1. News
  2. Berita
  3. Bookfluencer Lagi Naik Daun, Bisakah Minat Baca dan Ekosistem Buku Ikut Tumbuh?

Bookfluencer Lagi Naik Daun, Bisakah Minat Baca dan Ekosistem Buku Ikut Tumbuh?

bookfluencer-lagi-naik-daun,-bisakah-minat-baca-dan-ekosistem-buku-ikut-tumbuh?
Bookfluencer Lagi Naik Daun, Bisakah Minat Baca dan Ekosistem Buku Ikut Tumbuh?

Membaca buku | Unsplash | ClayBanks


Kehadiran bookfluencer atau pembuat konten buku di media sosial, dinilai dapat menumbuhkan minat baca di tengah rendahnya tingkat literasi masyarakat khususnya pada generasi muda.

Menurut Meinia Prasyesti Kurniasari, dosen Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga (UNAIR), para bookfluencer ini tanggap dan kreatif dalam menggunakan teknologi digital, sehingga aktivitas membaca lebih dipandang sebagai kegiatan yang menyenangkan (pleasure reading).

“Karena mereka responsif dan inovatif dalam pemanfaatan teknologi digital, mereka berhasil menggeser pandangan masyarakat dari aktivitas membaca yang membosankan menjadi aktivitas membaca yang menyenangkan. Sehingga hal ini secara simultan dapat membangun minat atau ketertarikan membaca bagi generasi muda,” tuturnya.

Meski demikian, terdapat kekhawatiran soal akses masyarakat terhadap bahan bacaan karena harga buku di Indonesia tergolong mahal. Meinia mencatat bahwa tren bookfluencer di media sosial belum sejalan dengan pembelian buku.

Apa saja yang membuat buku terasa mahal, dan bagaimana akses bacaan bisa diperluas?

Bahan Baku Impor dan Skala Prioritas Jadi Tantangan

Ali Zaenal Abidin, Chief Executive Officer (CEO) Mizan Content and Publishing Group, menjelaskan bahwa pemangkasan pajak royalti penulis memang telah disambut positif oleh para pemangku kepentingan di sektor penerbitan. Namun, beban penerbit masih terasa berat dari segi biaya produksinya.

Selain itu, kondisi geopolitik yang belum kondusif turut berdampak pada sektor ini sehigga membuat biaya produksi meningkat yang diperkirakan sekitar 5 persen.

Meskipun angka tersebut masih berupa perkiraan dan belum menjadi keputusan pasti, pihaknya berusaha agar kenaikan itu tidak signifikan.

Di sisi lain, daya beli masyarakat terhadap buku memang masih terbatas. Sebelum nilai dolar AS menguat terhadap rupiah, buku lebih dipandang sebagai keinginan yang dapat dipenuhi setelah kebutuhan dasar terpenuhi.

Karena ketika masyarakat diberikan pilihan antara membeli buku atau memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka cenderung akan memprioritaskan kebutuhan pokok terlebih dahulu.

“Kami berusaha agar harga naik tidak signifikan karena purchasing power masyarakat enggak setinggi itu juga. Buku, sebelum nilai dolar AS terhadap rupiah naik, belum menjadi kebutuhan, masih berupa keinginan. Uang lebih (untuk beli buku) setelah kebutuhan dasar terpenuhi, itu angkanya enggak besar,” ujar Ali.

Di luar biaya produksi, peredaran buku bajakan secara masif juga menjadi kerugian yang dialami oleh penulis secara langsung. Selain kehilangan potensi royalti, buku bajakan beredar dengan harga yang jauh di bawah harga asli.

“Penulis-penulis sangat mengharapkan ini ditertibkan. Bayangkan saja, mereka bisa terbitkan buku, tetapi tidak mendapatkan sama sekali royalti karena bukunya dibajak. Ini buat penulis jadi berisiko sangat tinggi. Buku bajakan ada di mana-mana, jauh dari harga yang ditetapkan dan merusak pasar,” jelas Harry Waluyo, seorang praktisi budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

Sehingga hal ini memperkuat anggapan dari masyarakat bahwa membeli buku resmi terlalu mahal dan membuat sebagian orang jadi membenarkan untuk mengonsumsi buku bajakan.

Menyehatkan Ekosistem dari Hulu ke Hilir

Menurut Arys Hilman, Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), sektor ini dinilai masih membutuhkan penyehatan ekosistem secara menyeluruh meskipun pemangkasan pajak royalti dapat membantu penulis pada level tertentu,

“Tentu pengurangan pajak akan membantu penulis dalam level tertentu. Namun, untuk sampai pada tingkat pertumbuhan dan sustainability, kita akan memerlukan penyehatan ekosistem secara menyeluruh. Hal terpenting justru pada aspek demand,” ungkap Arys

Untuk menciptakan ekosistem yang sehat, pemerintah perlu memberi perhatian lebih pada upaya meningkatkan minat baca menjadi kebiasaan. Karena pada dasarnya masyarakat sudah memiliki minat baca, tetapi akses dan pembinaan kebiasaan membaca inilah yang masih terbatas.

“Ikapi percaya minat baca itu ada, tetapi keterbatasan akses baca dan kekurangan upaya pembinaan kebiasaan baca membuat minat baca itu jalan di tempat,” tegas Arys.

Di sisi lain, Meinia juga mengapresiasi upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah melalui Perpustakaan Nasional dalam membentuk budaya membaca hingga tingkat desa meski implementasinya belum maksimal di setiap desa.

Karena itu, diperlukan sinergi dari berbagai pihak mulai dari pemerintah, komunitas literasi, hingga bookfluencer untuk membangun budaya literasi yang berkelanjutan. Melalui konten tentang buku dan aktivitas membaca, bookfluencer dapat membuat membaca lebih dekat dan menarik bagi masyarakat.

“Budaya membaca itu tidak terbentuk secara instan. Ada tahapannya, mulai dari minat baca, perilaku membaca, kebiasaan membaca, hingga akhirnya menjadi budaya membaca,” pungkasnya.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Bookfluencer Lagi Naik Daun, Bisakah Minat Baca dan Ekosistem Buku Ikut Tumbuh?
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us