1. News
  2. Berita
  3. Rendah Hati di Tengah Dunia Flexing

Rendah Hati di Tengah Dunia Flexing

rendah-hati-di-tengah-dunia-flexing
Rendah Hati di Tengah Dunia Flexing

Dalam beberapa kesempatan, seorang eksekutif senior perusahaan multinasional berbagi pengalamannya. Kariernya panjang, posisinya tinggi, dan keputusannya menyentuh hidup banyak orang. Namun, yang ia tekankan setiap kali bercerita adalah keberuntungan. Momen yang kebetulan tepat, tim yang hebat.

Kerendahan hatinya bukan hanya di atas panggung. Ia mau mendengarkan dan tidak segan belajar dari orang yang jauh lebih muda. Belakangan diketahui, ia bisa berkata begitu karena sudah tidak ada lagi yang perlu ia buktikan.

Bandingkan dengan pemandangan yang muncul di layar ponsel kita setiap hari. Zaman sekarang, keberhasilan rasanya belum lengkap kalau belum ada yang melihat. Lihat sekitar kita, bisa berupa rekan kerja yang di setiap rapat menyelipkan nama klien besar atau pencapaian yang baru ia raih, padahal tidak ada yang bertanya. Pamer kekuasaan, pamer kekayaan, atau pamer kedekatan dengan orang penting.

Dua potret ini memunculkan pertanyaan yang layak diajukan. Di dunia yang sesibuk ini, memamerkan kekayaan dan kekuasaan, apakah kerendahan hati masih laku? Atau, jangan-jangan ia justru merugikan orang yang mempraktikkannya?

Ketika pamer berhenti bekerja

Pertanyaan ini ternyata sudah pernah diuji. Patrick Heck dan Joachim Krueger dari Brown University menyebutnya humility paradox. Sekitar 400 orang diminta menilai sosok rekan yang menyombongkan diri dan yang merendah, sambil melihat skor tes yang sebenarnya.

Orang yang menyombongkan diri dan memang berprestasi dinilai lebih kompeten daripada orang berprestasi yang merendah. Jadi, pamer memang ada hasilnya, tetapi hanya pada penilaian kemampuan. Penilaian moralnya tidak ikut naik. Orang yang merendah justru selalu dianggap lebih bermoral, entah hasil kerjanya bagus atau tidak.

Penilaian paling buruk justru jatuh pada orang yang pamer lalu ketahuan tidak mampu. Ia dinilai lebih rendah daripada siapa pun, bahkan lebih rendah daripada kalau sejak awal ia diam saja. Artinya, pamer bukan strategi yang buruk di semua keadaan, melainkan taruhannya besar. Pamer bekerja selama tidak ada yang mengecek.

Dikira kurang percaya diri

Kerendahan hati kerap dianggap sama dengan kurang percaya diri, minder, atau enggan tampil menonjol. Orang yang diam mudah dikira tidak tahu apa-apa. Dalam rapat, yang paling jarang bicara memang yang paling jarang diingat. Ketika nama-nama dibahas untuk promosi, ia sering tidak muncul. Bukan karena ada yang menolaknya, melainkan tidak ada yang teringat menyebutnya. Sistem promosi kita memang lebih mudah menangkap yang terlihat daripada yang mampu. Kadang bukan soal lupa. Orangnya diingat karena mampu, tetapi tetap tidak dipilih.

Pernah ada sesi kalibrasi pemetaan talenta yang berlangsung hampir dua jam. Ada satu nama yang tidak masuk daftar kandidat kuat. Ketika ditanya, semua sepakat bahwa ia justru paling mengerti persoalan di unitnya dan paling ketat mendorong pencapaian target.

Yang menahan namanya hanya satu hal. Ia cenderung pendiam dan tidak menyatakan pendapat bila tidak ditanya, apalagi di forum besar. Jadi, ia bukan tidak terlihat. Ia terlihat, dan diamnya yang membuatnya tidak diperhitungkan. Orang yang masih harus membuktikan diri paling merasakannya. Kerja bagus saja belum cukup membuat orang mengenal kita.

Kerugian itu ternyata tidak berlaku seumur hidup. Mary Crossan, ahli kepemimpinan strategis dari Ivey Business School, mengamati pola yang justru berkebalikan di puncak. Semakin tinggi jabatan dan kekuasaan seseorang, semakin tipis kerendahan hatinya. Kekuasaan mengikisnya diam-diam, kecuali sang pemimpin terus menjaganya.

Jadi di posisi bawah, merendah bisa membuat kita terlewat. Di posisi atas, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan sebab kemampuan kita sudah terbukti. Justru di situ kerendahan hati paling sering menipis, padahal di situ pula ia paling dibutuhkan.

Rendah hati bukan berarti diam

Crossan juga mengingatkan kerendahan hati bisa kelebihan dosis. Terlalu sedikit, orang berhenti mempertanyakan asumsinya sendiri. Terlalu banyak, ia terjebak pada keraguan diri dan menahan gagasannya sendiri. Oleh karena itu, kerendahan hati perlu ditopang antara lain keberanian dan akuntabilitas.

Keberanian membuat kita tetap mengatakan apa yang perlu dikatakan meski suara kita satu-satunya di ruangan. Akuntabilitas membuat kita merasa berutang kontribusi kepada orang lain sehingga diam bukan lagi tanda kesopanan, melainkan menahan sesuatu yang sebenarnya dibutuhkan bersama.

Masalahnya, menceritakan hasil kerja sendiri di rapat sering dianggap sama dengan memamerkan diri. Padahal, keduanya berbeda. “Proyek itu berhasil karena saya yang turun tangan.” Setelah kalimat ini, orang lain hanya tahu satu hal, yaitu bahwa kita hebat.

“Saya pilih opsi A karena biayanya 20 persen lebih rendah. Yang tidak saya hitung adalah waktu pengirimannya, jadwal jadi mundur dua minggu. Kalau ada yang sedang membandingkan pemasok, hitung juga itu.” Kalimat kedua ini juga bicara tentang diri sendiri, tetapi bukan pamer. Setelah kita selesai bicara, orang lain jadi tahu sesuatu yang berguna.

Sebenarnya orang rendah hati tidak perlu berubah menjadi rekan yang menyebalkan tadi. Mereka hanya perlu berhenti menganggap bahwa menjelaskan apa yang dikerjakan adalah bentuk kesombongan.

Dalam sesi coaching, beberapa kali terlihat orang yang merasa atasan seharusnya bisa melihat sendiri kualitas kerjanya tanpa perlu ia sampaikan. Alasannya terdengar seperti kerendahan hati. Padahal isinya sebuah tuntutan. “Saya sudah bekerja sebaik ini, semestinya ada yang menyadari.” Itu harapan yang tidak pernah disampaikan kepada orang yang perlu mendengarnya.

Yang sebenarnya kita jaga

Eksekutif di awal tulisan ini rendah hati dan ia tetap bicara. Ia menyampaikan pendapat, mengambil keputusan besar, dan menanggung akibatnya. Ia hanya tidak mengambil pujian untuk dirinya sendiri.

Bedanya tipis, tetapi akan terasa di rapat kita berikutnya. Ketika kita tahu jawabannya dan memilih menunggu orang lain yang mengatakannya, berhenti sebentar dan tanyakan apa yang sebenarnya sedang kita jaga. Jawabannya jarang perasaan orang lain. Hampir selalu kenyamanan kita sendiri.

Itu bukan kerendahan hati, itu hanya diam. Dan, yang rugi tidak hanya kita, tetapi juga orang yang sebenarnya perlu mendengarnya.

Baca juga: Validasi

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Linawaty Mustopoh

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Rendah Hati di Tengah Dunia Flexing
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us