1. News
  2. Mojok
  3. Pengalaman transit di Changi Airport Singapura jadi tak terlupa karena bisa ikut tur gratis hingga dikira TKI

Pengalaman transit di Changi Airport Singapura jadi tak terlupa karena bisa ikut tur gratis hingga dikira TKI

pengalaman-transit-di-changi-airport-singapura-jadi-tak-terlupa-karena-bisa-ikut-tur-gratis-hingga-dikira-tki
Pengalaman transit di Changi Airport Singapura jadi tak terlupa karena bisa ikut tur gratis hingga dikira TKI

Ada yang pernah transit di Changi Airport Singapura?

Setelah saya merasakan sendiri transit 11 jam di Singapura, kini saya paham kenapa orang-orang memilih uang ekstra untuk penerbangan langsung. Transit panjang ternyata tak sesederhana bayangan saya. Ada rasa lelah karena harus menunggu lama dan kemungkinan pengeluaran tambahan selama menunggu.

Untung saja saya mengalami transit panjang di Changi Airport Singapura. Penantian selama 11 jam jadi sedikit lebih ringan karena fasilitas bandara yang tak terkira. Pengalaman transit di sana jadi salah satu yang tak akan pernah saya lupakan.

Masih dalam suasana pagi yang gelap, saya tiba di Bandara Changi dari Taiwan sekitar pukul 06.00 waktu setempat dan langsung bergegas menunaikan salat Subuh. Sembari menunggu terang, saya duduk duduk santai di deretan kursi yang dipadati penumpang sambil mengamati sekitar bandara.

Data dari Konsultasi Asia menyebutkan, Bandara Changi melayani lebih dari 100 maskapai penerbangan dengan koneksi ke 400 kota di seluruh dunia. Tak heran jika saya cukup kagok melihat ramainya bandara tersebut, mulai dari padatnya penumpang yang ngemper tidur di lantai beralas karpet empuk, papan keberangkatan yang dipenuhi tujuan ke berbagai belahan dunia, hingga deretan maskapai yang asing di telinga saya.

Changi Airport Singapura lebih dari sekadar bandara

Saya rasa, Changi lebih dari sekadar bandara. Tempat ini lebih menyerupai pusat perbelanjaan yang dipadukan dengan tempat wisata. Terlebih, selama di dalam bandara kita tidak akan mendapati airport pengumuman terkait keberangkatan. Jadi, jangan sampai terlena ya mas, mbak. Pastikan tetap memantau jadwal penerbangan agar tidak ketinggalan pesawat.

Bukan tanpa alasan. Di Terminal 1, tempat saya mendarat, berjejer konter barang mewah seperti Louis Vuitton, Dior, Bulgari, Burberry, Coach, Fendi, Michael Kors, dan masih banyak lagi. Sayangnya, buat kaum mendang-mending seperti saya melihat kemewahan itu cuma bikin ngerasa miskin, karena jelas saya bukan pangsa pasarnya.

Selain deretan toko mewah, bandara ini juga dilengkapi beragam fasilitas hiburan seperti Taman Kupu-kupu (Taman Kupu-Kupu), Air Terjun Permata, pemandangan mimpihingga taman anggrek yang dapat dinikmati para pengunjung secara gratis.

Nggak bisa dipungkiri, daya tarik Bandara Changi memang terletak pada fasilitasnya yang sangat lengkap. Dari beragam fasilitas yang ada, salah satu yang turut menarik perhatian saya adalah tur gratis keliling Singapura atau Tur Singapura Gratis (FST).

Sejujurnya, saya maju mundur untuk mengikuti tur ini. Ditambah perasaan waswas yang terus menghantui, saya juga khawatir ketinggalan pesawat, merasa asing, atau bahkan tersesat di bandara yang amat luas ini. Maklum, ini perjalanan saya keluar negeri sendiri dan transit di negeri orang.

Free Singapore Tour (FST) merupakan program yang diselenggarakan oleh Bandara Changi untuk para penumpang dengan jeda transit diatas 5,5 jam. Dalam pelaksanaanya, tur ini berdurasi 2,5 jam dan menawarkan empat rute wisata yang bisa kita pilih, diantaranya Sentosa Discovery, City Sight Tour, Singapore River and Marina Bay Sands Tour, dan Heritage and Culture Tour. Sistem Free Singapore Tour bisa dibilang seperti war, kita harus booking terlebih dahulu untuk mendapat kuota.

Tetap ikut tur walau galau di dalam hati

Akhirnya, bermodalkan prinsip sing penting yakin (yang penting yakin), saya memutuskan ikut tur ini pukul 10.00 pagi waktu setempat. Saat itu saya memilih destinasi Heritage and Culture Tour. Beberapa tempat yang saya kunjungi Chinatown dan Kampong gelam. Bonusnya saya juga dapat teman asal Indonesia yang super baik dan ramah.

Setelah berhasil mendaftar secara daring, saya baru menyadari kalau proses booking hingga check in di area transit sebelum mengikuti tur tidak serumit yang saya kira dan tidak semenakutkan dari yang saya bayangkan. Hal ini tidak terlepas karena petunjuk di situs Changi Airport terkait tur ini sangat lengkap dan informatif.

Penafian, bagi yang ingin mengikuti Free Singapore Tour, bersiaplah dengan aturan yang cukup ketat dan juga tambahan biaya pengeluaran.

Eits, jangan emosi dulu setelah mendengar kabar ini. Sebenarnya, program ini 100% gratis. Namun, karena selama tur berlangsung tidak diperkenankan membawa koper layaknya pelancong yang baru tiba di kota tujuan, peserta harus merogoh kocek untuk menitipkan barang di penitipan bandara.

Selama tur berlangsung jangan berharap bisa explore dengan puas di tiap pemberhentian. Durasi 2,5 jam itu sudah mencakup seluruh perjalanan, termasuk waktu tempuh dari satu lokasi ke lokasi lain.

Peserta hanya memiliki waktu kurang lebih sepuluh menit untuk menikmati suasana di setiap destinasi (di luar sesi penjelasan dari pemandu wisata). Sangat singkat dan terasa diburu-buru, tapi apa boleh buat, namanya juga tur gratisan.

Secara keseluruhan, Free Singapore Tour cukup worth it sih buat ngisi waktu gabut saat transit. Namun kurang cocok bagi mereka yang ingin mengenal Singapura secara mendalam.

Disangka TKI, saya justru mendapat cerita beratnya jadi TKI di Singapura

Saat menunggu di Changi Airport, saya sempat dikira TKI oleh seorang wanita muda. Pekerja migran Indonesia memang banyak yang mengadu nasib disana, jadi saya memahaminya, tak perlu merasa tersinggung. Tanpa basa-basi perempuan muda itu malah langsung curcol kehidupannya jadi ART di Singapura.

Saat itu saya hanya banyak mendengarkan. Bukannya apa, kebetulan skripsi saya berkaitan dengan pekerja migran. Makanya, saya cukup paham kalau jadi ART di luar negeri itu bukan cuma butuh modal nekat untuk mengubah nasib, tapi juga harus bermental baja.

Menurut ceritanya, banyak teman sesama SENI yang hanya mampu bertahan selama satu bulan. Bukan karena gajinya kurang, melainkan karena budaya kerja di sana keras dan mereka harus menghadapi karakter majikan yang galak.

Nggak hanya itu, bekerja sebagai ART di sana juga menuntut tenaga ekstra. Mereka harus siaga mulai pagi hingga menjelang waktu tidur. Karenanya, yang diuji bukan cuma mental, tetapi juga ketahanan fisik. Walau harus menghadapi kondisi yang kurang nyaman, belum lagi gajinya dipotong pihak penyalur, dia mengaku tetap bersyukur. Menurutnya, kondisi tersebut masih lebih baik jika dibandingkan bekerja di Indonesia menjadi karjimut (karyawan bergaji imut).

Kurang lebih itulah curhatan mbak-mbak pekerja migran asal Tulungagung dengan saya saat di ruang tunggu Changi Airport Singapura sebelum masuk pesawat.

Bagi saya, pengalaman transit di Singapura kali ini bukan hanya soal melawan rasa takut bepergian seorang diri. Siapa sangka, saya justru mendapat cerita tentang kerasnya perjuangan pekerja migran Indonesia yang mengadu nasib di Negeri Singa.

Penulis: Telaga El Kautsar Rahmatania
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Singapura Memang Semenyenangkan Itu, dan Memang Bikin Betah Banget, Wajar kalau Pada Pindah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 13 Juli 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Pengalaman transit di Changi Airport Singapura jadi tak terlupa karena bisa ikut tur gratis hingga dikira TKI
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us