1. News
  2. Berita
  3. Nusantara Bertutur, Nana dan Monster El Nino

Nusantara Bertutur, Nana dan Monster El Nino

nusantara-bertutur,-nana-dan-monster-el-nino
Nusantara Bertutur, Nana dan Monster El Nino

Tidak seperti biasanya di Dau, kecamatan penghasil jeruk manis bernama “Siam Madu” di Kabupaten Malang, Jawa Timur, akhir-akhir ini terasa sangat panas. Walaupun suka cahaya, jeruk ini tetap memerlukan pasokan air yang cukup.

Nana yang tidak suka panas sedang marah-marah di kebun belakang rumahnya.

“Monster jahat! Kenapa sih kamu minum semua air di Dau!”

Di depannya, daun pohon jeruk siam madu kesayangannya menggulung layu dan tanah di bawahnya retak-retak.

Ayah datang menghampiri Nana dan bertanya. “Kamu marahin siapa, Na?”

“Monster El Nino, Yah! Pasti dia yang minum semua air di Dau. Sampai daun jerukku jadi seperti terompet begini!”

Ayah ketawa. “El Nino bukan monster, Sayang.”

“Masa sih, Yah? Tapi, kata Pak Sukiman, gara-gara El Nino, jeruk di kebunnya banyak yang mati. Pasti dia monster yang jahat!”

Pak Sukiman itu tetangga Nana, petani jeruk paling jago di Dau.

Ayah duduk di samping Nana. “Sini Ayah kasih tahu. El Nino itu bukan orang, juga bukan monster. Itu fenomena alam untuk laut yang sedang kepanasan.”

Nana bingung. “Laut kepanasan?”

“Iya. Laut di Samudra Pasifik sedang panas sekali. Karena suhu di Samudera Pasifik meningkat, semua awan hujan berkumpul di sana. Jadi, awan malas jalan ke Malang dan mengakibatkan di sini tidak turun hujan.”

Nana melongo sambil menatap langit biru bersih tanpa awan. “Oooh… jadi bukan monster yang minum air kita? Tapi, awannya yang lagi main ke Samudra Pasifik?”

“Pintar. Makanya, mulai sekarang, kita harus ekstra hemat air.”

Nana diam sebentar. Lalu matanya melihat ember di dapur.

“Kalau awannya lagi main jauh dan belum pulang, jeruknya jadi kehausan, ya, Yah?”

Nana lari, mengambil ember berisi air bekas cucian beras yang tadi pagi disisihkan ibunya.

“Aku mau kasih minum jerukku pakai ini. Biar tidak kehausan menunggu awan pulang!”

Ayah membantu Nana. Mereka menyiram pelan ke akar, lalu menutup tanahnya menggunakan daun kering agar tidak mudah menguap.

Sore itu, Nana menatap langit yang masih biru.

“El Nino segera berakhir, ya, biar awan hujan mau pulang lagi ke Dau!”

Sejak saat itu, Nana setiap pagi menyiram jeruknya dengan air bekas cucian beras yang disisihkan ibu. Nana dan keluarganya percaya saat mereka menghemat air, mereka sedang bijak menjaga napas makhluk hidup pada masa depan.*

logo baru nusantara bertutur

Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Faizatun Nisa’
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Nusantara Bertutur, Nana dan Monster El Nino
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us