
Kolaborasi peneliti Indonesia dan Jerman berhasil mengidentifikasi delapan spesies baru krustasea dari kelompok Isopoda yang hidup di sekitar terumbu karang dan pesisir.
Temuan ini menambah pengetahuan tentang keanekaragaman hayati laut Indonesia, terutama kelompok hewan kecil yang selama ini belum banyak dipelajari.
Delapan spesies tersebut ditemukan melalui pemeriksaan sampel pecahan karang dan sedimen dari perairan dekat pantai Sulawesi Utara. Hasil penelitian mereka diterbitkan dalam jurnal Evolutionary Systematics pada 8 Oktober 2026, melalui artikel berjudul “New Anthuroidea (Crustacea, Isopoda) from Northern Sulawesi (Indonesia) and a revised classification of the Haliophasma and Apanthura groups.”
Penelitian ini melibatkan J. Wolfgang Wägele dari Leibniz Institute for the Analysis of Biodiversity Change, Bonn, Jerman; Nani I. J. Undap dari Pusat Riset Sistem Biota, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); serta Adelfia Papu dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado.
Delapan spesies baru dari pecahan karang dan sedimen
Delapan spesies yang berhasil dideskripsikan meliputi Eisothistos minahasaensis, Mesanthura ratulangii, Mesanthura heliolatra, Haliophasma annaclericiae, Apanthuretta markuslasuti, Apanthuretta pinchans, Amakusanthura mamuajae, dan Apanthurella cuspidobtusa.
Spesies-spesies tersebut termasuk dalam kelompok Anthuroidea, salah satu kelompok krustasea dalam ordo Isopoda. Hewan dalam kelompok ini umumnya berukuran kecil dan hidup di lingkungan laut, termasuk pada sedimen serta habitat yang berkaitan dengan terumbu karang.
Ukuran tubuh yang kecil membuat proses identifikasi memerlukan ketelitian. Peneliti harus mengumpulkan dan memilah sampel, kemudian memeriksa karakteristik tubuh untuk membedakan spesies yang ditemukan dari spesies yang telah dikenal sebelumnya.
Para peneliti menjelaskan bahwa invertebrata kecil di terumbu karang dan habitat sekitarnya di kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) masih kurang dipahami. Proses pengumpulan dan pemilahan membutuhkan waktu serta hanya sedikit ahli taksonomi yang menguasai kelompok hewan tersebut.
Nama spesies mengabadikan tokoh dan wilayah Sulawesi Utara
Penamaan beberapa spesies baru turut mencatat kontribusi ilmuwan dan identitas lokal Sulawesi Utara. Apanthuretta markuslasuti didedikasikan untuk Prof. Dr. Markus Lasut, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat yang juga menjabat sebagai direktur program studi di universitas tersebut.
Peneliti memberikan nama itu sebagai bentuk penghormatan atas dukungan Prof. Markus terhadap penelitian keanekaragaman hayati terumbu karang Indonesia. Sementara itu, Amakusanthura mamuajae dinamai untuk menghormati Dr. Jane Mamuaja, yang juga merupakan dosen di fakultas tersebut.
Nama wilayah turut hadir dalam penamaan spesies. Eisothistos minahasaensis merujuk pada Minahasa, lokasi temuan spesies tersebut, sedangkan Mesanthura ratulangii mengabadikan nama Sam Ratulangi, tokoh yang memiliki kaitan erat dengan sejarah Sulawesi Utara.
Dokumentasi spesies menjadi dasar perlindungan laut
Temuan delapan spesies baru tersebut memiliki arti penting bagi penelitian ekologi dan upaya perlindungan habitat pesisir. Menurut peneliti, deskripsi spesies menjadi landasan mendasar bagi studi ekologi selanjutnya.
Informasi mengenai identitas dan karakteristik spesies membantu ilmuwan memahami keanekaragaman organisme dan hubungan dengan lingkungannya.
Kebutuhan untuk mendokumentasikan spesies juga semakin mendesak karena habitat pesisir menghadapi tekanan dari aktivitas manusia dan pemanasan global. Kerusakan lingkungan dapat mengancam keberadaan organisme.
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.
Tim Editor