Saya mendapati album baru FSTVLST, “Paradoks Diametral”, dari seorang teman yang membawa kaset tape itu ke tempat tinggal saya. Pita magnetik berwarna cokelat gelap itu berputar pelan di dalam tape recorder tua miliknya. Lewat corong pengeras suara, saya mendengarkan lagu-lagu baru band-nya Farid Stevy. Sekarang, musiknya nyerempet ke New Wave. Selalu ada sensasi hangat tersendiri memang ketika mendengarkan kaset yang selalu gagal dihadirkan oleh kompresi audio lewat platform streaming digital. Desis tipis yang konsisten, tekstur analog yang memeluk frekuensi rendah, dan ritual fisik membalikkan kaset dari sisi A ke sisi B.
Salah satu ritual yang cukup menyenangkan ketika menikmati rilisan fisik adalah dengan membuka cover kasetnya. Di situ, kita bisa membaca langsung lirik dan siapa pencipta lagunya di sebuah kertas art print. Prosesi-prosesi semacam inilah yang mungkin tidak bisa kita dapatkan ketika mendengarkan lagu lewat platform digital.
Saat memegang mika kaset tersebut, saya menatap j-card yang tercetak rapi. Mata saya tertuju pada logo kecil di pojok bawah rilisan, “Bojakrama Press”. Saya tertegun sejenak. Ingatan saya langsung melayang ke beberapa tahun silam, ke wajah seorang kawan lama yang gigih, keras kepala, dan selalu punya antusiasme meluap-luap kalau sudah bicara soal musik: Reno Surya.
Saya kenal Reno sudah lama berkutat di kancah underground dengan berbagai proyek label independen dan band death metal-nya bernama Deathroned. Tapi, menemukan nama Bojakrama Press memegang lisensi rilisan fisik untuk nama sebesar FSTVLST memberikan kejutan manis tersendiri. Cukup kagum rasanya ada peran orang Surabaya yang mampu merilis band besar dari Yogyakarta itu.
Rasa penasaran itu akhirnya membawa saya menembus jalanan Kota Surabaya beberapa waktu kemudian. Saya berbincang dengan Reno pada Selasa malam, 9 September 2026. Meski malam telah jatuh di Surabaya, ibu kota Jawa Timur tetap saja memiliki udara panas yang cukup nyelekit di kulit. Saya menemui Reno di toko barunya yang terletak di Jalan Pucang Anom. Letak toko itu persis di seberang salah satu kedai mi legendaris dan hanya berselisih beberapa rumah dari kediaman seorang ilustrator jagoan bernama Redi Murti.
![]()
Penampakan Bojakrama Press saat pembukaan toko 8 Mei 2026 / Dok. Amanda Putri
Bojakrama Press resmi mempunyai toko baru di Jalan Pucang Anom Nomor 100 pada 8 Mei 2026 lalu. Sebelumnya, outlet toko mereka nyempil di sebuah perpustakaan dan coworking space bernama C2O Library & Collabtive. Mampu mempunyai toko yang bisa dijadikan rumah sendiri, menurut Reno, lebih efisien untuk menyimpan stok-stok rilisan yang membutuhkan ruangan yang cukup besar. Dengan memiliki toko sendiri, mereka juga bisa lebih leluasa dan memberi kenyamanan kepada pengunjung yang hendak datang langsung.
Kami pun ngobrol di dalam ruangan yang sejuk oleh hembusan AC. Berlatar rak-rak kayu yang dipenuhi piringan hitam dan kaset pita, kaus band, dan buku. Sambil diselingi tawa dan ingatan-ingatan konyol masa lalu, Reno membeberkan kisah panjang di balik lahirnya Bojakrama Press. Sebagai sesama orang Jawa Timur dan saya yang pernah tinggal cukup lama di Surabaya, obrolan kami pun lompat-lompat terbawa suasana.
Reno pun berkisah bahwa Bojakrama Press tidak mendadak lahir sebagai label piringan hitam kelas berat seperti sekarang. Akar keberadaannya justru tumbuh dari kancah gigs independen di Surabaya pada kisaran tahun 2016. Bojakrama sebetulnya adalah nama gigs dari satu kolektif yang diberi nama Rumah Gemah Ripah. Karena nama itu sudah terlalu melekat, nama tersebut pun akhirnya mereka pilih sebagai nama record label.
“Awal mulanya nama itu dari nama gigs dari kolektif kami yang namanya Rumah Gemah Ripah, Bojakrama iku nama event-nya. Nama tersebut dikasih sama Mas Angga yang punya Cempaka Music Store Ketintang. Nama Bojakrama itu diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti berpesta dengan makan minum,” kenang Reno.
Lelaki yang sejak saya kenal selalu konsisten dengan rambut gondrong ini menjelaskan bahwa awal mula pergerakan ini mereka dimentori oleh Anitha Silvia. Para anggota Rumah Gemah Ripah saat itu kebanyakan adalah para pemuda yang masih belum tamat kuliah. Gerombolan ini saat itu suka dan sering nongkrong di C2O. Mereka adalah Anitha Silvia, Erlangga Irawan, Lutfian Kadarusman, Fikri Izza, Hariz Ghiffari, Hendy Wardhana, Adi Fikri, Kristian Tanjung, Axel Simon, Reno Surya, Agus Egha Pamungkas, dan Septian Dwi Satria. Tiga nama terakhir yang disebut adalah sosok yang mempelopori berdirinya Bojakrama Press. Formasi bertiga ini, dengan segala dinamikanya, masih bertahan hingga sekarang, meski juga masih didukung oleh banyak pegiat musik di Surabaya lainnya.
Proyek gigs yang dibuat secara mandiri ini, disampaikan Reno, juga setelah mereka semua terlibat sebagai relawan di festival desain independen bernama DIYSub di Kebun Binatang Surabaya pada 2015. Semangat yang diusung saat itu terbilang nekat, namun heroik. Saat itu, mereka membuat eksperimen panjang untuk membuat panggung musik mandiri yang bersih dari sokongan dana korporasi atau sponsor rokok. Di awal-awal Bojakrama, gigs tersebut merupakan wadah untuk band-band luar kota yang ingin manggung di Surabaya.
“Karena waktu itu kan trennya semua gigs dapat sokongan korporasi dan gratis. Orang jadi nggak punya kultur membayar tiket. Akhirnya kami mencoba memberikan kesadaran itu lewat Bojakrama, sekalian juga gigs ini menjadi tempat singgah untuk band-band luar kota yang sedang tour,” ucapnya.
Saya turut hadir dalam gelaran gigs perdana yang mereka adakan. Bojakrama Volume 1 saat itu diadakan di Kaya Resto dengan pengisi Silampukau, Baragula, Hawk, dan grup math rock asal Malaysia bernama Dirgahayu. Acara yang diadakan pada Februari 2016 itu tentu belum seramai sekarang. Mini gigs di sebuah resto kecil di daerah Jemursari itu hanya didatangi beberapa teman musisi dan segelintir pengunjung umum. Berbeda dengan Bojakrama gigs yang saat ini sudah mencapai Volume 30 dan sangat ramai serta penuh. Meski hanya memantau dari media sosial dan beberapa obrolan tongkrongan, saya melihat Bojakrama merupakan salah satu gigs yang cukup ditunggu di Surabaya karena selalu segar.
Usaha heroik membuat gigs secara mandiri tentu tidak semudah yang kita bayangkan. Di awal-awal pergerakan mereka, gigs mereka selalu nombok. Terlebih, para lelaki Surabaya ini juga selalu memberi pelayanan maksimal kepada tamu band yang ingin berjalan-jalan dan makan enak. Kultur Surabaya yang selalu memuliakan tamu terus dipegang teguh oleh Bojakrama. Suatu hal yang sangat baik, meski sering berakhir dengan kerugian finansial yang teramat gede.
Idealisme dalam mengorganisir pertunjukan independen saat itu selalu berbenturan dengan realitas finansial. Boncos alias rugi adalah makanan sehari-hari. Dari sanalah titik balik itu muncul.
“Kenapa kita bikin label? Kan setiap bikin acara itu selalu boncos, karena nambahinnya memakai uang sendiri. Nah, label ini awalnya gunanya untuk subsidi silang gigs itu,” ucap Reno dengan dialek Jawa Timuran yang kental.
Upaya untuk membuat label ini awalnya bisa dibilang sebagai siasat bagaimana mengakali keuangan kolektif yang terus nombok. Reno saat itu sudah mempunyai record label mandiri, yaitu Reaping Death Records, yang berfokus di ranah punk dan extreme metal. Bersama Septian, ia juga turut membuat record label Maldoror Manifesto yang identik dengan band-band kontemporer. Reno saat itu telah mendapat pelajaran berharga dalam mengelola record label setelah sukses merilis album vinil dari Grave Dancers dalam album Morbid Nation dan Kelelawar Malam – Jalan Gelap. Reno mendapat akses untuk membuat piringan hitam di Taiwan saat itu dari Herry Sutresna a.k.a. Ucok Homicide.
“Kelelawar Malam waktu iku cetak 200 keping, 2 jam langsung sold out! Saat itu belum pakai website, pembayaran masih pakai Google Drive, dan sambil nge-chat pembeli satu-satu,” kenangnya sambil terkekeh.
Pengetahuan dan jejaring itulah yang kemudian ditarik ke dalam Bojakrama Press sekitar 2024, ketika Reno, Ega, dan Septian memutuskan untuk melebarkan cakrawala musik yang mereka rilis ke luar ranah metal dan punk. Langkah pertama Bojakrama Press sebagai label rekaman ditandai dengan sebuah keputusan berani: merilis album Godsigma milik unit indie rock kawakan Jakarta, Sajama Cut, dalam format piringan hitam 12 inci pada awal 2024. Rilisan perdana yang dicetak terbatas 100 keping itu ternyata ludes hanya dalam kurun waktu seminggu.
Kesuksesan tersebut menjadi katalis bagi keran diskografi Bojakrama Press yang semakin deras dan variatif. Diskografi mereka pun semakin lama memuat deretan nama penting dalam peta musik independen Indonesia. Di antaranya adalah Majelis Lidah Berduri, Morfem, The Jansen, Banda Neira, Kuntari, The Jeblogs, Jirapah, FSTVLST beserta Jenny-nya, dan tentu saja jagoan Surabaya, yaitu Silampukau. Saat perilisan piringan hitam untuk album Jenny – Manifesto bahkan diadakan cukup spesial dengan membuat special show “Manifesto Jenny di ASRI” di panggung Artjog Performance. Pertunjukan spesial itu dibuat dengan bekerja sama dengan unit usaha Cherrypop Festival pada 2025 lalu.
Seiring bertambahnya katalog, operasional Bojakrama pun jadi berpindah-pindah. Toko mereka sebelumnya di C2O Library & Collabtive mulai tidak cukup untuk menampung stok piringan hitam yang segudang. Stok melimpah saat itu pun hanya dititipkan di kamar kos milik kawan. Selebihnya tentu dibawa ke rumah masing-masing sembari mendapat bonus omelan dari orang tua masing-masing.
Sembari unit bisnis produksi terus berjalan, mereka bertiga pun terus mencari rumah baru yang mampu menampung kebutuhan mereka. Hingga akhirnya, dapatlah rumah di daerah Pucang setelah mendapat tawaran dari salah seorang pemilik rumah yang masih merupakan rekanan mereka sendiri.
“Di momen Bojakrama ini, kami sering merasa terharu,” ucap Reno pelan. “Band-band yang mulanya kami idolakan dari kecil hingga remaja, lalu bisa kenal dan kerja sama, memperlakukan kami sebaik itu. Nggak melihat kami cuma sebagai anak kecil atau sekadar ‘arek Suroboyo’.”
![]()
Diskografi Bojakrama / Dok. Amanda Putri
Tapi, menjalankan label rekaman independen seperti ini nyatanya bukan sekadar urusan memilih band keren lalu mencetak rilisan fisik sebanyak-banyaknya. Di balik estetika piringan hitam yang dipajang di rak toko itu ada labirin birokrasi dan kendala finansial yang siap mencekik leher kapan saja. Mulai dari tata kelola royalti yang mesti transparan hingga urusan pajak yang ruwet. Bagi Reno, menjaga keberlangsungan label berarti harus siap berhadapan dengan perhitungan rasional: memastikan persentase royalti band terbayar adil tanpa bikin label gulung tikar, sembari menavigasi pajak usaha yang sering kali gamang membaca ruang gerak entitas budaya independen.
Namun, ujian paling menguras emosi dan kantong justru datang dari pintu gerbang logistik, yaitu bea cukai. Mengingat Indonesia belum memiliki fasilitas cetak vinil lokal berskala tinggi, Bojakrama saat ini masih harus mengimpor hasil cetakan piringan hitam dari pabrik yang ada di China. Reno menceritakan momen mendebarkan ketika ratusan keping stok vinyl baru mereka mendadak tertahan di bea cukai bandara. Barang yang seharusnya siap didistribusikan kepada para pemesan justru terkunci di gudang karantina akibat alotnya pemeriksaan klasifikasi barang impor, pengurusan dokumen izin, hingga lonjakan besaran tarif bea masuk yang tak terduga.
“Momen pas vinyl ditahan di bandara iku bener-bener ngetes mental. Waktu itu soalnya juga bertepatan mau Lebaran. Barang sudah siap dipacking dan mau dikirim, eh tapi nyandet di bandara,” tutur Reno mengenang situasi pelik tersebut. Masalah ketika barang tertahan bukan cuma soal barang tersebut tidak bisa diambil. Lebih dari itu, mereka harus terus membayar biaya simpan di gudang yang terus berjalan. Semakin lama barang di gudang, mereka harus terus membayar, yang biayanya bisa dibilang tidak murah.
Ketika barang tertahan, biaya penumpukan di gudang terus berjalan, sementara tekanan dari para pembeli yang sudah melakukan pre-order terus berdatangan. Drama birokrasi Bea Cukai dan urusan pajak impor ini menjadi bukti betapa mahalnya harga yang harus dibayar demi sebuah rilisan fisik di Indonesia. Permasalahan bea cukai yang masih belum pasti di Indonesia merupakan suatu masalah yang saat ini belum ada juntrungannya.
Dalam bekerjanya, Reno merasa beruntung karena mendapatkan lingkaran yang sangat suportif. Mereka saat ini juga didukung oleh para scenester Surabaya yang turut membantu operasional Bojakrama. Untuk masalah editing dan layouting, mencetak cover, mengurus merchandise, pengemasan, pengiriman, hingga penjaga toko, mereka bisa mempekerjakan para pegiat musik Surabaya yang kebanyakan dari skena New Wave dan hardcore punk. Reno mendapat porsi lebih untuk masalah tekstual, kurasi, dan relasi. Sementara Septian mendapat tugas untuk visual dan media sosial. Lalu, Ega kebagian mengerjakan perpajakan, administrasi, dan distribusi. Meski begitu, mereka bertiga pun sampai saat ini masih saling mengisi dan semua dilakukan secara kekeluargaan.
Ditanya mengenai alasan ideologis soal mengapa membuat record label semacam ini, Reno mengungkapkan bahwa memang ia sedari kecil merupakan pecinta rilisan fisik, terlebih dalam bentuk pelat. Berawal dari dipapari oleh keluarganya, lalu remaja mulai mengoleksinya sendiri.
“Cukup sayang, kan, band yang aku sukai nggak punya rilisan fisik, dan kalau punya pun kadang-kadang dibuat hanya sedikit dan kurang oke. Jadi merilis album dalam format piringan hitam ini juga bagian dari kecintaanku pada band yang aku sukai,” ucapnya.
Obrolan kita pun berlanjut ngalor-ngidul layaknya kawan lama sedang bertemu. Reno mengungkapkan dalam waktu dekat, Bojakrama akan merilis album pertama Superman Is Dead sebelum mereka masuk major label dan tentu akan membuat gigs-gigs yang lebih seru. Bercandaan kita pun bahkan mulai nyerempet ke Log Zhelebour yang di era lampau terkenal sebagai bohir produser musik Indonesia asal Surabaya.
Di tengah gempuran tren digital yang serba cepat dan instan, pilihan Bojakrama untuk bertahan di jalur rilisan fisik bisa dibilang bukanlah sekadar nostalgia buta. Mereka bisa jadi sedang menjalankan sebuah bentuk perlawanan kebudayaan. Ketika platform streaming menyajikan musik sebagai komoditas latar belakang yang diputar sekelebat, rilisan fisik memaksa pendengar untuk kembali berhenti sejenak. Ada ketakziman yang dihadirkan saat jari-jari kita meraba sampul art print, membaca deretan teks lirik, hingga menempatkan jarum pemutar ke atas permukaan piringan hitam.
Reno, Ega, dan Septian telah membuktikan bahwa ruang gerak dari luar ibu kota sama sekali bukan alasan untuk mengecilkan mimpi. Dari kancah gigs mandiri yang kerap berakhir boncos hingga perjuangan menembus kerumitan bea cukai dan urusan pajak, Bojakrama tumbuh bukan dari modal raksasa, melainkan dari dedikasi dan kolektivisme ala arek Suroboyo. Toko baru mereka di Jalan Pucang Anom Nomor 100 kini berdiri tegak sebagai bukti nyata bahwa kerja keras yang didasari rasa cinta pada musik akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk mekar dan bertahan. Mereka tidak sekadar menjual barang dagangan koleksi, melainkan merawat ruang lingkar emosional antara musisi dan pendengarnya.
Malam semakin larut ketika saya hendak mengakhiri obrolan. Hawa panas Surabaya memang selalu terasa menyengat kulit, tetapi ada kehangatan tersendiri yang membekas di dada. Entah kelak Reno Surya dkk. akan benar-benar diselorohi sebagai “Log Zhelebour” era modern atau tidak, satu hal yang pasti: selama masih ada orang-orang keras kepala seperti mereka yang rela babak belur demi merawat rilisan fisik, nyala api musik independen di Tanah Air akan terus menyala.
Kini, setiap kali kaset Paradoks Diametral milik FSTVLST itu berputar di kamar saya dan suara desis analognya memenuhi ruangan, saya tidak lagi hanya mendengarkan lagu. Saya melihat bayangan perjalanan panjang Reno, Ega, Septian, dan jejaring kolektif Surabaya yang tak pernah lelah. Selalu ada hormat untuk mereka yang membawa musik Indonesia ke taraf yang lebih baik. Yah, mereka telah berhasil membuat musik bisa tetap hidup secara utuh—bukan sekadar sebagai gelombang sonik yang masuk ke kuping, melainkan sebagai benda berjiwa yang bisa disentuh dan dikenang.
Foto cover oleh Ivan Darski.