Asap hitam terlihat membubung dari kejauhan.
“Ada api! Hutan di sebelah sana terbakar!” teriak Bekantan dari atas pohon ulin setinggi 35 meter. Kebakaran hutan sedang melanda Kalimantan dan mulai menyasar rumah-rumah para penghuni hutan.
“Siapa kamu? Aku belum pernah melihatmu di sekitar sini,” tanya Rusa.
“Aku Bekantan. Aku hewan arboreal yang biasa hidup di pepohonan tinggi. Makanya, kau tidak pernah melihatku,” jawab Bekantan.
“Tidak mungkin, kau bukan asli sini. Rambutmu saja pirang dan hidungmu mancung. Kau pasti dari negeri lain,” Rusa tak percaya.
“Tidak. Aku endemik Kalimantan, penghuni asli hutan pulau ini. Rambut pirang dan hidungku sudah turun-temurun dari nenek moyangku,” jawab Bekantan.
“Endemik? Berarti kelompokmu pasti selalu dilindungi. Kau pasti akan diselamatkan manusia,” kata Rusa.
“Tidak semua manusia melindungi kami. Banyak juga yang merusak rumah kami. Aku bahkan kehilangan keluargaku dalam kebakaran tahun lalu. Sekarang, aku sebatang kara,” jawab Bekantan sambil menunduk.
Tiba-tiba terdengar suara keras. “Brakkk!” Sebuah pohon besar tumbang.
“Berhenti bertengkar! Bekantan benar, api sudah dekat. Kita harus segera pergi!” teriak Beruang.
Rusa pun percaya. “Ikuti aku. Aku tahu jalan yang aman.”
Puluhan hewan berlari menjauhi kobaran api. Setelah cukup lama, mereka mendengar suara air terjun. Rusa dan Beruang berhenti di depan sebuah tebing.
“Di sini sudah cukup aman,” kata Beruang sambil menyingkirkan semak-semak yang menutupi sebuah celah. Ternyata, di baliknya terdapat jalan masuk ke sebuah gua.
Gua itu aman saat kebakaran. Udara terus mengalir karena bagian belakangnya menghadap air terjun dan jurang. Di dalamnya juga terdapat mata air kecil. Gua tersebut telah berkali-kali menyelamatkan penghuni hutan dari kebakaran.
Di mulut gua, Rusa menatap Bekantan dengan rasa bersalah. “Maafkan aku, Bekantan. Aku sempat tidak percaya padamu, padahal kau penghuni asli hutan ini.”
“Teman-teman, ayo, segera masuk!” seru Beruang.
“Baiklah. Kamu juga boleh masuk, Bekantan,” ajak Rusa.
“Terima kasih, Rusa, Beruang,” jawab Bekantan.
“Kita sesama penghuni hutan harus saling membantu, Tan,” kata Beruang.
Sejak saat itu, Rusa, Beruang, dan Bekantan menjadi sahabat. Mereka menyadari bahwa meskipun berbeda, mereka tetaplah sesama penghuni hutan yang harus saling membantu, percaya, dan menjaga.
Karena dalam keadaan sulit, kita akan lebih kuat jika saling membantu dan percaya satu sama lain.*
Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Ratu Fatimah
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita
