1. News
  2. Opinion
  3. Anak-Anak Palestina di Tepi Barat Jadi Sasaran Israel tanpa Akuntabilitas

Anak-Anak Palestina di Tepi Barat Jadi Sasaran Israel tanpa Akuntabilitas

anak-anak-palestina-di-tepi-barat-jadi-sasaran-israel-tanpa-akuntabilitas
Anak-Anak Palestina di Tepi Barat Jadi Sasaran Israel tanpa Akuntabilitas
Anak-Anak Palestina di Tepi Barat Jadi Sasaran Israel tanpa Akuntabilitas
Aliyah al-Halaq di samping foto mendiang putranya, Mohammad, yang berusia sembilan tahun, yang tewas dibunuh oleh IDF Oktober lalu.(The Guardian/Quique Kierszenbaum)

PADAhari kematiannya, Mohammad al-Halaq, bocah berusia sembilan tahun, merasa sangat gembira. Ia baru saja menerima tas sekolah baru bergambar logo Unicef di kelasnya.

Ibunya, Aliyah, mengenang betapa Mohammad sangat bangga dengan tas tersebut. Soalnya,benda tersebut dianggap luar biasa bagi anak-anak di wilayah konflik seperti ar-Rihiya, Hebron, Tepi Barat, Palestina.

Namun, kegembiraan itu berakhir tragis pada 16 Oktober tahun lalu. Mohammad ditembak di bagian panggul oleh tentara Israel saat sedang bermain sepak bola di halaman sekolah.

Suatu rekaman video menunjukkan seorang tentara keluar dari jip militer dan membidikkan senapan ke arah bukit tempat anak-anak berkumpul. Mohammad tewas di rumah sakit, menambah daftar panjang anak-anak Palestina yang menjadi korban di Tepi Barat.

Laporan B’Tselem: Masa Kecil Tanpa Perlindungan

Organisasi hak asasi manusia Israel, B’Tselem, baru saja merilis laporan berjudul Masa Kecil Tanpa Pelindung (Masa Kecil tanpa Perlindungan). Laporan ini menyoroti kematian 54 anak dan remaja Palestina oleh pasukan Israel sepanjang tahun 2025 saja. Secara total, sejak 7 Oktober 2023, sebanyak 235 anak Palestina telah tewas di Tepi Barat akibat tindakan pasukan keamanan Israelditambah limalainnya oleh pemukim ilegal.

Direktur Eksekutif B’Tselem, Yuli Novak, menyatakan bahwa pembunuhan massal ini adalah hasil dari kebijakan luas Israel yang mengizinkan pembunuhan warga Palestina tanpa akuntabilitas. “Sistem ini tidak hanya mendukung para penembak, tetapi secara efektif memberi mereka lisensi untuk membunuh,” tegas Novak.

Novak juga menyoroti pernyataan Mayjen Avi Bluth, kepala komando pusat tentara Israel, yang mengeklaim bahwa 96% dari mereka yang tewas terlibat dalam terorisme. B’Tselem membantah keras klaim tersebut dan menyebutnya sebagai kebohongan terang-terangan. Analisis mereka terhadap korban di bawah umur pada tahun 2025 tidak menemukan bukti bahwa para korban merupakan ancaman atau anggota kelompok militan.

Pola Penargetan yang Disengaja

Komisi penyelidikan internasional independen PBB juga menemukan bukti serupa. Srinivasan Muralidhar, ketua komisi tersebut, menyatakan bahwa otoritas dan pasukan keamanan Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina. Tindakan ini dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang.

Data dari organisasi Yesh Din memperkuat indikasi impunitas ini: tidak ada satu pun warga Israel yang didakwa atas pembunuhan warga Palestina sejak Oktober 2023.

Kisah Tragis Lain:

  • Rimas Amuri (13 tahun): Ditembak dari belakang saat bermain di luar rumahnya di kamp pengungsi Jenin. IDF mengeklaim ia sosok mencurigakan.Namun penyelidikan B’Tselem menunjukkan tentara seharusnya bisa melihat dengan jelas bahwa ia hanyalah seorang gadis kecil dari jarak 40 meter.
  • Layla al-Khatib (2 tahun): Tewas tertembak di kepala saat duduk di pangkuan ibunya di dalam rumah. Tentara Israel melakukan penggerebekan di lingkungan tersebut menggunakan kendaraan sipil sebelum melepaskan tembakan yang menembus dinding rumah keluarga al-Khatib.

Tanggapan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara IDF menyatakan bahwa militer tidak secara sengaja menargetkan warga sipil yang tidak terlibat. Mereka mengeklaim bahwa setiap tuduhan kerugian terhadap individu yang tidak terlibat akan diperiksa dan diselidiki.

Terkait kasus Mohammad al-Halaq, Rimas Amuri, dan Layla al-Khatib, IDF menyatakan bahwa kasus-kasus tersebut saat ini sedang dalam penyelidikan oleh Divisi Investigasi Kriminal Polisi Militer. Namun, bagi keluarga korban, janji investigasi ini sering kali berakhir tanpa kejelasan hukum, memperkuat persepsi tentang normalisasi impunitas di wilayah pendudukan.

Hingga saat ini, operasi militer Israel di Tepi Barat terus meningkat dengan dalih membongkar sel teror, namun dampak kemanusiaan terhadap warga sipil, terutama anak-anak, terus memicu kecaman internasional. (The Guardian/I-2)

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Anak-Anak Palestina di Tepi Barat Jadi Sasaran Israel tanpa Akuntabilitas
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us