghormati wibawa Baginda, bukan karena takut akan amarah. Suara benturan meja dan ucapan yang ketus tidak akan mempercepat pekerjaan, melainkan membuat hati mereka ciut, cemas, dan kehilangan semangat.”

Raja Sima tertegun. Kata-kata Perdana Menteri ternyata perlahan-lahan meredakan panas di dadanya. Ia melihat ke sekeliling dan menyadari betapa takutnya para penghuni istana dan rakyatnya sendiri kepada dirinya.

“Lalu, apa yang harus kulakukan, Piko? Dadaku sering kali terasa sangat panas ketika aku merasa sebal dan marah.” Raja Sima menjawab dengan suara mulai merendah.

Paman Piko tersenyum. “Setiap kali Baginda merasa ingin memukul meja atau berteriak, tariklah napas dalam-dalam. Embuskan perlahan seperti angin malam yang tenang. Pikirkan bahwa pemimpin yang bijak menyelesaikan masalah, bukan berteriak dan menakuti rakyatnya.”

Raja Sima mengangguk pelan. Rasa penyesalan mendalam hadir di hatinya. Ia sadar, kekuatan sejati seorang raja bukan terletak pada kerasnya cakar atau kasarnya ucapan, melainkan luasnya kesabaran.

Keesokan harinya, saat berbicara di depan rakyatnya, Raja Sima tidak lagi memukul meja atau berseru galak. Ia berbicara dengan tegas, tetapi tetap penuh kasih dan santun. Kerajaan Rimba Hijau kembali damai dan seluruh rakyat hidup berdampingan dengan hati gembira.*

logo baru nusantara bertutur

Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Elyanoor Oktaviana
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Nusantara Bertutur, Raja yang Suka Marah
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us