Jauh sebelum kawasan Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, ramai oleh kendaraan dan wisatawan, hutan di kaki Gunung Gede Pangrango telah menjadi habitat berbagai jenis burung. Salah satunya Ekek Keling Sunda atau Ekek Geling Jawa (Cissa thalassina), burung endemik Jawa yang sejak lama dikenal melalui suara khasnya.
Catatan jurnal ornitologi Limosa pada 1950 menggambarkan Ekek Keling Sunda sebagai penghuni hutan primer di sekitar Cibodas. Burung ini tidak selalu mudah ditemukan, tetapi pada waktu tertentu dapat diamati setiap hari. Beberapa individu biasanya bergerak bersama dan kerap bergabung dengan kawanan burung campuran.
Habitatnya berada di hutan lebat dan tidak terlalu tinggi dari permukaan tanah. Salah satu petunjuk keberadaannya adalah suara yang keras dan khas. Catatan tersebut menggambarkan suara Ekek Keling Sunda seperti “ekkek” yang diulang-ulang, termasuk bunyi “ekkek-keuling”. Ada pula suara “hie-tie-tjiet” serta “truut-truut-truut” atau “ruut-uut”.
Dari suara “ekkek-keuling” inilah nama lokal burung tersebut dikenal. Catatan sejarah itu sekaligus menunjukkan bahwa Ekek Keling Sunda telah lama menjadi bagian dari ekosistem hutan pegunungan Jawa Barat.
Burung dengan warna yang khas
Ekek Keling Sunda tidak hanya menarik perhatian karena suaranya. Arsip Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch-Indie pada 1886 bahkan menyebutnya sebagai salah satu burung paling indah dalam avifauna Jawa.
Tubuhnya memiliki perpaduan warna hijau dan biru muda. Bagian kepala, perut, dan sisi tubuh berwarna hijau mencolok, sementara bagian sayap memiliki kombinasi biru-hijau, cokelat kemerahan, dan zaitun. Ekornya berwarna biru kusam dengan tangkai bulu hitam.
Ciri khas lainnya terdapat pada bagian wajah berupa garis hitam lebar yang bermula dari sekitar sudut mulut, melewati area mata dan telinga, kemudian memanjang hingga bagian belakang leher.
Sebagai penghuni hutan, burung ini memiliki pola hidup yang sangat bergantung pada kondisi habitat. Makanannya terdiri atas belalang, serangga, ulat berukuran besar, tonggeret, hingga kumbang.
Sarangnya biasanya berada di hutan primer atau vegetasi yang lebat, sekitar tiga hingga enam meter dari permukaan tanah. Bentuknya menyerupai cawan dengan diameter 15–17 sentimeter dan tinggi 7–8 sentimeter. Dalam satu kali bertelur, Ekek Keling Sunda menghasilkan sekitar dua butir telur.
Populasinya terbatas, upaya pelestarian terus didorong
Kini, keberadaan Ekek Keling Sunda menjadi perhatian para pegiat konservasi. WALHI Jawa Barat mencatat burung endemik tersebut masih terpantau di sejumlah kawasan hutan, termasuk Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango.
Manager Divisi Pendidikan WALHI Jawa Barat M. Jefry Rohman mengatakan keberadaan burung ini masih dapat ditemukan di alam, meskipun jumlahnya terbatas. Kondisi tersebut membuat pengamatan terhadap Ekek Keling Sunda menjadi semakin sulit.
“Kalau di Jawa Barat itu terpantau masih ada beberapa. Cuma sulit kalau kita menjelajah atau observasi, misalnya di Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango. Masih terkadang kita bisa melihat, cuma karena jumlahnya terbatas maka interaksinya susah,” ujar Jefry.
Perkiraan populasi yang tersisa di sejumlah kawasan hutan Jawa Barat berada pada kisaran 50 hingga 250 ekor. Angka tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga hutan yang menjadi habitat spesies ini.
Menurut Jefry, perlindungan habitat merupakan bagian penting dari upaya tersebut. Hutan yang masih memiliki pepohonan dan menyediakan sumber makanan akan memberikan ruang bagi Ekek Keling Sunda untuk bertahan dan berkembang biak.
Upaya menjaga Ekek Keling Sunda juga berkaitan dengan perlindungan ekosistem hutan secara keseluruhan. Menjaga habitatnya berarti mempertahankan ruang hidup berbagai spesies lain yang bergantung pada kawasan yang sama.
“Jadi bukan hanya masalah dunia hewan, abiotik maupun biotik. Semuanya saling berhubungan. Ketika ruang hidupnya terganggu, mau tidak mau berimbas juga pada keberadaan hewan,” ujar Jefry.
Diusulkan menjadi ikon Jawa Barat
Selain perlindungan habitat, muncul pula gagasan untuk meningkatkan pengenalan Ekek Keling Sunda kepada masyarakat. Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat Tedy Rusmawan mendorong burung tersebut dijadikan ikon atau maskot daerah.
Menurut Tedy, menjadikan Ekek Keling Sunda sebagai ikon dapat membantu masyarakat mengenal sekaligus mengingat keberadaan burung endemik yang kini semakin sulit ditemukan.
“Agar orang punya ingatan terhadap burung yang sudah langka ini, yang harus tadi dijadikan ikon. Mungkin ikon daerah tertentu,” kata Tedy.
Menurutnya, pendekatan tersebut dapat dilakukan berdasarkan wilayah yang menjadi habitat burung. Kawasan Gunung Gede Pangrango, misalnya, dapat menjadi salah satu wilayah yang memperkenalkan Ekek Keling Sunda sebagai bagian dari identitas lokal.
“Kalau Jawa Barat sudah punya ikonnya, Bogor misalkan. Jadi lebih mendaerah karena itu yang spesifik di situ, di Pangrango,” ujarnya.
Tedy juga mendorong kerja sama antara pemerintah daerah, dinas terkait, aktivis lingkungan, WALHI, lembaga konservasi, dan kebun binatang untuk mendukung program pengembangbiakan secara terukur.
Bagi Tedy, upaya konservasi tidak hanya bertujuan mempertahankan jumlah individu, tetapi juga membuka peluang agar burung yang berhasil dikembangbiakkan dapat kembali ke habitat alaminya ketika kondisi sudah memungkinkan.
Menjaga agar suara “Ekkek-Keuling” tetap terdengar
Gagasan menjadikan Ekek Keling Sunda sebagai ikon juga mendapat respons positif dari WALHI Jawa Barat. Jefry menilai pengenalan yang lebih luas dapat membantu meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap satwa sekaligus lingkungan tempat hidupnya.
“Ini tentu bisa lebih luas berdampak pada situasi dan kondisi lingkungan, termasuk keberadaan hewan ini,” kata Jefry.
Kisah Ekek Keling Sunda menunjukkan bahwa pelestarian satwa endemik tidak hanya bergantung pada satu pihak. Perlindungan hutan, pencegahan perburuan, penelitian, pengembangbiakan, edukasi, dan keterlibatan masyarakat dapat berjalan bersama untuk menjaga spesies yang tersisa.
Catatan tahun 1950 tentang suara “ekkek-keuling” kini menjadi bagian dari sejarah Cibodas. Namun, suara tersebut tidak harus berhenti sebagai catatan masa lalu. Dengan habitat yang terlindungi dan upaya konservasi yang konsisten, masih ada peluang bagi Ekek Keling Sunda untuk terus bertahan di kawasan hutan Jawa Barat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News