1. News
  2. Mojok
  3. Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri

Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri

alasan-orang-jombang-jarang-ada-yang-bangga-dengan-daerahnya-sendiri
Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri

Ada satu kebiasaan orang Jombang yang menurut saya cukup unik. Ketika ditanya berasal dari mana, sering kali mereka menjawab “Jombang” dengan ragu-ragu.

Lalu, tanpa diminta, mereka langsung muncul kalimat lanjutan, “Dekat dengan Surabaya” atau “kota asalnya Gus Keras“. Kalimat tersebut ditambahkan karena orang Jombang tahu lawan bicaranya biasanya kebingungan kalau disebutkan jombang saja.

Kebiasaan ini menurut saya unik. Kalau dipikir-pikir lagi, saya rasanya belum pernah mendengar orang Malang buru-buru menjelaskan kotanya dekat dengan Surabaya. Orang Kediri juga tidak merasa perlu menambahkan, “rokok Gudang Garam.” Mereka cukup percaya diri menyebutkan nama kota asalnya.

Sementara itu, orang Jombang justru sering merasa kotanya hanya dikenal karena satu atau dua hal. Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, Jombang punya banyak alasan untuk dibanggakan. Mungkin ada beberapa alasan yang mendasari fenomena ini.

Terlalu dekat dengan kota-kota yang lebih populer

Mungkin salah satu penyebabnya adalah posisi geografis dari Kabupaten Jombang itu sendiri. Di Jawa Timur ada Surabaya yang menjadi pusat bisnis dan pemerintahan Jawa Timur. Ada Malang yang identik dengan kota wisata dan pendidikan. Ada Kediri yang semakin berkembang dengan berbagai proyek infrastruktur. Belum lagi Mojokerto yang sering muncul dalam cerita sejarah Kerajaan Majapahit.

Di tengah kota-kota itu, Jombang seperti anak tengah dalam sebuah keluarga. Tidak terlalu diperhatikan, tetapi selalu ada ketika dibutuhkan. Akibatnya, orang luar sering hanya mengenal Jombang sebagai kota yang “dilewati”. Entah ketika melintas di jalan nasional, keluar-masuk tol, atau berganti kereta menuju kota lain.

Padahal, kota yang hanya dianggap sebagai tempat lewat sering kali menyimpan cerita yang justru menarik jika kita mau berhenti sejenak.

Terlalu rendah hati atau sangat tidak pandai berpromosi?

Kalau diperhatikan, orang Jombang memang tidak terlalu suka membesar-besarkan kotanya. Lihat saja kulinernya. Banyak warung legendaris yang antreannya tidak kalah panjang dibanding tempat makan viral di kota besar seperti Lodeh Mbok Semah atau Rawon Rosobo.

Pemiliknya lebih sibuk melayani pelanggan daripada membuat konten di media sosial. Begitu juga dengan tempat-tempat yang sebenarnya layak dikunjungi. Banyak yang berkembang dari cerita mulut ke mulut, bukan dari promosi besar-besaran.

Mungkin ini juga yang membuat Jombang terasa berbeda. Kota ini tidak berusaha keras menarik perhatian. Ia berjalan dengan ritmenya sendiri.

Julukan kota santri sering menutupi wajah Jombang yang lain

Saya bangga Jombang dikenal sebagai Kota Santri. Julukan itu lahir dari sejarah panjang dan keberadaan pesantren-pesantren besar yang telah melahirkan banyak tokoh nasional. Sebut saja pendiri NU KH Hasyim Asyari & KH Wahab Hasbullah.

Ada juga mantan presiden Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid yang sering kita sapa dengan panggilan Gus Dur. Namun, kadang-kadang julukan itu justru membuat orang berhenti mengenal Jombang lebih jauh.

Padahal, Jombang juga memiliki kekayaan kuliner yang khas seperti Nasi Lodeh Kikil, jalur transportasi yang strategis, kawasan pedesaan yang masih asri, hingga masyarakat yang terkenal ramah, toleran, dan egaliter. Bahkan, bagi pencinta sejarah, banyak sudut kota ini yang menyimpan cerita penting tentang perjalanan bangsa.

Sayangnya, semua itu sering kalah saing oleh satu label yang sudah telanjur melekat.

Orang Jombang baru merasa bangga setelah merantau

Ini yang paling saya rasakan. Ketika masih tinggal di Jombang, saya menganggap semuanya biasa saja. Warung langganan yang memang sudah ada sejak dulu. Jalan yang dipenuhi truk tebu dan truk pasir terasa menyebalkan. Suasana kota yang tenang kadang saya anggap membosankan. Namun, setelah merantau maupun bepergian ke berbagai daerah, saya justru mulai menyadari bahwa ada banyak hal yang saya rindukan dari Jombang.

Saya rindu sarapan di warung sederhana yang rasanya konsisten selama bertahun-tahun. Rindu pula melihat hamparan sawah yang masih mudah ditemui hanya beberapa menit dari pusat kota. Saya juga rindu ritme hidup yang tidak terburu-buru. Jombang adalah gambaran hidup lambat versi diriku yang sebenarnya.

Ternyata, yang terasa biasa ketika dimiliki sering kali berubah menjadi istimewa ketika ditinggalkan.

Mungkin sudah saatnya kita lebih sering menceritakan tentang Jombang

Kebanggaan terhadap sebuah kota tidak selalu harus diwujudkan lewat festival besar atau slogan yang unik. Kadang, cukup dengan menceritakan pengalaman makan di warung favorit, mengajak teman mampir ke tempat yang jarang diketahui wisatawan, atau menulis kisah-kisah sederhana tentang kehidupan sehari-hari di Jombang.

Karena sebuah kota tidak akan dikenal hanya dari papan penunjuk jalan atau gerbang tol. Kota akan hidup lewat cerita orang-orang yang pernah tinggal, tumbuh, dan jatuh cinta padanya.

Dan, saya rasa, Jombang masih menyimpan terlalu banyak cerita untuk terus dianggap sekadar kota persinggahan.

Penulis: Wicaksana Rismawardi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Melihat Sisi Lain Jombang yang Nggak Diketahui Orang Banyak, Saya Tulis supaya Nggak Ada Lagi yang Salah Kaprah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 18 Juli 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Alasan orang Jombang jarang ada yang bangga dengan daerahnya sendiri
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us