Wartapalaindonesia.com, PAREPARE-ENREKANG-BONE – Mahasiswa Pecinta Alam Sunan Ampel (MAPALSA) UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) menyelanggarakan Pendidikan Lanjutan (Dikjut) XXXIII untuk para anggotanya selama dua minggu pada pertengahan Agustus 2026 lalu.
Mapalsa UINSA mengintegrasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi ke dalam Dikjut tersebut.
Selain berkumpul saling menyemangati antaranggota dan organisasi Mapala setempat, kegiatan kemudian ditambahkan aktivitas riset Sosiologi Pedesaan (Sosped) di Tana Toraja, penerapan Navigasi Darat (Navdar) di Pegunungan Latimojong, hingga aksi penguatan silaturahim bersama masyarakat adat di Parepare dan Bone.
Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara pemberangkatan di Surabaya pada Minggu (9/8/2026). Tim bertolak melalui jalur laut dan tiba di Pelabuhan Makassar pada Selasa (11/8/2026). Kedatangan tim disambut hangat oleh rekan-rekan MAPALA UIN Parepare.
Baru pada Kamis (13/8/2026), Kegitan utama dimulai. Tim Dikjut XXXIII melakukan riset Sosiologi Pedesaan (Sosped) di kawasan cagar budaya UNESCO, Kete Kesu, Tana Toraja.
Seluruh peserta Dikjut berinteraksi langsung dengan warga lokal, pedagang suvenir, pemandu wisata, hingga ASN keturunan suku asli Toraja.
Achmad Fauzi, salah seorang anggota tim Dikjut XXXIII menyatakan riset dilakukan dengan wawancara khusus bersama Ketua Yayasan Kete Kesu, Layuk Sarungallo (80). Sosok tersebut menekankan pentingnya pendidikan serta peran generasi muda dalam menjaga warisan leluhur.
“Melalui wawancara dan pengamatan lapangan, tim mendalami eksotisme budaya Land of Heavenly Kings. Suku Toraja menganut kepercayaan asli Aluk Todolo—kepercayaan pada tiga unsur: dewa-dewa, leluhur (To Membali Puang Tu Todoli), dan Tolindo (pemujaan bumi).
Orientasi rumah Tongkonan yang berbentuk perahu layar terinspirasi dari asal-usul nenek moyang yang datang dari Pulau Pongko. Tim juga mempelajari simbol adat seperti susunan tanduk kerbau penanda strata upacara kematian, arah orientasi bangunan, hingga kain Sarita (titian ke surga),” ujarnya.
Usai kegiatan di Toraja, tim melanjutkan perjalanan menuju kaki Gunung Latimojong, Kabupaten Enrekang.
Pada Sabtu (15/8/2026), aplikasi Navigasi Darat (Navdar) resmi dimulai. Tim menyusuri rute sejauh 3 kilometer di pemukiman warga, melintasi jembatan Pintu Rimba, hingga memasuki vegetasi lebat hutan lumut khas Sulawesi.
Tim mendirikan perkemahan malam pertama di Pos 5 karena keterbatasan sumber air dan kondisi yang mulai gelap.
Keesokan harinya, perjalanan berlanjut menembus Buntu Tillok (gunung berbentuk paruh burung dengan ketinggian ±3.026–3.037 mdpl) dan Puncak Tinabang (3.220 mdpl). Pada Minggu (16/8/2026) pukul 17.30 WITA, tim berhasil menggapai Puncak Rante Mario (3.478 mdpl) dan disambut panorama matahari terbenam di atas awan. Perjuangan keras sejak masa pra-dikjut terbayar tuntas di titik tertinggi Pulau Sulawesi tersebut.
Rangkaian Dikjut XXXIII ditutup pada Rabu (19/8/2026).
Tim menyempatkan diri berkunjung ke Museum La Pawawoi di Jalan K.H. Thamrin No. 9 Watampone, Tanete Riattang—bangunan bersejarah yang merupakan bekas Istana Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim (Raja Bone ke-XXXII).
Di sana, tim memperluas wawasan mengenai sosok Arung Palakka (La Tenri Tatta), Sultan Bone ke-15 yang memimpin pada tahun 1672–1696.
Setelahnya, Tim bertolak kembali melalui jalur darat menuju Pelabuhan Makassar pada Minggu (23/8/2026). Tim akhirnya tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dengan selamat pada Senin (24/8/2026).
Rachmah Hidayati, anggota Litbang Mapalsa UINSA mengatakan antusiasnya telah merampungkan Dikjut XXXIII.
“Melalui penuntasan Dikjut XXXIII ini, MAPALSA UIN Sunan Ampel Surabaya tidak hanya memantapkan kompetensi teknis kepencintaalaman anggotanya, tetapi juga terus merawat tradisi keilmuan, kepedulian lingkungan, wawasan sejarah-budaya, serta semangat persaudaraan antarorganisasi pecinta alam di Indonesia,” tandasnya. (*)
Kontributor || Humas Mapalsa UINSA
Editor || Danang Arganata, WI 200050
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)