1. News
  2. Berita
  3. Bukan Cuma Penahan Abrasi, Riset Ungkap 9 Mangrove Aceh Berpotensi Jadi Obat

Bukan Cuma Penahan Abrasi, Riset Ungkap 9 Mangrove Aceh Berpotensi Jadi Obat

bukan-cuma-penahan-abrasi,-riset-ungkap-9-mangrove-aceh-berpotensi-jadi-obat
Bukan Cuma Penahan Abrasi, Riset Ungkap 9 Mangrove Aceh Berpotensi Jadi Obat

Hutan mangrove di Indonesia menyimpan potensi untuk kesehatan, pangan, hingga mata pencaharian masyarakat pesisir. Penelitian di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, menemukan sembilan jenis tumbuhan mangrove yang secara tradisional dimanfaatkan masyarakat untuk membantu mengatasi berbagai keluhan kesehatan. 

Sejumlah tumbuhan tersebut juga mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan obat.

Penelitian berjudul Species Composition and Medicinal Uses of Mangrove Plants in Southwest Aceh, Indonesia yang diterbitkan dalam Biodiversitas Journal of Biological Diversity pada Maret 2026 mengidentifikasi sembilan tumbuhan mangrove yang dimanfaatkan masyarakat di Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, Aceh.

Peneliti dari Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Alin Fithor, menjelaskan bahwa sembilan tumbuhan tersebut terdiri atas tujuh mangrove sejati dan dua tumbuhan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove.

Tujuh jenis mangrove sejati itu adalah Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, dan Sonneratia caseolaris. Adapun dua tumbuhan asosiasinya adalah Acanthus ilicifolius dan Nypa fruticans atau nipah.

Masyarakat setempat memanfaatkan bagian tumbuhan, terutama daun dan buah, untuk membantu mengatasi sejumlah keluhan, seperti memar, luka bakar, demam, diare, gatal-gatal, sakit perut, sariawan, dan sakit gigi.

“Salah satu tanaman yang dimanfaatkan masyarakat adalah Rhizophora apiculata atau bakau. Masyarakat menggunakan bagian daun dan buahnya untuk membantu mengatasi sariawan, sakit gigi, dan luka,” ungkap Alin dalam keterangan BRIN pada 24 Oktober 2026.

Sementara itu, Rhizophora mucronata dimanfaatkan secara tradisional untuk membantu mengatasi diare, sakit perut, dan luka pada kulit.

Penelitian tersebut juga mencatat kandungan senyawa bioaktif, seperti alkaloid, fenolik, steroid, terpenoid, flavonoid, dan saponin. Kelompok senyawa ini memiliki potensi aktivitas biologis, termasuk antibakteri, antijamur, antiinflamasi, dan antikanker. 

Meski demikian, keberadaan senyawa tersebut belum otomatis membuktikan bahwa tumbuhan mangrove efektif dan aman digunakan sebagai obat pada manusia. Pengujian farmakologis lebih lanjut diperlukan untuk memvalidasi manfaatnya.

Habitat Mangrove Indonesia yang Beragam

Potensi tersebut berkaitan dengan tingginya keanekaragaman mangrove Indonesia. Artikel Karakteristik Habitat Mangrove di Indonesia yang diterbitkan Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur pada 24 Februari 2025, mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2023, menyebutkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 3,36 juta hektare mangrove atau 24 persen dari luas mangrove global.

Indonesia juga memiliki 202 jenis tumbuhan mangrove, termasuk 43 jenis mangrove sejati. Tumbuhan ini umumnya berkembang di kawasan pesisir tropis, terutama muara sungai, delta, dan laguna.

Karakter habitatnya dipengaruhi oleh kondisi substrat, salinitas, pasang surut, serta ketersediaan air tawar. Avicennia marina, misalnya, dapat tumbuh pada lumpur dalam dengan salinitas tinggi. Sementara itu, Sonneratia caseolariscenderung ditemukan di tepian sungai dan muara dengan salinitas rendah serta pasokan air tawar.

Sebagian jenis juga mampu tumbuh pada substrat berpasir, berbatu, atau berkarang. Perbedaan kondisi tersebut memengaruhi persebaran jenis mangrove dan pembentukan zonasi vegetasi di sepanjang pesisir.

Keanekaragaman habitat ini penting untuk dipertahankan karena setiap jenis memiliki karakter ekologis dan potensi pemanfaatan yang berbeda.

Mangrove Menopang Kehidupan Masyarakat Pesisir

Nilai mangrove juga berkaitan erat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Riset CIFOR-ICRAF yang dipublikasikan pada 2022 melalui proyek Restoring Coastal Landscape for Adaptation Integrated Mitigation(ReCLAIM) mengkaji kontribusi mangrove terhadap mata pencaharian, ketahanan pangan, dan gizi masyarakat di Banyuwangi dan Demak.

Penelitian tersebut melibatkan hampir 800 rumah tangga nelayan mangrove. Hasilnya, sebanyak 85 persen responden merupakan nelayan mangrove yang menjadikan kegiatan menangkap ikan di kawasan tersebut sebagai pekerjaan utama. Sekitar 60 persen responden juga menyebutkan bahwa ikan dan hewan air lain untuk konsumsi mereka berasal dari kawasan mangrove.

Peneliti CIFOR-ICRAF, Mulia Nurhasan, menjelaskan bahwa ekosistem mangrove menyediakan habitat untuk berlindung, memijah, dan berkembang biak bagi ikan, udang, serta kepiting. Hasil tangkapan tersebut menjadi sumber protein dan zat gizi mikro bagi keluarga pesisir.

“Secara keseluruhan, hasil kami menunjukkan bahwa mangrove berkontribusi besar untuk mata pencaharian, ketahanan pangan, dan gizi masyarakat lokal,” kata Mulia.

Perlindungan habitat serta riset lebih lanjut diperlukan agar potensi mangrove dapat dikembangkan tanpa mengabaikan kelestarian ekosistem dan kebutuhan masyarakat yang bergantung padanya.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Bukan Cuma Penahan Abrasi, Riset Ungkap 9 Mangrove Aceh Berpotensi Jadi Obat
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us