Pisang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Ada pisang yang dimakan langsung, digoreng, direbus, diolah menjadi makanan tradisional, hingga digunakan sebagai bahan berbagai produk pangan. Namun, keragaman pisang di Indonesia menyimpan potensi yang jauh lebih besar daripada sekadar pilihan buah.
Indonesia memiliki lebih dari 300 jenis pisang lokal. Di alam, terdapat pula 16 subspesies pisang liar yang menyimpan karakter genetik berbeda. Kekayaan tersebut kini menjadi perhatian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk dikembangkan menjadi sumber varietas pisang yang lebih tahan penyakit, mampu menghadapi kondisi iklim ekstrem, memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi, dan sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Prof. Enny Sudarmonowati, mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis dalam keragaman pisang dunia. Indonesia juga tercatat sebagai produsen pisang terbesar ketiga di dunia.
Kekayaan Genetik untuk Pisang Masa Depan
Menurut Enny, Indonesia merupakan salah satu pusat asal tanaman pisang yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah dunia, termasuk Afrika, sejak ribuan tahun lalu. Namun, pemanfaatan pisang sebagai sumber pangan di Indonesia masih dapat dikembangkan lebih jauh.
Salah satu alasan pentingnya riset tersebut adalah ancaman penyakit terhadap pisang komersial. Cavendish, varietas yang banyak dikonsumsi dan diperdagangkan secara global, rentan terhadap penyakit layu Fusarium. Di Indonesia dan kawasan Asia, salah satu strain yang menjadi perhatian adalah Tropical Race 4 atau TR4.
Ancaman tersebut mengingatkan pada Gros Michel, varietas pisang yang sebelumnya mendominasi pasar dunia tetapi kemudian mengalami penurunan besar akibat penyakit Fusarium.
“Kita harus mengantisipasi kemungkinan pisang Cavendish, yang saat ini menjadi pisang komersial utama dunia, terserang penyakit Fusarium. Sebelumnya terdapat varietas Gros Michel yang juga pernah mendominasi pasar dunia, tetapi akhirnya musnah akibat serangan penyakit tersebut,” ujar Enny.
Situasi tersebut membuat keberadaan pisang liar dan lokal menjadi penting. Karakter yang tidak terlihat pada varietas komersial dapat menjadi sumber untuk menghasilkan tanaman dengan kemampuan bertahan yang lebih baik.
Lima Sifat Unggul yang Dibidik BRIN
BRIN mengarahkan riset pengembangan pisang pada lima karakter utama. Yang pertama adalah ketahanan terhadap penyakit Fusarium, terutama TR4 yang menjadi salah satu ancaman produksi pisang.
Karakter kedua adalah ketahanan terhadap Banana Bunchy Top Virus (BBTV), penyakit yang dapat menurunkan produktivitas tanaman dan dalam kondisi tertentu menyebabkan kematian tanaman.
Riset juga diarahkan untuk menghasilkan pisang dengan kandungan nutrisi lebih tinggi. Beta-karoten, vitamin A, dan sejumlah komponen nutrisi lain menjadi bagian dari karakter yang ingin dikembangkan. Dengan begitu, pengembangan varietas tidak hanya berorientasi pada jumlah produksi, tetapi juga kualitas pangan.
Karakter berikutnya adalah toleransi terhadap kekeringan dan kondisi iklim ekstrem. Perubahan kondisi lingkungan dapat memengaruhi produksi tanaman, sehingga varietas yang lebih adaptif berpotensi membantu menjaga ketersediaan pangan.
Sifat kelima adalah partenokarpi, yaitu kemampuan tanaman menghasilkan buah tanpa biji. Karakter ini dapat memberikan pilihan baru bagi pengembangan pisang yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Kelima sifat tersebut menunjukkan bahwa pemuliaan pisang diarahkan untuk menjawab beberapa tantangan sekaligus, mulai dari penyakit tanaman dan perubahan iklim hingga kebutuhan pangan bergizi.
Pisang Liar Jadi Sumber Genetik
Tidak semua pisang liar memiliki karakter yang langsung disukai konsumen. Sebagian memiliki banyak biji dan daging buah yang relatif sedikit. Namun, justru karakter genetik di balik tanaman tersebut yang dapat menjadi sumber material penting dalam pemuliaan.
Melalui persilangan dan tahapan seleksi, sifat tertentu dari pisang liar dapat dipadukan dengan karakter tanaman budidaya. Tujuannya adalah menghasilkan varietas baru yang memiliki sifat unggul sekaligus menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi.
“Indonesia memiliki kekayaan sumber daya yang sangat besar untuk mendukung pengembangan varietas pisang unggul,” ujar Enny.
Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi BRIN dengan UPT Perbenihan Tanaman Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur dan Perhutani Forestry Institute. Kerja sama ini membuka peluang pemanfaatan lahan mitra untuk mengembangkan hasil penelitian sekaligus mencari pisang liar dan lokal yang memiliki karakter unik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News