
Sebanyak 1.239 warga Kota Tasikmalaya terindikasi positif mengidap penyakit tuberkulosis (TB). Dari jumlah tersebut, 18 orang di antaranya terdeteksi menderita tuberkulosis yang resistan terhadap banyak obat atau dikenal sebagai TB MDR (Resisten Obat/RO). Lonjakan kasus ini memicu perhatian serius dari Dinas Kesehatan setempat, terutama terkait penanganan pasien yang kebal terhadap antibiotik.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Suryaningsih, mengungkapkan bahwa peningkatan kasus TB sensitif obat di wilayahnya tergolong signifikan. Angka 1.239 pasien positif tersebut didapatkan berdasarkan hasil skrining masif yang dilakukan oleh pihak kesehatan.
“Kasus Tuberkulosis merupakan penyakit bakteri menular yang berpotensi serius mempengaruhi paru-paru dan menyebar saat orang terinfeksi batuk atau bersin. Namun, untuk TB RO, gejalanya serupa tetapi penanganannya lebih kompleks karena bakteri sudah kebal terhadap dua jenis obat antibiotik,” ujar Suryaningsih, Minggu (5/7/2026).
Penyebab dan Gejala TBC MDR
Suryaningsih menjelaskan bahwa 18 pasien TB MDR saat ini sedang dalam penanganan khusus. Secara medis, TB RO ditandai dengan kondisi penderita yang tidak kunjung membaik, bahkan bertambah parah, meskipun sudah menjalani pengobatan rutin selama enam bulan. Munculnya resistensi obat ini umumnya disebabkan oleh ketidaktuntasan pasien dalam menjalani masa pengobatan awal.
Adapun gejala yang dialami pasien TB MDR meliputi:
- Demam dan menggigil.
- Batuk berdahak hingga batuk berdarah.
- Nyeri di dada dan sulit bernapas.
- Berkeringat dingin pada malam hari.
- Penurunan nafsu makan dan berat badan secara drastis.
- Kelelahan yang berlebihan.
Langkah Penanganan dan Pencegahan
Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya terus berupaya menekan penyebaran dengan memberikan pengobatan intensif menggunakan isoniazid dan rifampisin. Saat ini, ribuan pasien lainnya masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit. Data menunjukkan bahwa penyebaran penyakit ini didominasi oleh kelompok usia produktif dan lansia.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk memperketat disiplin pola hidup bersih dan sehat (PHBS). “Kami meminta masyarakat memakai masker, menghindari kontak dengan penderita, menjaga pola makan seimbang, dan rajin berolahraga,” tambah Suryaningsih.
Selain itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala sangat disarankan agar potensi penularan dapat dideteksi sedini mungkin. Mengingat sifat penyakit TB dan TB RO yang menular, kedisiplinan pasien dalam menuntaskan pengobatan menjadi kunci utama agar tidak terjadi kasus resistensi obat yang lebih luas di masyarakat. (H-2)