Sebagai orang Semarang yang setiap hari dijemur cuaca panas, Lembang menempati posisi istimewa di memori saya. Dulu, bayangan saya tentang tempat ini sangat klasik. Hamparan kebun teh yang menghijau dipadukan dengan udara dingin yang menusuk tulang.
Bagi banyak orang, Lembang adalah pelarian paling pas untuk sekadar healing tipis-tipis. Namun, kunjungan terakhir saya ke sana malah menyisakan tanda tanya besar. Ekspektasi menikmati kedamaian justru berbenturan keras dengan realitas lapangan.
#1 Horor di siang bolong, bertemu pocong yang berkeliaran di tengah jalan Lembang
Biasanya, pocong cuma jadi hiasan di adegan film horor. Tapi di Lembang, saya justru disuguhi pemandangan pocong jadi-jadian yang berkeliaran bebas di tengah jalan. Dan perlu saya tekankan, ini literally di tengah badan jalan. Bukan di trotoar seperti atraksi serupa yang banyak dijumpai di Jalan Asia Afrika, Bandung.
Bukannya bikin takut atau terhibur, kehadiran mereka justru lebih sering bikin saya senewen. Tingkah mereka yang sembarangan mengambil ruang jalan benar-benar bikin gregetan. Puncaknya adalah ketika mereka nekat mendekatkan wajah penuh makeup menyeramkan ke jendela mobil atau mengetuk-ngetuk kaca demi mengais recehan.
Kalau saja eksistensi mereka ditertibkan secara serius seperti di pusat kota Bandung, mungkin fenomena ini bisa jadi daya tarik wisata yang unik. Tapi di Lembang, malah mengusik kenyamanan dan bikin emosi pengendara naik saat niatnya ingin menikmati liburan.
#2 Modus bantuan di Tangkuban Perahu
Saat menapakkan kaki di Tangkuban Perahu, keramahan para penjaja terasa sangat personal. Mereka sigap menawarkan bantuan. Mulai dari memberi arahan lokasi hingga menjadi fotografer dadakan untuk wisatawan di Lembang.
Namun, ada satu fakta unik. Mereka kompak menolak pemberian uang sebagai tanda terima kasih. Lembaran rupiah yang disodorkan sebagai apresiasi ditolak mentah-mentah. Satu-satunya cara untuk membalas kebaikan mereka hanyalah dengan satu jalur. Yakni, membeli barang dagangan yang dijajakan.
Usut punya usut, peristiwa ini bukan murni bentuk kedermawanan. Tapi, siasat di tengah sistem pengelolaan destinasi yang sudah dipegang pihak swasta. Rupanya, para pedagang diwajibkan oleh pengelola untuk tetap tampil proaktif melayani pengunjung tanpa ada kompensasi sepeser pun dari pihak manajemen.
Di sisi lain, setiap tahun mereka harus merogoh kocek hanya untuk membayar biaya izin agar bisa mengais rezeki di sana. Jadi, bantuan tersebut sebenarnya adalah strategi bertahan hidup agar dagangan lebih cepat laku. Bukan sekadar keramahtamahan yang tulus tanpa motif ekonomi.
#3 Harga stroberi yang berbeda di pagi dan malam hari
Masih di daerah tersebut Tangkuban Perahu Lembang, pengalaman membeli stroberi turut meninggalkan kekecewaan. Awalnya, penawaran harga Rp35.000 per wadah atau Rp100.000 untuk tiga wadah terdengar cukup masuk akal.
Secara visual, wadah plastik tampak penuh dan menggiurkan. Bahkan rasa buahnya memang manis saat dicoba. Namun, kepuasan itu segera berganti menjadi umpatan dalam hati saat menyadari telah menjadi korban sulap pedagang.
Ternyata, volume stroberi yang tampak melimpah hanyalah ilusi optik. Bagian dasar wadah disumpal kardus dengan cukup rapi sehingga buah asli hanya mengisi lapisan paling atas. Jumlahnya pun hanya belasan butir.
Ironisnya, penyesalan terasa semakin menyesakkan ketika malam harinya mendapati harga stroberi di kawasan Lembang hanya Rp50.000 untuk tiga wadah. Yang lebih menyakitkan, wadah-wadah malam itu benar-benar transparan sampai ke dasar, tanpa ada siasat kardus yang memanipulasi kuantitas.
#4 Krisis identitas oleh-oleh di Lembang
Salah satu yang paling bikin saya tertawa adalah saat melihat deretan toko oleh-oleh. Saat mau mencari kudapan khas Lembang yang autentik, mata saya malah tertuju pada berbagai produk yang sebenarnya merupakan identitas kota lain. Bayangkan saja, di sana saya menemukan bakpia dari Jogja, almond crispy asal Surabaya, bahkan carica khas Dieng.
Satu-satunya produk yang coba mengklaim diri sebagai tuan rumah hanyalah bolu susu. Meski setelah dicicipi, rasanya tak jauh berbeda dengan kue bolu biasa yang bisa ditemukan di toko roti sudut jalan mana pun. Alhasil, niat saya membawa pulang kenang-kenangan khas malah berujung pada kebingungan.
Kunjungan ke Lembang kali ini meninggalkan pelajaran berharga bagi saya untuk tak menaruh ekspektasi setinggi puncak gunung pada sebuah destinasi yang terus dipaksa berubah oleh tren. Mungkin, sebuah tempat wisata bahkan mesti rela kehilangan jati dirinya demi tetap bernyawa in this economy.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2026 oleh