Stadion Gajayana Malang sudah tak semegah dahulu. Bangunan stadionnya masih ada dan digunakan warlok untuk berolahraga di akhir pekan. Namun, jujur saja, kondisinya bak hidup segan mati tak mau.
Padahal, menilik kembali ke belakang, stadion ini bukan sembarang bangunan. Stadion Gajayana yang berdiri sejak 1924 di jantung Kota Malang itu jadi bagian penting bagi banyak klub sepak bola. Mulai dari Voetbalbond Malang en Omstreken, Persema Malang, hingga Arema Malang.
Selama bertahun-tahun tahun berdiri, Stadion Gajayana menjadi saksi bisu sepak bola Kota Malang. Banyak pertandingan yang telah digelar di sana, didampingi sorak-sorai dari pendukung yang membuat tribun terasa hidup.
Stadion Kanjuruhan perlahan menggeser Stadion Gajayana Malang
Kehadiran Stadion Kanjuruhan dengan kapasitas yang jauh lebih besar dan fasilitas yang lebih modern menggeser pusat sepak bola Malang dari Gajayana ke Kanjuruhan. Jika, dipikir-pikir, itu keputusan yang logis. Sepak bola modern memang membutuhkan infrastruktur stadion yang lebih mumpuni.
Setelah Stadion Gajayana Malang ditinggalkan, bangunannya tidak dibongkar, tidak pula dikembangkan. Dibiarkan begitu saja.
Sejujurnya, pemerintah sempat datang memberikan nafas baru. Menjelang Pekan Olahraga Jawa Timur 2025, Stadion Gajayana direnovasi. Trek lari diperbaiki dan tribun yang dipoles ulang terlihat jauh lebih segar.
Akan tetapi, saya rasa, bukan renovasi sesaat macam ini yang dibutuhkan oleh Stadion Gajayana Malang. Stadion tertua di Indonesia seharusnya dirawat dan dikembangkan lebih dari itu karena potensinya begitu besar.
Kawasan yang potensial
Kompleks Stadion Gajayana sangatlah potensial dikembangkan jadi banyak hal. Asal tahu saja, letak stadion ini sangatlah strategis, di pusat kota, mudah dijangkau, dan dikelilingi fasilitas publik. Di area luar stadion terdapat lapangan sepak bola, lapangan tenis, lapangan basket, hingga ruang terbuka yang masih ada dan bisa dimanfaatkan untuk dibangun fasilitas olahraga lainya. Misal, lapangan voli, padel, atau bahkan taman skate.
Stadion Gajayana Malang sebenarnya tidak sekadar butuh cat baru, lintasan baru, maupun hal-hal baru lain seperti yang diberikan saat Pekan Olahraga Jatim. Lebih penting dari itu, stadion ini butuh rencana masa depan yang pasti.
Sejauh yang saya tahu, Kota Malang sendiri belum pernah benar-benar memutuskan. Apakah Gajayana ini dipertahankan sebagai pusat olahraga kota, dijadikan tempat umum yang lebih hidup, atau sekedar dipelihara agar tidak terlihat sangat terbengkalai.
Sayang rasanya kawasan potensial seperti itu harus redup dan perlahan menghilang karena tidak punya rencana yang jelas ke depan. Semoga stadion ini segera mendapat perhatian yang tepat ya.
Penulis: Surya Dharma Yudhistira
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 7 Tempat yang Sebaiknya Nggak Dikunjungi Saat ke Malang Raya.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 13 Juli 2026 oleh