
Seekor bayi surili ditemukan lemas di dahan pohon yang terbakar saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Puncak Dulang, Gunung Ciremai, Jawa Barat. Primata berambut putih itu terpisah dari induknya sebelum akhirnya berhasil dipertemukan kembali oleh seorang petani yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA).
Menurut berbagai sumber, Darsa, atau akrab dipanggil Dodo, menemukan bayi surili tersebut pada Kamis (22/10/2026) sekitar pukul 23.00 WIB, di ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut. Ia segera membawa satwa itu menjauh dari kebakaran dan menempatkannya di tenda sementara yang aman.
Bayi surili tersebut telah banyak menghirup asap kebakaran. Setelah dirawat semalaman, kondisinya membaik dan mulai mengeluarkan suara kembali. Dodo kemudian berusaha mencari induknya agar bayi itu dapat kembali ke habitatnya.
Menembus Bara untuk Mencari Induk
Pencarian pertama dilakukan pada Jumat (23/10/2026) sekitar pukul 07.00 WIB. Dodo berjalan sejauh kurang lebih 500 meter, tetapi belum menemukan induk bayi surili tersebut. Ia membawa anak surili itu kembali ke tenda untuk menghindari risiko selama pencarian.
Sekitar pukul 10.00 WIB, pencarian dilanjutkan ke zona inti Gunung Ciremai yang belum terbakar. Setelah berjalan sekitar 300 meter dari lokasi penemuan, Dodo menemukan induk surili bersama kelompoknya. Ada sekitar 15 ekor surili di lokasi tersebut.
Dodo menduga kelompok itu berpindah menuju kawasan yang belum terbakar untuk menyelamatkan diri. Ia menjelaskan, “Kondisinya sudah terbakar, jadi kenapa si anakan surili ini ditinggal. Jadi induknya itu mungkin kena asap, jadi kacau ditinggal pada lari masuk ke zona inti yang belum terbakar.”
Pemerhati Primata Jawa Barat, Sigit Ibrahim, menjelaskan bahwa bayi surili yang rambutnya masih dominan putih tergolong sangat muda. Pada usia tersebut, surili masih membutuhkan susu induk dan kehangatan tubuh saat tidur.
Mengenal Surili, Primata Endemik Jawa
Surili (Presbytis comata) merupakan primata pemakan daun dari famili Cercopithecidae yang persebaran alaminya terbatas di Pulau Jawa bagian barat, dengan catatan taksonomi yang juga mencakup kawasan Jawa bagian tengah. Satwa ini dikenal dengan sebutan monyet beruban karena bayi surili memiliki rambut berwarna putih keabu-abuan, berbeda dari individu dewasa yang umumnya berwarna abu-abu dengan bagian bawah tubuh putih dan jambul hitam.
Surili hidup berkelompok, umumnya terdiri atas beberapa individu, dan aktif pada siang hari. Satwa ini menghabiskan banyak waktu di lapisan tengah hingga atas kanopi hutan. Daun muda menjadi sumber pakan penting, disertai buah, bunga, dan biji.
Penelitian berjudul Pendugaan Parameter Demografi dan Sebaran Spasial Aktivitas Surili (Presbytis comata) di Blok Hutan Sigedong, Taman Nasional Gunung Ciremai yang dilakukan pada 2017 mencatat sembilan kelompok dengan total 42 individu di lokasi penelitian. Surili ditemukan beraktivitas di sejumlah tipe vegetasi, termasuk hutan, semak belukar, ladang, dan perkebunan.
Habitat Terancam, Surili Membutuhkan Perlindungan
Surili menghadapi ancaman berupa kehilangan dan fragmentasi habitat, perburuan, serta kebakaran hutan. Artikel ilmiah Ecology, Distribution, and Conservation Challenges of the Javan Surili (Presbytis comata) in Java, Indonesia yang diterbitkan dalam jurnal Berita Biologi pada 2026 menjelaskan bahwa kerusakan hutan dan terpecahnya habitat mengancam kelangsungan populasi primata endemik ini.
Status konservasinya perlu merujuk pada penilaian taksonomi yang digunakan. Penilaian IUCN tahun 2022 mencatat Presbytis comata dalam kategori Vulnerable (Rentan), sementara sejumlah sumber terdahulu menyebutnya Endangered (Terancam Punah).
Kebakaran di Gunung Ciremai memperlihatkan bagaimana kerusakan habitat dapat membahayakan satwa, terutama individu muda yang masih bergantung pada induknya. Penyelamatan bayi surili oleh Dodo memungkinkan satwa tersebut kembali bersama kelompoknya. Perlindungan kawasan hutan dan penanganan karhutla tetap penting untuk menjaga habitat surili serta satwa liar lainnya.
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.
Tim Editor