Bob Hippy saat membela Timnas Indonesia B dalam laga melawan Stuttgart pada 1962. (Foto: Aneka)
Sepak bola Indonesia kembali berduka untuk kesekian kalinya. Pada Sabtu (5/9/2026), eks pemain Timnas Indonesia, Bob Hippy berpulang di Jakarta dalam usia 82 tahun.
Mungkin hanya segelintir – atau malah tidak sama sekali – penggemar sepak bola Indonesia zaman sekarang yang mengenal sosok Bob Hippy. Bisa dimaklum karena ia aktif bermain sepak bola pada 1950-an akhir sampai 1960-an. Namun, untuk penggemar sepak bola nasional generasi lama, Bob sudah acap kali dikenal khususnya sebagai pemain dan pengurus Persija.
https://www.instagram.com/p/Dc76935oG9i/
(Preview akan muncul di halaman artikel)
Nama Bob harum dalam sejarah sepak bola Indonesia karena sejak remaja sudah mendapat tempat inti baik di klubnya Maluku, kesebelasan bonnya Persija, maupun Timnas Indonesia. Salah satu prestasi tertinggi putra Gorontalo ini ialah pernah membawa Timnas Indonesia menjuarai Piala Asia Junior pada 1961.
Dalam Piala Asia Junior edisi ketiga inilah Bob Jippy menunjukkan tajinya sebagai penyerang pengatur serangan. Di lini depan ia bahu membahu bersama sejumlah penyerang yang diasuh pelatih Muhammad Djamiaat Dhalhar antara lain Andjiek Alinurdin, Agam, dan Bogor.
Cedera Leher dan Bawa Indonesia Juara Piala Asia Junior
Kesediaan Bob Hippy dalam agenda Piala Asia Junior sesungguhnya sempat dipertanyakan. Pasalnya pada awal Januari 1961, ia menderita cedera leher saat Timnas Indonesia usia muda melakoni pertandingan uji coba melawan PSB Bogor.
Bob langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Pusat (sekarang RS Cipto Mangunkusumo) untuk mendapatkan perlawatan. Banyak orang termasuk pelatih Djamiaat memprediksi ia akan absen melawan tim Jepang, Furukawa Electric yang akan bertamu pada bulan tersebut. Namun, hal yang paling PSSI takutkan ialah Bob tidak bisa dibawa ke Bangkok, Thailand untuk mengikuti Piala Asia Junior.
“Bob Hippy sudah pasti tidak bisa diharapkan bermain untuk PSSI Junior melawan kesebelasan Furukawa dari Jepang minggu ini juga di samping itu ada kekhawatiran bahwa Hippy tidak bisa ikut dalam turnamen junior se-Asia di Bangkok,” lapor surat kabar Merdeka dalam artikel berjudul “Bob Hippy Terkilir Tulang Lehernja” terbitan 3 Januari 1961.
Pemberitaan mengenai terkilirnya leher Bob Hippy saat melawan PSB Bogor. (Foto: Merdeka)
Good News From Indonesia pernah mewawancarai Bob di kediamannya di Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada Rabu (10/9/2025) silam. Dalam perbincangan selama tiga jam itu, ia mengaku saat itu sanggup pulih lebih cepat meskipun imbasnya kepalanya menjadi miring karena syarafnya sempat terganggu.
“Nggak sakit, tapi syaraf gue terganggu. Oleh dokter disuruh hantam batang pisang, begini aja terus, sembuh! Tapi kepala gue jadi miring,” kata Bob kepada GNFI sambil tertawa.
Bob pada akhirnya tetap dibawa PSSI ke Bangkok. Di sana ia memperlihatkan aksi gemilang dengan membawa Indonesia menjuarai Grup A.
Laga melawan Singapura pada 18 April 1961 menjadi momen bersinar Bob dalam agenda ini. Ia mencetak satu gol yang membuat Indonesia menahan imbang sang lawan 1-1.
“Bob Hippy, pemain gesit Indonesia yang telah merebut hati para pecandun bola di Bangkok, lolos ke depan dan melepaskan tendangan yang perlahan dari jarak 13 yard, berhasil membobolkan gawang Singapura yang dikawal oleh kiper Michael Wong,” tulis Merdeka dalam artikel “Indonesia Menghadapi Birma dalam Finale – Bob Hippy Favorit Publik” terbitan 20 April 1961.
Artikel Merdeka yang menyebut Bob Hippy dielu-elukan oleh penggemar sepak bola di Bangkok. (Foto: Merdeka)
Timnas Indonesia dalam agenda ini keluar sebagai juara bersama Burma (kini bernama Myanmar) karena kedua tim sama-sama bermain imbang 0-0. Kedua tim pun berbagi trofi di mana pada enam bulan pertama trofi juara menjadi milik Indonesia, dan di enam bulan berikutnya diserahkan ke Burma.
Prestasi ini jelas menjadi kebanggaan bagi sepak bola Indonesia karena inilah pencapaian puncak pertama Timnas Indonesia di sepak bola, meskipun sebagai juara bersama dan di level junior. Presiden RI saat itu Sukarno yang berada di Bangkok pun menghadiahi pemain dengan uang dolar kepada pemain sebagai bonus.
“Waktu itu Bung Karno singgah di Bangkok kita dikasih 25 dolar per orang. Wah, 25 dolar banyak banget, buset!” kata Bob.
Pribadi yang Tenang dan Care
Di tengah cuaca Jakarta yang terik, jenazah Bob Hippy diantar ke liang lahat di TPU Karet Bivak pada Minggu (6/9/2026) siang WIB. Keluarga dan para sahabat mengantar tubuhnya ke pembaringan terakhir disertai ucapan doa-doa.
Mantan kiper Timnas Indonesia, Yudo Hadianto yang merupakan pemain satu generasi dengan Bob turut hadir. Di mata Yudo, Bob adalah pribadi yang tenang baik di dalam dan luar lapangan.
“Bulan lalu baru ketemu sama dia. Sehat-sehat. Dia memang seorang yang baik. Orang lain suka berantem, tapi Bob Hippy nggak. Orangnya halus sekali, kalem, dan selalu menenangkan pada anak-anak,” kata Yudo kepada GNFI.

Eks kiper nomor satu Timnas Indonesia, Yudo Hadianto hadir dalam pemakaman Bob Hippy. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)
Sementara itu menurut putra Bob, Mirza Hippy, ayahnya memiliki karakter sikap layaknya orang Indonesia timur yang dikenal keras. Namun demikian, sikap seperti itulah yang menunjukkan ada rasa kepedulian tinggi dari Bob kepada keluarga.
“Dia sabar. Memang keras karena tipikal orang timur, tapi deep down orang yang sangat care. Sangat sabar, sangat penyayang. Dia udah lama membangun sepak bola melalui anak-anaknya. Jadi kalau dia lagi nonton anak-anak main tuh, bener-bener nggak ada capeknya,” kenang Mirza.
Taburan bunga yang melimpah memenuhi makam Bob Hippy yang menandakan ia disayang oleh banyak orang. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)
Kini Bob Hippy telah tiada dan hanya menyisakan banyak cerita di dalam maupun luar lapangan pertandingan. Terima kasih untuk kontribusinya untuk sepak bola Indonesia, Bob Hippy!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News